17 Anak Tangga dan Sepiring Nasi: Perjuangan Rezky Mengais Harapan dari Puing Rumah

  • 01 Sep 2026 12:27 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - “Ko (kamu) bikin apa?”

Pertanyaan itu saya lontarkan kepada seorang anak laki-laki yang pagi itu berdiri di antara puing-puing rumah terbakar di Kompleks Palopo, Dok V Bawah, Kelurahan Mandala, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua.

Tangannya sedang sibuk mengangkat potongan besi dari sisa-sisa bangunan.

“Sa (saya) rumah tabakar (terbakar),” jawabnya.

“Ko rumah yang mana?”

Jari telunjuknya mengarah ke bawah tebing.

“Yang itu.”

“Yang mana?”

“Yang warna kuning, di sebelah rumah merah.”

Saya mengikuti arah telunjuknya.

“Oh, itu rumahmu?”

“Iya. sa rumah tabakar semua.”

Namanya Rezky. Siswa kelas satu SMP Kristus Raja Kota Jayapura.

Sehari sebelumnya, rumah yang ia tunjuk masih menjadi tempat ia pulang.

Pagi itu, yang tersisa hanya puing.

Dan Rezky datang bukan untuk mencari barang miliknya.

Ia datang mencari besi.

Rezky mengangkat besi dari puing-puing rumah

Rezky mengangkat potongan besi dari puing-puing rumahnya yang terbakar di Kompleks Palopo, Dok V Bawah, Mandala, Kota Jayapura, Selasa 1 September 2026. Besi dan benda berbahan tembaga yang masih dapat diselamatkan akan dijual untuk membeli makanan.

“Buat apa?” saya bertanya.

“Mau dijual. Uangnya nanti sa mau pakai beli makan,"

Jawaban itu sederhana.

Namun, bagi Rezky, itulah alasan ia kembali ke rumah yang telah kehilangan bentuknya.

Dari Puing Menuju Daratan

Rezky mengumpulkan besi dan benda berbahan tembaga yang masih dapat ditemukan di antara puing.

Satu demi satu ia angkat.

Kemudian dibawa menuju daratan yang lebih tinggi.

Rumah Rezky berada di kawasan tebing. Untuk membawa besi keluar dari lokasi tersebut, ia harus melewati anak tangga yang cukup terjal.

Beban besi membuat langkahnya berat.

Cuaca pagi itu juga panas.

Namun, Rezky terus berjalan.

Rezky membawa besi hasil mengais puing rumahnya menuju daratan yang lebih tinggi. Kondisi medan yang terjal membuat ia harus melewati sejumlah anak tangga sambil membawa beban besi.

Satu anak tangga.

Dua.

Terus naik.

Hingga 17 anak tangga, Rezky berhenti.

Besi yang dibawanya diletakkan.

“Saya capek, mau duduk dulu. Nanti baru lanjut lagi.”

Ia kemudian beristirahat.

Tidak lama.

Setelah tenaganya kembali, ia berdiri dan melanjutkan pekerjaan.

Begitu seterusnya.

Mengangkat besi.

Menaiki tangga.

Berhenti ketika lelah.

Kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

Dalam kondisi panas dan medan yang terjal, Rezky berulang kali mengangkat besi dari lokasi rumahnya menuju tempat pengepul.

Besi-besi yang berhasil dikumpulkan Rezky kemudian dibawa ke tempat pengepul bersama hasil yang dikumpulkan warga lainnya.

Rezky tidak menerima uang hasil penjualan secara langsung.

Uang tersebut diberikan kepada orang yang lebih tua, kemudian dibagikan sesuai berat besi yang dikumpulkan masing-masing.

Tetapi bagi Rezky, yang terpenting bukan siapa yang menerima uang itu terlebih dahulu.

Yang ia pikirkan adalah apa yang bisa dibeli dengan uang tersebut.

Makanan.

Rumah Kuning di Sebelah Rumah Merah

Sesekali, setelah lelah bekerja, Rezky duduk di atas puing-puing besi.

Ia melihat ke arah laut.

Dari ketinggian itu, rumahnya terlihat.

Atau lebih tepatnya, sisa dari rumahnya.

Saya kembali bertanya.

“Rumahmu yang mana?”

Jari telunjuk tangan kanannya kembali menunjuk.

“Itu sana.”

“Yang mana?”

“Yang itu. Rumah kuning yang habis terbakar, di sebelah rumah warna merah.”

Rezky duduk kelelahan di ketinggian

Setelah mengangkat besi dari lokasi rumahnya, Rezky beristirahat di atas puing-puing di kawasan tebing Kompleks Palopo, Dok V Bawah, Jayapura.

Ia duduk cukup lama.

Panas membuat tubuhnya lelah.

Beban besi yang diangkatnya juga tidak ringan.

Namun, tidak tampak wajah penuh kesedihan.

Ia justru terlihat seperti seorang anak yang sedang menyelesaikan pekerjaannya.

Karena masih ada besi yang harus dikumpulkan.

