Kisah Mat, Doa Ibu Ubah Hidupnya dari Kerja Serabutan hingga Jabat Ketua DPRK Sarmi

  • 26 Feb 2025 17:27 WIB
  •  Jayapura

KBRN, Jayapura : Siapa yang menyangka, doa seorang Ibu mengubah garis tangan pria kelahiran 15 Juli 1990. Kisah yang dialami pria itu adalah Mohammad Asari Tiris, kini dia menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kabupaten Sarmi untuk masa jabatan 2024-2029.

Mat, panggilan sang Ibu kepadanya bukan sebuah kebetulan menduduki pimpinan legislatif. Berbagai perjalanan hidup telah dia lalui bersama doa sang Ibu, bukan seorang politikus murni, namun dia membuktikan hidupnya sekarang ini karena sebuah doa yang dipanjatkan.

Cita-cita bukan menjadi seorang politisi, namun ingin mengabdikan untuk bangsa dan negara yaitu seorang tentara. Tamatan STM atau SMK Negeri 3 Jayapura tahun 2008 ingin menjadi anggota TNI.

Cita-cita itu pupus, bukan karena ketidakmampuan. Namun mempertimbangkan pesan dari Ibunda tercintanya. Saat itu keinginan kuat menjadi tentara karena ingin membantu ekonomi keluarga.

"Setelah lulus sekolah, saya ingin bercita-cita menjadi tentara untuk bantu dalam keluarga. Tapi saat itu, Ibu bilang kalau jadi tentara bagaimana adik-adik, siapa yang menjaga kalau keluar daerah," kata Mat mengikuti perkataan Ibunya.

Akhirnya niat itu diurungkan menjadi tentara, pria yang lahir di Kampung Nangke, Distrik Pantai Timur Bagian Barat Sarmi itu tak pernah bermimpi bisa terjun di dunia politik.

Usai mendengarkan pesan sang Ibu, ditahun 2008, Mat kembali ke Sarmi mulai menjalani keseharian membantu keluarga, berbagai pekerjaan dilaluinya tanpa kenal lelah. Kuli bangunan hingga keluar masuk hutan Sarmi sering dilakukan, pekerjaan serabutan apapun itu dikerjakan demi hidup.

"Pekerjaan apapun saya lakukan, kuli bangunan, masuk keluar hutan di Sarmi untuk hidup. Untuk biaya keluarga, tambah-tambah ekonomi. Saya laki-laki tertua dalam keluarga, jadi harus membantu keluarga," ucap Mat.

Setahun lamanya, dia memutuskan untuk berkuliah di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura atau USTJ. Berpikir untuk kuliah mengubah nasibnya, justru tidak adanya biaya mengharuskan untuk mengakhiri kuliah hingga sampai lima semester saja.

Sempat menganggur setahun, dia kembali membantu keluarga, kembali bekerja serabutan seperti sebelumnya hingga mengikuti sang ayah di perusahaan mencari gaharu yang telah dimulainya sejak 2013 sampai 2017.

"Saya tidak lanjutkan kuliah, kembali ke Sarmi bantu keluarga. Ikut bapak bantu di perusahaan disana, semua pekerjaan saya kerjakan lagi-lagi untuk ekonomi," kata dia.

Pekerjaan demi pekerjaan terus dilakukan hingga akhirnya Mat merasa jenuh, merasa jika gagal menjadi seorang kakak, anak di dalam keluarganya. Namun doa sang Ibu, tetap memberikannya semangat untuk jalani semuanya.

"Saat itu, saya merasa gagal untuk menjadi anak dan kakak untuk keluarga maupun orang tua. Apalagi saya lihat banyak teman-teman yang sukses dan kecukupan. Itu yang buat saya berpikir kenapa harus melalui banyak hal," katanya.

Mat yang selalu menyayangi dan tak banyak melawan kepada sang Ibu mulai mengerti maksud dan tujuan Tuhan memberikan semuanya untuk tetap bertahan.

Berawal memikul sagu dari dalam hutan untuk dijualnya dipinggir jalan. Sembari menunggu pembeli, bertemu dengan Ibunya yang menyuruhkan pulang ke rumah untuk beristirahat. Ketika pulang, Mat mengatakan kepada Ibunya, seandainya menjadi tentara hidup tidak seperti ini.

"Mama coba saya tes tentara kemarin pasti kita tidak seperti ini. Mama dengar itu, langsung peluk saya, mama kuatkan saya dan bilang suatu saat Mat akan menjadi pemimpin di mama pu tanah kelahiran sendiri," kata Mat yang meniru ucapan Ibunya.

Sontak perkataan itu, mengubah Mat menjadi kuat hadapi hidup penuh rintangan ini. Garis tangan pun berubah, berkat doa seorang Ibu, pada tahun 2017 ada kegiatan kampanye bagi calon-calon yang akan maju legislatif.

