Oily Afterlives: Kritik Deforestasi Sawit Papua Lewat Tari
- 30 Des 2025 15:37 WIB
- Jayapura
KBRN, Jayapura: Koreografer asal Papua, Fachry Matlawa, menghadirkan karya tari oily afterlives mengangkat dampak deforestasi perkebunan sawit terhadap ekosistem Papua. Karya ini, menyoroti kerusakan lingkungan serta perubahan ruang hidup masyarakat adat Papua kontemporer akibat ekspansi industri ekstraktif modern.
Pertunjukan oily afterlives, telah dipentaskan pada Oktober dan Desember 2025 di dua festival berbeda berskala nasional. Pentas berlangsung di Taman Ismail Marzuki Jakarta, serta Festival Lembana Madura tahun sama sebagai ruang dialog seni kritis.
Dalam pertunjukan tersebut, Fachry menari di atas minyak goreng bekas sepanjang durasi pementasan sebagai medium kritik ekologis simbolik. Ia juga menggunakan potongan kayu sebagai properti utama, yang hadir terus selama pertunjukan tari kontemporer tersebut berlangsung intens.
Minyak goreng bekas, dimaknai sebagai simbol komodifikasi tanah dan eksploitasi sumber daya alam Papua modern hari ini. Sementara kayu, merepresentasikan pohon tumbang akibat pembukaan hutan masif di wilayah adat Papua oleh ekspansi industri sawit.
Fachry, menyebut karya ini berangkat dari keresahan terhadap kerusakan hutan Papua berkelanjutan akibat ekspansi perkebunan sawit skala besar. Ekspansi tersebut berdampak terhadap sumber pangan lokal masyarakat adat, seperti sagu yang menopang kehidupan budaya Papua turun temurun.
Gerak tari oily afterlives, mengambil inspirasi tarian yosim khas Papua pesisir, lalu dihadirkan terfragmentasi tertahan lambat penuh tekanan. Pendekatan ini, merefleksikan kondisi tubuh dan kehidupan masyarakat Papua yang semakin terdesak oleh krisis ekologis struktural berkepanjangan kini.
Menurut Fachry, bentuk gerak tertahan menggambarkan hilangnya ruang hidup dan kebebasan tubuh masyarakat adat Papua akibat industrialisasi masif. Tubuh penari menjadi metafora tekanan sosial ekologis yang terus dialami masyarakat setempat, dalam pusaran pembangunan ekonomi ekstraktif nasional.
Ia menjelaskan, tubuh digunakan sebagai medium utama untuk menunjukkan dampak krisis lingkungan terhadap relasi sosial budaya masyarakat adat. Kerusakan alam tidak hanya memengaruhi ekosistem, tetapi juga identitas dan pengetahuan lokal yang hidup dalam keseharian masyarakat Papua.
Hilangnya hutan dan sagu, berarti tergerusnya sumber pangan sekaligus memori kolektif masyarakat adat Papua yang diwariskan lintas generasi. Bagi Fachry, persoalan ekologis selalu berkaitan erat dengan keberlangsungan budaya masyarakat adat Papua dalam konteks sejarah kolonial panjang.
Melalui oily afterlives, Fachry mengajak publik melihat deforestasi dari perspektif manusia Papua, yang hidup berdampingan langsung dengan hutan. Pendekatan ini, diharapkan membuka empati terhadap pengalaman sehari-hari masyarakat terdampak ekspansi industri ekstraktif di tanah adat Papua.
Ia menekankan karya ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga kritik sosial terhadap praktik industri ekstraktif skala besar. Praktik tersebut dinilai terus berlangsung dan mengancam keberlanjutan lingkungan Papua, serta hak hidup masyarakat adat lokal hari ini.
Oily afterlives menjadi medium refleksi artistik atas krisis ekologis, yang jarang terdengar dalam wacana pembangunan nasional. Karya ini menegaskan peran seni sebagai suara kritik bagi Papua masa kini, yang sedang menghadapi tekanan ekologis serius.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....