Doa, Disiplin, dan Keteladanan Seorang Ayah

  • 08 Feb 2026 05:50 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Keberhasilan seorang ayah, yang sukses mengantarkan ketiga anaknya  pada Akademi Militer. Berkat doa, disiplin dan teladan sosok seorang Ayah. 

Dia adalah Seorang Prajurit Dandenma Korem 172/Praja Wira Yakti ( PWY). Mayor Korps Peralatan ( Cpl ) Saroy.

Anak pertamanya Kapten Infanteri (Inf)  Albert Wiliam Saroy (27 tahun), lulusan Akmil  2019 berdinas di Grup 1 Kopassus. Anak kedua  Letda Inf. Mikel Remianus Saroy (23 tahun) lulusan Akmil 2024 berdinas di Grup 2 Kopassus.

 Anak ketiga  Pratar Jalvian Ferguson Saroy (19 tahun) Prajurit Taruna Tingkat 1 di Akmil, Magelang Jawa Tengah. Anak keempat  Novalen dan Ratu Felicia masih  menempuh pndidikan SMP dan SD.

 Dalam mendidik  anaknya Mayor Saroy mengutamakan pembinaan rohani, menumbuhkan motivasi untuk cita-cita mereka di masa depan. Mendoktrin untuk masuk jadi tentara sejak dini. 

Pembinaan fisik ia terapkan lewat disiplin, menjaga kesehatan. Utamakan  makanan dan suplemen gizi dipantau melalui psikotest dan mental.

 Menghadapi anak dengan berbagai karakter tidaklah mudah. Ia memposisikan dirinya sebagai sahabat dan teman.  Namun ketegasan tetap dilakukannya sehingga lambat laun mereka menentukan arah hidupnya dengan tepat.

Saroy melihat aktivitas dan prestasi mereka sudah mulai nampak saat sekolah. Ada yang menjadi Ketua OSIS, komandan upacara, sebagai anggota Paskibraka tingkat daerah dan pusat. Ada yang aktif berorganisasi dan olahraga.

Yang membuatnya bangga mereka hanya mau dilatih oleh ayah mereka. Dalam Podcast Korem 172/PWY, Mayor Saroy berkisah betapa bangganya Ia sebagai seorang Ayah.

 Putra pertamanya menjadi Prajurit Komando Pasukan Khusus ( Kopassus ).  dengan lulusan terbaik mendapatkan sangkur perak dengan peringkat kedua.

 “Saya dan ibu sampai menitikkan air mata saat melihat putra kedua kami menabuh genderang Drum Band Macan Tidar. Anak kami itu memiliki kecakapan berkomunikasi dengan para petinggi TNI maupun pemerintah daerah," katanya. 

Kedisiplinan yang diberikannya tidak dengan kekerasan. Diakuinya tidak pernah sedikitpun ia melakukan kekerasan fisik meski anaknya melakukan kesalahan. Berbeda dengan didikan istrinya yang berasal dari Jawa yang berpendirian teguh dan tidak terbantahkan.

Yang ingin saroy tegaskan masuk tentara tidak perlu menggunakan uang atau menghadap ke atasan. Yang ia lakukan  menyiapkan anak-anaknya sedari dini mulai dari kedisiplinan, kesehatan dan fisik atau kesamaptaan.

 Filosofi hidup seorang Mayor Saroy,  tentara tidak menjanjikan kekayaan tapi tidak juga membuat miskin. Menanamkan pemahaman bahwa setiap anak harus mampu membuat sejarah baru dan harus bisa memiliki prestasi lebih dari ayahnya.

 Pesannya selalu niat, doa dan upaya, serta dukungan dari orang tua adalah kunci. Menumbuhkan rasa kebanggaan pada diri itu yang terpenting . 

“ Berbuat salah itu hal yang biasa. Tetapi keinginan dan kemauan atau kemampuan untuk berubah (koreksi diri) itulah hal yang utama," ucapnya. 

Rekomendasi Berita