Fenomena Media Sosial Diam-Diam Mengatur Hidup Kita

  • 07 Feb 2026 20:23 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID Jayapura - Setiap pagi, sebelum kaki benar-benar menapak lantai, jari sudah lebih dulu menelusuri layar ponsel. Lalu membuka dunia lain yang terasa begitu dekat namun tak sepenuhnya nyata.

Media sosial tak lagi sekadar tempat berbagi cerita. Tapi pelan-pelan berubah menjadi ruang pembanding hidup, tempat orang menilai dirinya dari unggahan orang lain.

Fenomena 'chat dibaca tapi tak dibalas' misalnya, sering terdengar sepele. Namun nyatanya mampu memicu overthinking, salah paham, bahkan pertengkaran di dunia nyata.

Begitu juga dengan budaya pamer pencapaian, liburan, hingga gaya hidup. Tanpa sadar membuat banyak orang merasa tertinggal, kurang berhasil, atau tidak cukup bahagia.

Di balik layar yang tampak sempurna, banyak yang lupa bahwa unggahan hanyalah potongan kecil dari hidup seseorang. Apa yang tidak ditampilkan sering kali jauh lebih kompleks dan manusiawi.

Ironisnya, semakin sering kita menatap layar, semakin sulit kita hadir. Layaknya hadir utuh dalam percakapan nyata, meski duduk berhadapan tanpa jarak.

Media sosial akhirnya bukan hanya memengaruhi cara kita berkomunikasi. Tapi juga cara kita mencintai, berteman, bekerja, bahkan memandang diri sendiri.

Mungkin yang perlu dipelajari bukan cara meninggalkan media sosialnya. Melainkan keberanian untuk tidak menjadikan dunia digital, sebagai satu-satunya cermin kehidupan.

Rekomendasi Berita