Cinta Seni Jadi Jalan Kesuksesan Dalang Totok Handoyo

  • 30 Nov 2025 19:01 WIB
  •  Jayapura

KBRN, Jayapura: Kunci sukses menjadi dalang adalah cinta seni, talenta pribadi, serta semangat belajar memahami pewayangan Jawa. Demikian ungkap Ki Totok Handoyo, dalang berpostur tinggi tegap berkumis tebal.

"Yang penting ada kemauan untuk belajar pasti bisa, orang turis asing saja karena mau belajar, bisa kok. Buktinya ada yang bisa mendalang dengan bahasa jawa walau terdengar unik," ujarnya.

Ki Totok Handoyo, merupakan lulusan Sekolah Menengah Karawitan Surakarta. Ia berpengalaman menjadi dalang, sejak tahun 1989 dan berdedikasi kuat dalam seni pedalangan Jawa.

Dirinya tampil dengan pementasan wayang kulit, saat Pelantikan Pengurus Forum Silaturahmi Paguyuban Jawa (SIPAJA) Papua, Kamis (30/11/2025). Pertunjukan tersebut menghadirkan suasana budaya khas Jawa, yang mempererat kebersamaan serta memperkuat hubungan masyarakat di Papua.

Cerita wayang yang dibawakan, tentang Pandawa menerima pengganti Astina berupa hutan belantara penuh tantangan. Namun, kejujuran serta keteguhan para punggawa, membuat Pandawa Indraprasta atau Amarta dipercayakan memimpin kerajaan tersebut.

Penampilan Dalang Ki Totok Handoko, saat melakonkan wayang kulit, bersama Snggar Seni Langen Budoyo Expo Waena, pada Minggu (30/11/2025 ). (Foto: RRI/Ida).

Diakui Ki Totok, pementasan wayang kulit di Jawa dan Papua serupa, namun memiliki tantangan tersendiri. Durasi pagelaran yang bervariasi, membuat pertunjukan wayang harus bisa menyampaikan pesan cerita dengan tepat ke penonton.

"Kita ditantang terus mengasah kreativitas agar pementasan wayang menarik, diminati, dan memperoleh apresiasi maupun penghargaan dari penonton. Persiapan matang serta kondisi prima dalang, sinden, dan niyaga menjadi kunci menghadirkan pagelaran yang berkualitas," ucapnya.

Menurutnya keberadaan Forum SIPAJA, membantu mengkoordinasi, mendukung, dan menyokong pelestarian wayang kulit sehingga tidak dilakukan sendiri oleh komunitas. "Wong jowo rumangsa duwe basa, orang Jawa harus merasa memiliki wayang kulit," katanya.

Dengan tawa renyah, Ki Totok menjelaskan, meski bayaran seni fleksibel mengikuti situasi, tetapi tidak mengurangi semangatnya melestarikan tradisi. Ia bertekad menjaga kehidupan wayang kulit di Papua, agar seni wayang kulit juga dicintai di Papua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....