Masih ada sesuatu yang ingin dibawanya pulang.

Memandang Rumah yang Tak Lagi Ada

Rezky duduk memandang rumahnya yang hangus

Rezky duduk di atas puing-puing sambil memandang ke arah rumahnya yang telah hangus terbakar di kawasan Palopo, Dok V Bawah, Mandala, Jayapura, Selasa 1 September 2026.

Dari tempat duduknya, Rezky memandang rumah yang ia tunjuk sejak awal.

Rumah berwarna kuning.

Di sebelah rumah merah.

Rumah itu kini telah terbakar.

Tidak ada lagi kamar.

Tidak ada lagi tempat menyimpan seragam.

Tidak ada lagi ruang untuk pulang.

Tetapi Rezky tidak berhenti.

Ia kembali mengumpulkan besi.

Karena ia tahu, keluarganya masih membutuhkan makanan.

Seragam Sekolah yang Ikut Terbakar

Rezky sebenarnya masih ingin bersekolah.

Namun, kebakaran membuatnya kehilangan seragam dan sepatu.

Perlengkapan sekolahnya juga ikut terbakar.

Hari ini ia tidak bersekolah.

Ia justru berada di lokasi kebakaran, membantu warga membersihkan puing dan mengumpulkan material yang masih bisa dijual.

Rezky tinggal bersama ibu, kakek, nenek dan seorang adik yang kini duduk di kelas lima SD Hikmah Yapis Jayapura.

Ayahnya telah meninggal.

Kakek dan neneknya kini berada di tenda pengungsian.

Karena itu, keinginan Rezky sangat sederhana.

Ia ingin mendapatkan uang dari besi yang dikumpulkannya untuk membeli makanan.

Ia ingin membawa pulang sepiring nasi.

Rezky dan adiknya (baju biru) membawa hasil besi menuju tempat pengepul

Rezky membawa hasil besi yang berhasil dikumpulkannya dari puing-puing rumah untuk dijual kepada pengepul. Uang hasil penjualan akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya.

550 Kepala Keluarga Terdampak

Kebakaran hebat melanda kawasan pemukiman Palopo atau Kampung Nelayan, Mandala Pantai Dok V Bawah, Senin 31 Agustus 2026 sekitar pukul 14.25 WIT.

Kondisi pemukiman yang padat dan bangunan yang saling berdempetan membuat api dengan cepat membesar dan merambat ke rumah warga lainnya.

Berdasarkan keterangan saksi, api pertama kali terlihat dari salah satu bangunan kost.

Warga kemudian meminta pertolongan dan menghubungi kepolisian melalui layanan 110.

Polresta Jayapura Kota mengerahkan personel dan kendaraan AWC untuk membantu pemadaman bersama AWC Brimob Polda Papua, AWC Ditsamapta Polda Papua serta kendaraan pemadam lainnya.

Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 18.00 WIT dan dilanjutkan dengan proses pendinginan.

Penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan Sat Reskrim Polresta Jayapura Kota.

Istimewa

Pendataan sementara menunjukkan sekitar 550 kepala keluarga berada di wilayah terdampak, terdiri dari sekitar 200 kepala keluarga di RT 002 dan 350 kepala keluarga di RT 007.

Jumlah pasti rumah terdampak serta total kerugian material masih dalam proses pendataan.

Kini warga bersama aparat TNI dan Polri bergotong royong membersihkan puing-puing kebakaran.

Sejumlah tenda pengungsian telah didirikan.

Namun, para korban masih membutuhkan berbagai kebutuhan dasar, terutama air bersih, makanan siap saji dan pakaian layak pakai.

Bagi anak-anak seperti Rezky, perlengkapan sekolah juga menjadi kebutuhan agar mereka dapat kembali belajar.

Sepiring Nasi

Hari ini, Rezky tidak membawa pulang barang berharga.

Tidak ada mainan.

Tidak ada pakaian.

Tidak ada buku sekolah.

Yang ia bawa pulang adalah harapan dari sesuatu yang tersisa di antara puing-puing.

Besi.

Tembaga.

Barang-barang yang bagi sebagian orang mungkin hanya terlihat sebagai rongsokan.

Tetapi bagi Rezky, benda-benda itu adalah cara untuk bertahan.

Ia mengangkatnya dengan kedua tangan.

Membawanya melewati tangga yang terjal.

Berhenti ketika tubuhnya lelah.

Duduk.

Memandang rumahnya yang sudah hangus.

Lalu kembali berdiri.

Karena ada satu hal yang ingin ia dapatkan dari semua itu.

Sepiring nasi.

Sepiring nasi untuk dirinya.

Untuk ibu.

Untuk adiknya.

Dan terutama untuk kakek dan nenek yang menunggunya di tenda pengungsian.

Rumah Rezky mungkin sudah terbakar.

Seragam sekolahnya juga telah menjadi abu.

Tetapi dari antara puing-puing itu, Rezky masih berusaha menemukan sesuatu yang belum hilang:

harapan untuk tetap bertahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....