Mengubah Sampah Bernilai Emas di Gurabesi
- 20 Nov 2025 10:22 WIB
- Jayapura
KBRN, Jayapura: Sampah merupakan sisa kegiatan manusia yang dapat didaur ulang ataupun tidak tergantung jenisnya. Namun Bank Sampah Gurabesi melihat sampah memiliki nilai, melalui konsep emas tersembunyi dalam tumpukan sampah.
Aryo Reno Rhiyandani, Ketua Bank Sampah Gurabesi, dalam Podcast Papeda RRI Jayapura menjelaskan emas berarti nilai ekonomis. Ia menegaskan banyak jenis sampah memiliki potensi pendapatan, jika dikelola baik dan dikumpulkan secara benar.
Aryo dikenal akrab oleh nasabah, terutama anak-anak yang sering memanggilnya om botol atau om karton. "Panggilan tersebut lucu dan menunjukkan keakraban," ujarnya.
Bank Sampah Unit Gurabesi sendiri, beroperasi pada skala kelurahan kecamatan. Tak heran, bank sampah tersebut dekat dan bersentuhan langsung dengan masyarakat sekitar.
Bank Sampah Gurabesi berdiri mandiri sebagai bisnis murni dan telah berjalan selama satu tahun terakhir. Unit ini digagas Aryo bersama temannya, yang kini bekerja pada Bank Sampah Induk Kabupaten Jayapura.
Sebagai sarjana komunikasi, Aryo melihat kondisi lingkungan Jayapura masih kotor akibat kurangnya budaya memilah sampah. Ia menilai kesadaran lingkungan masyarakat rendah, sehingga sampah tidak tertata dan mencemari berbagai sudut kota.
Masalah berkurangnya lapangan pekerjaan membuat perekonomian daerah melambat, sehingga memerlukan terobosan berbasis lingkungan berkelanjutan. "Saya ngin menghubungkan pengelolaan sampah dengan peningkatan pendapatan, agar memberi dampak ekonomi serta lingkungan," ucapnya.
Bank Sampah Gurabesi tidak hanya berorientasi keuntungan, tetapi juga menonjolkan edukasi sosial ke berbagai fasilitas umum. Ia menekankan nilai kepedulian lingkungan, harus tumbuh meski keuntungan finansial dari kegiatan ini tidak terlalu besar.
Aryo menjelaskan bahwa 75 persen nasabah berasal dari Orang Asli Papua. Mereka aktif mencari dan memilah sampah dari rumah, pertokoan tempat umum, serta berbagai lokasi.
Keberadaan bank sampah memfilter sampah, agar tidak seluruhnya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sampah bernilai ekonomis harus tetap kering, baik, tidak rusak, dan tidak mengalami kontaminasi sebelum dijual kembali.
Jenis sampah bernilai tinggi adalah aluminium yang dijual dari Gurabesi ke Bank Sampah Induk untuk dikirim keluar daerah. Aryo mengatakan satu kilogram aluminium, dihargai Rp8.000.
Setiap hari bank sampah menerima lima hingga enam ton sampah, bahkan pernah mencapai 12 ton lebih. Dengan armada roda dua, Aryo berharap ke depan tersedia kendaraan roda tiga atau truk untuk meningkatkan operasional.
Bank Sampah Gurabesi semakin dikenal, sehingga menjadi tantangan besar untuk berkembang lebih maju bersama seluruh nasabah setia. "Penghasilan dari bank sampah, dapat membantu kebutuhan harian, termasuk ekonomi keluarga dan pembelian token listrik," ucap Aryo.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....