Memoar Pengabdian Tanpa Batas Paul Sudiyo di Papua
- 15 Nov 2025 09:28 WIB
- Jayapura
KBRN, Jayapura: Buku 'Kasih di Tanah Papua' menggambarkan perjalanan nyata pengabdian panjang Paul Sudiyo bersama mendiang istrinya, dokter Irma. Memoar ini merangkum kiprah mereka yang tak terbatas melayani masyarakat terpencil Papua, dengan dedikasi tulus dan keberanian.
Selama lebih dari 48 tahun, Paul mendampingi masyarakat Papua dalam berbagai situasi hidup. Ia menjadi Pastor Katedral pada 1976 hingga 1979, sebelum kemudian dipercaya mengelola Yayasan Bina Teruna Bumi Cenderawasih (Binterbusih).
Kisah-kisah yang tersaji memuat pahit getir kehidupan, menghadirkan keharuan mendalam serta ketegangan yang membekas lama. Mozaik pengalaman itu, menunjukkan betapa kuatnya perjuangan Paul menjalani panggilan hidupnya di Papua.
Pada tahun 1975, Paul pertama kali bertemu Uskup Jayapura, Monsenyur Herman Munninghoff, yang kemudian membimbingnya. Ia menuturkan bahwa penerbangan Merpati Nusantara saat itu, menjadi awal pembelajaran penting dalam hidupnya.
Penugasannya ke Epouto Paniai, Lembah Baliem, hingga pedalaman Mimika, membuka perjalanan panjang pelayanan pastoralnya. Paul tidak hanya menjadi pendamping rohani, tetapi juga sahabat, pengajar, tenaga medis, dan pembantu masyarakat setempat.
Totalitas Paul terlihat melalui pelayanannya bagi umat Katolik serta tokoh Papua termasuk panglima Organisasi Papua Merdeka, Thadeus Yogi. "Bahkan Thadeus Yogi pernah berkata, pendatang seperti saya dan dokter Irma tidak perlu dianggap sebagai ancaman," ujar Paul.

Paul Sudiyo (sebelah kiri), saat menceritakan pengalaman hidupnya di hadapan peserta bedah buku Kisah kasih di Tanah Papua, Sabtu (15/11/2025). (Foto: RRI/Ida).
Buku 'Kisah Kasih di Tanah Papua,' juga menceritakan perjuangan dokter Irma melayani masyarakat tanpa pamrih meski hamil besar. Ia berjalan kaki berjam-jam, bahkan berhari-hari mengunjungi kampung terpencil demi mengobati warga dengan kesabaran luar biasa yang mendalam.
Paul menghormati para pilot seperti Tom Leo, Arnold Burung, Heny, dan Mike, yang berjasa menghubungkan pedalaman Papua. Ia juga mengenang misionaris Belanda, yang memulai karya kemanusiaan tulus sejak tahun 1940 hingga 1950.
"Saya mengunjungi tempat peristirahatan para misionaris di Leiden Belanda untuk mengenang, berdoa, dan memperbarui komitmen pengabdian penuh setia. Saya berjanji meneruskan kasih yang telah diwariskan para pendahulu sebagai teladan kemanusiaan tulus untuk Papua," katanya.
Setelah belasan tahun berkarya di Papua, Paul kemudian pindah ke daerah Jawa melanjutkan pelayanan pendidikan bagi generasi muda. Meski dokter Irma telah berpulang 27 tahun lalu, ia tetap mendampingi mahasiswa Papua melalui Yayasan Binterbusih.
Banyak alumni yayasan tersebut, kini menjadi pemimpin hebat seperti menteri, gubernur, bupati, pengacara, dosen, dan arsitek yang unggul. "Mereka dahulu datang dari Surabaya, Yogya, Semarang hingga Bali, dengan segala kesusahan dan sebisanya kami tolong," ucapnya.
Buku ini menjadi refleksi mendalam, sekaligus ajakan tulus untuk melayani sesama tanpa membedakan suku bangsa maupun agama. Kisah Paul menunjukkan, bahwa kasih sejati mampu memulihkan martabat manusia serta menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat luas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....