Kolaborasi Asta Cita TNI AD Menguatkan Masyarakat Papua

  • 20 Nov 2025 11:17 WIB
  •  Jayapura

KBRN, Jayapura: Pagi itu, Studio 5 RRI Jayapura terasa lebih hangat dari biasanya. Kolonel Inf. I Wayan Deddy Su duduk tenang sambil mengenang kembali perjalanan panjangnya di Papua.

Dengan suara yang mantap namun bersahabat, ia menjelaskan satu hal penting, yakni tentang Asta Cita. Di bumi Cenderawasih, Asta Cita adalah karya bersama antara pemerintah, TNI AD, Badan Gizi Nasional (BGN), dan masyarakat.

“Program ini tidak bisa jalan sendiri. Kita harus berkolaborasi,” ujarnya membuka percakapan. Sejak awal, ia sudah mengetahui betapa banyak kabar keliru bahkan hoaks yang beredar.

Di antaranya, menuduh TNI mengambil alih tugas pemerintah. Ia menggeleng pelan dan menegaskan, “Itu tidak benar, kami hanya mendukung, bukan menggantikan," katanya.

Jejak dari Deiyai, Ketika Dapur Sehat Menjadi Cahaya

Sebelum menjadi Kepala Seksi Teritorial (Kasiter) Korem 172/PWY, I Wayan menghabiskan hari-harinya sebagai Dandim Deiyai. Di sana, ia dan anggotanya membangun dapur sehat untuk masyarakat.

Program kecil itu berjalan sebelum Presiden Prabowo meluncurkan agenda besar Asta Cita. Termasuk Makan Bergizi Gratis.

Kini, saat Asta Cita menjadi program nasional, I Wayan melihat kesinambungan yang indah. "Ketika program ini hadir, saya merasa seperti melihat mimpi lama yang kini tumbuh menjadi pohon besar," ucapnya.

Membina Anak Muda Papua untuk Melayani

Bagi TNI AD, mendukung Asta Cita tidak hanya soal mengantar bahan makanan atau melakukan pendampingan di lapangan. Ada kontribusi yang lebih sunyi, tetapi sangat berarti membina Sarjana Penggerak Pembangunan Papua Indonesia (SPPI).

Setiap kali berbicara tentang mereka, sorot mata I Wayan berubah. Ia ingin para sarjana pengerak pembangunan Papua, itu bekerja dengan hati, bukan sekadar menjalankan tugas administratif.

“Kami ingin mereka betul-betul terpanggil. Anak-anak Papua harus makan bergizi, itu hal sederhana, tetapi dampaknya besar,” ujarnya.

Ia juga membantah tegas isu yang menyebut makanan program ini beracun. “Hoaks seperti itu hanya merusak,” katanya tegas.

Babinsa, Mama-Mama Papua, dan Jaringan Kecil yang Menghidupi Program

Di Nabire, Marsel Asyerem, koordinator Makan Bergizi Gatis, mengakui bahwa program ini tidak akan berjalan tanpa Babinsa. Bagi Marsel, para Babinsa adalah jembatan antara penyedia bahan makanan dan mama-mama Papua yang menjadi produsen lokal.

“Mereka punya data lengkap, mereka hadir, hidup bersama masyarakat. Dari mereka, kami tahu siapa menanam apa, siapa yang bisa memasok,” kata Marsel penuh syukur.

Mama-mama Papua, dengan noken di bahu dan hasil kebun di tangan, menjadi bagian penting rantai program Asta Cita. Setiap pembelian sayur, ubi, atau bumbu dapur, menjadi bukti bahwa kesejahteraan dapat tumbuh dari tanah sendiri

Makan Bergizi yang Menyentuh Ekonomi Keluarga

Dari Wamena hingga Nabire, dari Koya hingga Deiyai, program ini kini berputar lantaran digerakkan oleh banyak tangan. Anak-anak sekolah menerima makan bergizi, sementara masyarakat menikmati dampak ekonomi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

“Keuntungannya kembali ke masyarakat. Ekonomi mereka terbantu, anak-anak mereka menikmati makanan bergizi,” ujar I Wayan.

Di Papua, tak semua perubahan datang dengan suara keras. Ada perubahan datang perlahan, dalam bentuk tangan yang membantu, dapur yang mengepul, atau langkah Babinsa yang menyusuri kampung.

Asta Cita di tanah ini, bukan sekadar program. Ia adalah cerita tentang kebersamaan, tentang saling percaya, dan tentang masa depan yang dibangun pelan-pelan, tetapi pasti.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....