Saat itu, partai NasDem menggelar kampanye dikampung halamannya membuat Ibunya menyarankan untuk ikut mencalonkan diri. Karena doa Ibu, akhirnya Mat berhasil membuktikan diri bisa meraih satu kursi legislatif di DPRK Sarmi.

"Saya dengar kata mama untuk coba tes, doa mama buat saya bisa dapat satu kursi NasDem. Itu di kampung Nangke dan Takar, saya bisa duduk di kursi DPRK pertama periode 2017-2024. Itu karena doa mama buat saya seperti ini," jelasnya.

Menjalani diri sebagai anggota DPRK Sarmi tak buat lupa diri dan sombong, justru terus mendedikasikan diri kepada keluarga maupun masyarakat yang telah memilih nya. Mat saat itu menjadi anggota DPRK termuda berusia 27 tahun.

Bahkan saat menjadi anggota, kepercayaan kepadanya diberikan pernah memegang palu kedewanan. Tantangan dia lalui pada tahun 2019, Indonesia diterpa badai Covid-19, termasuk Sarmi.

"Saat itu saya diberikan kepercayaan jadi ketua sementara saat musim covid-19. Itu tantangan bagi saya dan teman-teman dewan, disatu sisi harus menjaga kesehatan, disatu sisi harus mengemban tugas mengawal aspirasi maupun tugas sebagai dewan, mengawasi program-program pemerintah untuk kepentingan masyarakat. Tapi semua bisa dilalui dengan baik," tuturnya.

Seiring berjalan waktu, pada tahun 2022. Sang Ibu harus menjalani pengobatan karena sakit Tumor, berencana membawa ke Malaysia atau Singapura, namun banyak hambatan karena syarat administrasi begitu rumit dampak dari covid-19. Akhirnya pengobatan dilalu di Kota Makassar.

Sambil pengobatan di rumah sakit Siloam Makassar, Mat menetapkan diri untuk kembali maju nanti di periode berikutnya. Saat membawa Ibunya berobat, ternyata sakit yang di derita sudah mencapai stadium akhir.

"Saat itu mama sudah stadium akhir, tapi masih pengobatan terus di Makassar. Saya masih ingat, dengan menahan rasa sakit yang luar biasa, mama peluk, rangkul bilang Mat, mama minta maaf tidak bisa ikut pelantikan kedua," kenangnya.

Padahal saat itu, Mat menginginkan sang Ibu untuk hadir pada pelantikan dirinya karena terpilih menjadi anggota dewan untuk kedua kalinya. Namun takdir dan jalan Tuhan berbeda, sang Ibu dipanggil maha kuasa untuk selamanya.

"Sebelum pelantikan mama sudah dipanggil yang Kuasa. Disaat senang bisa dilantik menjadi Ketua DPRK Sarmi, disaat itu saya harus kehilangan orang yang paling disayangi yaitu sang Ibu," ucapnya dengan air mata.

Menurut Mat, kepergian mendiang sang Ibu memang membuat terpukul dan sedih. Namun kegigihan, ketekunan dan doa membuatnya mengerti akan hidup ini. Tidak mudah baginya menjalani itu tanpa mendiang Ibu yang selalu memberikan dukungan.

"Apapun pesan orang tua itulah yang terbaik untuk anak-anak nya. Untuk kebaikan kita sebagai anak-anak, penuh perjuangan yang saya lakukan sebelum sekarang ini. Tapi doa seorang Ibu mengubah saya," tuturnya.

Setelah pelantikan, Mat tidak langsung berlama-lama seperti pada umumnya orang ingin merayakan bersama, mengabadikan sebuah foto. Namun dia langsung memilih pergi dari keramaian untuk berziarah ke makam sang Ibu.

"Setelah pelantikan tidak langsung seperti orang pada umumnya merayakan suatu hal keberhasilan, apalagi membagikan ke media sosial. Tapi saya langsung pergi ke makam mama untuk panjatkan doa dan syukur kepada mama. Karena doanya, Tuhan menjawab dan mengubah semua perjalanan hidup saya ini," jelasnya.

Perjalanan hidup Mat, yang kini memiliki tiga orang anak mengajarkan kepada keluarga maupun anak-anaknya untuk menghormati dan menghargai jerih payah sang Ibu. Karena doa bisa mengubah hidupnya hingga saat ini.

"Itu yang saya ajarkan kepada anak-anak dan keluarga atau adik-adik saya. Untuk tetap berdoa, berusaha dan kerja keras. Doa mama adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan untuk mengadikan diri sebagai pelayan bagi masyarakat, hidup sederhana. Tidak mudah tapi saya akan bekerja baik untuk mendiang mama dan masyarakat," ucap dia.

Mat dalam keluarganya merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara, kini menjadi legislator termuda berusia 34 tahun di Kabupaten Sarmi, bahkan seluruh tanah Papua. Apalagi bisa memegang palu sidang pimpinan dewan masa jabatan 2024-2029.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....