Mengapa Selera Musik Milenial Seolah Berhenti di Era 90-an?
- 01 Agt 2026 04:32 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura - Bagi banyak generasi milenial, lagu-lagu era 1990-an hingga awal 2000-an masih menjadi pilihan utama. Meski industri musik terus melahirkan penyanyi dan genre baru, mengapa selera musik milenial seolah berhenti di era 90-an?
Melansir Sage Journals, fenomena ini ternyata bukan sekadar nostalgia. Sejumlah penelitian menunjukkan, bahwa selera musik seseorang memang cenderung terbentuk kuat pada masa remaja hingga awal dewasa.
Salah satu penelitian yang banyak dijadikan rujukan dalam psikologi musik, menemukan hubungan usia dan memori lagu. Bahwa lagu-lagu yang didengar saat seseorang berusia sekitar 17 tahun, memiliki peluang paling besar menjadi favorit seumur hidup. Penelitian replikasi oleh Jan Hemming (2013), juga menunjukkan puncak preferensi musik berada pada usia sekitar 17 tahun.
Hal ini memperkuat temuan sebelumnya, bahwa akhir masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan selera musik. Karena berkaitan dengan proses pembentukan identitas.
Pada masa remaja, musik bukan hanya hiburan. Tetapi juga menjadi bagian dari cara seseorang mengekspresikan diri. Selain itu membangun pertemanan, hingga mengingat momen-momen penting dalam hidup.
Karena terhubung dengan emosi yang kuat, lagu-lagu dari periode itu lebih mudah melekat dalam ingatan. Alhasil, lagu tersebut terus dinikmati hingga puluhan tahun kemudian.
Bagi generasi milenial yang lahir sekitar 1981–1996, masa remaja mereka banyak diwarnai musik era 1990-an hingga awal 2000-an. Tak heran jika lagu-lagu dari periode tersebut, masih mendominasi daftar putar mereka. Tetapi nukan berarti mereka menolak musik baru.
Otak secara alami memberikan pula nilai emosional lebih tinggi pada musik yang menjadi 'soundtrack' masa tumbuh dewasa. Riset juga menunjukkan, bahwa seiring bertambahnya usia, keinginan untuk mengeksplorasi musik baru cenderung menurun.
Melansir dari ABC News, peneliti menyebut fenomena ini sebagai menurunnya open-earedness yaitu keterbukaan terhadap musik yang belum dikenal. Karena identitas sudah terbentuk, tanggung jawab pekerjaan, keluarga, dan rutinitas, membuat milenial memiliki sedikit waktu mencari musik baru.
Di sisi lain, layanan streaming musik juga berperan. Melansir dari The Sun, algoritma cenderung merekomendasikan lagu yang mirip dengan riwayat pendengaran pengguna. Akibatnya, pendengar semakin sering kembali ke lagu-lagu favorit lama dan semakin jarang keluar dari 'zona nyaman' musiknya.
Meski demikian, anggapan bahwa semua milenial berhenti menikmati musik baru tentu tidak sepenuhnya benar. Banyak yang tetap mengikuti rilisan terbaru, menghadiri konser, hingga menemukan genre baru. Hanya saja, musik yang didengar saat remaja, tetap memiliki tempat istimewa.
Jadi, jika Anda masih sering memutar lagu-lagu 1990-an atau awal 2000-an, kemungkinan besar itu bukan karena tertinggal zaman. Melainkan itu merupakan bagian dari perjalanan hidup, yang selalu layak untuk didengarkan kembali.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....