Mahkota Adat Auyu dari Wonggi untuk Bripka Hamdani
- 12 Jun 2025 22:30 WIB
- Jayapura
KBRN, Jayapura: Suara mesin perahu meraung memecah tenang aliran sungai di Distrik Passue Bawah. Tumbuhan air merambat menutupi permukaan, memaksa Bripka Hamdani Ismail turun tangan membuka jalur menuju Kampung Wonggi.
Perjalanan dari ibu kota distrik ke Wonggi memakan waktu dua hingga tiga jam dengan perahu cepat. Namun, waktu bukan satu-satunya kendala.
“Ada kalanya, di musim tertentu, sungai ini tertutup tebu rawa. Tumbuhannya seperti eceng gondok, tapi versi besarnya,” kata Hamdani.
Saat itu terjadi, perjalanan bisa melambat drastis. Hamdani dan warga yang mendampinginya harus mengangkat mesin, turun ke lumpur, dan mendorong perahu dengan tubuh setengah terendam.
Kampung Wonggi berada di kawasan terpencil di Kabupaten Mappi, Provinsi Papua Selatan. Tidak ada jalan darat. Akses utama hanyalah jalur air. Ketika air surut, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki menembus hutan.

Di kampung terpencil itulah Hamdani bertugas sejak 2014 sebagai Bhabinkamtibmas. Tapi perannya tak berhenti di situ. Ia menjadi teman, guru, sekaligus pelayan masyarakat. Warga tak mengenalnya semata sebagai polisi.
Mula-mula, itu bukan hal mudah. Ia pernah hampir diserang massa karena kesalahpahaman saat menegur seorang pemuda mabuk. Informasi yang sampai ke keluarga pemuda itu sudah terdistorsi. Massa menyerbu halaman rumahnya. Situasi sempat mencekam.
Namun dari situ, Hamdani mengubah pola pendekatan. Ia datang ke rumah-rumah warga, bicara dari hati ke hati, menjadi pendengar yang baik, dan belajar memahami adat setempat. Perlahan, tembok curiga luluh.
Titik Balik dan Dua Mahkota
Titik balik datang dalam prosesi adat yang tak terduga.
Suatu sore, di halaman kampung, Kepala Suku memanggil Hamdani. Di hadapan warga, ia menyematkan mahkota dari kulit kasuari di kepala sang Bhabinkamtibmas. Sejak saat itu, ia diterima sebagai anak adat Wonggi.
“Saya tidak sangka dan kaget juga. Mereka tiba-tiba kok mengangkat saya sebagai anak adat,” kata Hamdani.
Beberapa waktu berselang, penghormatan itu bertambah.
Dalam upacara yang lebih khidmat, Kepala Suku berbicara dalam bahasa adat, lalu mengenakan mahkota cenderawasih ke kepala Hamdani, mahkota yang selama ini hanya dikenakan oleh Kepala Suku dan Kepala Perang. Ia telah diberi tempat sebagai salah satu tokoh adat kampung Wonggi.
Hamdani tak meminta itu. Tapi warga memberikannya sebagai bentuk penghormatan atas kehadiran yang konsisten.
Sejak saat itu, Bripka Hamdani tak lagi dipandang hanya sebagai seorang aparat keamanan. Ia diterima sebagai bagian dari warga Wonggi. Kepercayaan yang diperoleh itu menjadi fondasi bagi kiprah berikutnya.
Sekolah yang Sepi
Saat berupaya membangun kedekatan dengan warga, satu hal terus mengusik pikiran Hamdani. Anak-anak di kampung jarang masuk sekolah. Sebagian besar lebih sering membantu orang tua ke kebun atau bermain di hutan.
Sekolah dasar di kampung itu juga kekurangan guru. Akibatnya ruang kelas sepi. Dalam kondisi seperti itu, Hamdani memutuskan mengisi kekosongan.

Tahun 2020, ia mulai mengajar. Ia mengenalkan huruf dan angka, mengajak anak-anak menyanyi lagu kebangsaan, dan membacakan cerita dari Papua. Pendekatannya sederhana, yakni belajar sambil bermain. Anak-anak menyambutnya dengan antusias.
“Kalau terlalu serius, mereka bosan. Jadi saya ajak nyanyi, menggambar, bercerita,” ujar dia.
Hamdani juga menggalang donasi buku dari rekan-rekannya sesama aparat dan ASN. Lebih dari 100 buku terkumpul dan dibagikan kepada anak-anak. Buku menjadi barang mewah di kampung ini. Dalam keterbatasan, Hamdani mencoba menyalakan harapan.
“Anak-anak di sini akhirnya tahu cerita-cerita dari luar kampung. Mereka jadi senang membaca,” ujar Hamdani.
Bantuan yang Nyata
Bantuan yang diberikan Hamdani tidak berhenti pada ruang kelas. Ia turut memperkuat koordinasi dengan guru dan kepala sekolah, menyusun jadwal, serta membantu mengorganisasi kegiatan belajar agar tetap berjalan saat guru tidak hadir.
Hendrik Lattu, Kepala SMP Negeri 1 Wonggi, menyebut kehadiran Hamdani sebagai penyambung antara dunia pendidikan dan warga.
“Saya dan satu guru lain kewalahan karena harus mengajar hampir 80 anak. Tapi kehadiran pak Hamdani dari segi apapun itu sangat membantu,” ujarnya.
Lebih dari itu, pendekatan yang dibangun Hamdani juga memperbaiki citra Polri di mata warga. Warga yang semula mencurigai dan menjaga jarak, kini lebih terbuka.
“Dulu kami takut polisi. Kalau datang pasti marah-marah. Tapi sekarang, kami merasa dia seperti keluarga,” kata Fransiskus Tagi, warga Wonggi.
Sore hari, Hamdani kerap menemui warga, membawakan pinang. Percakapan-percakapan kecil itu membangun jembatan kepercayaan yang kokoh.

Hadir dan Melayani
Pengalaman Hamdani menjadi gambaran bahwa pelayanan publik di wilayah terpencil tidak bisa dijalankan setengah hati. Ketekunan, kehadiran langsung, dan pendekatan budaya menjadi kunci.
Distrik Passue Bawah dan kampung-kampung sekitarnya masih menghadapi kendala akses, minimnya infrastruktur, serta kekurangan guru.
Bripka Hamdani Ismail mengambil peran di tengah berbagai keterbatasan itu. Ia menjalankan tugas sebagai Bhabinkamtibmas, mendampingi proses belajar, membangun hubungan dengan warga, dan memperkuat kehadiran negara.
Kini Hamdani tengah menempuh pendidikan perwira. Tapi kisahnya di Wonggi, tentang ketekunan dalam keterbatasan, telah meninggalkan jejak.
Ke mana pun ia ditugaskan nanti, pengalamannya di Wonggi tetap jadi bukti bahwa pelayanan yang tulus bisa membangun kepercayaan dan meninggalkan perubahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....