Bripka Hamdani Ismail: Cahaya Harapan dari Pedalaman Papua
- 21 Feb 2025 19:49 WIB
- Jayapura
KBRN, Jayapura: Senja merayap perlahan di Kampung Bifo, Distrik Passue Bawah, Papua Selatan. Angin membawa keheningan yang menyelimuti kamar berukuran 3x3 meter di rumah saudaranya.
Di sudut ruangan, Bripka Hamdani Ismail duduk bersila, matanya terpaku pada layar ponsel. Malam itu, Jumat, 21 Februari 2025, takdir menuliskan babak baru dalam perjalanan hidupnya.
Sidang akhir kelulusan Sekolah Inspektur Polisi (SIP) Angkatan 54 Tahun 2025 baru saja diumumkan. Dari ponselnya, Hamdani mendengar namanya dipanggil—urutan kedua dari daftar peserta yang lulus terpilih.
Bukan sekadar lulus, ia masuk dalam kuota Mabes Polri, sebuah penghargaan dari Kapolri. Sejenak, keheningan berubah menjadi gemuruh di dadanya. Air mata haru tumpah, mengalir bersama lelah yang telah ia pikul bertahun-tahun.
"Ini diluar ekspektasi, tidak disangka-sangka dan melebihi apa yang saya harapkan. Ternyata bisa tembus sekolah SIP dengan penunjukan langsung dari Kapolri," ujarnya.
Perjalanan menuju titik ini bukanlah perjalanan yang mudah. Belasan tahun lalu, lelaki kelahiran Kota Jayapura ini memulai tugasnya sebagai Bhabinkamtibmas di pedalaman Mappi.
Berperahu menyusuri sungai yang tersumbat tebu rawa, berjalan kaki menembus rimba, dan bertahan dalam keterbatasan. Kini, kerja kerasnya dibayar lunas oleh sejarah.
"Syukur Alhamdullilah, ini semua berkat doa keluarga, sahabat, rekan kerja dan dukungan pimpinan," kata Hamdani.
Bripka Hamdani Ismail adalah anggota Bhabinkamtibmas Polda Papua yang telah mengabdi selama 16 tahun di pedalaman Kabupaten Mappi, khususnya di Kampung Wonggi, Distrik Passue Bawah.
“Penempatan tugas pertama saya begitu dilantik menjadi anggota Polri di Polsek Citak Mitak, Polres Mappi. Hanya saja pada 2014 saya dipindahkan ke daerah terpencil atau di distrik pemekaran, yaitu Distrik Passue Bawah,” ucap Hamdani.
Sebelum terlibat dalam dunia pendidikan di Kampung Wonggi, perjalanan hidup Hamdani di awal masa penugasannya terbilang tak mudah. Untuk sampai ke Kampung Wonggi dari Polsek Citak Mitak, Hamdani harus menggunakan perahu cepat sekitar dua sampai tiga jam. Itu pun jika sungai yang dilewatinya tidak ada kendala.
“Jadi ada tumbuhan di sungai yang disebut oleh masyarakat di sini sebagai tebu rawa. Bila sungai tertutup tebu rawa, kami harus turun dari perahu dan membersihkannya dulu untuk membuat jalan,” kata dia.
“Kalau bisa dibilang tumbuhan ini seperti eceng gondok, tapi versinya besar. Setelah kami bersihkan dan buat jalan, baru kami angkat mesin perahu dan mulai mendorong perahu sampai ujungnya. Tapi ada kalanya sungainya surut, jadi kami letakan perahu di muara, lalu kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki,” ujarnya.
Selain kondisi gegrafis sulit, Hamdani juga menghadapi tantangan yakni ketidakpercayaan masyarakat terhadap aparat. Pada Oktober 2012, sebuah insiden nyaris merenggut nyawanya setelah terjadi kesalahpahaman terkait penegurannya terhadap seorang anak yang terpengaruh minuman keras.
“Saya mencoba mengamankan anak itu, tapi tiba-tiba muncul kabar bohong bahwa saya memukulnya. Masyarakat marah dan menyerang saya. Untungnya, ada warga lain yang melindungi saya dan keluarga,” ujar Hamdani mengingat kejadian tersebut.
Peristiwa ini membuka matanya bahwa masyarakat masih memiliki stigma negatif terhadap kepolisian. Ia menyadari bahwa cara pendekatan yang lebih humanis harus diterapkan untuk membangun kepercayaan.
Dari situ, Hamdani mulai mendekati warga dengan pendekatan sosial, mengunjungi rumah-rumah, menghadiri pertemuan adat, serta membangun komunikasi dengan tokoh masyarakat.
“Saya datang ke rumah-rumah, masuk ke gereja, berbaur dengan mereka. Saya ingin menunjukkan bahwa polisi bukan ancaman, tapi bagian dari mereka,” kata dia.
Usahanya berbuah manis. Lambat laun, masyarakat menerima Hamdani sebagai bagian dari mereka. Puncaknya, ia diangkat sebagai anak adat oleh masyarakat Kampung Wonggi, sebuah kehormatan yang diberikan sebagai tanda penerimaan penuh.
“Saya tidak menyangka masyarakat akan mengangkat saya sebagai anak adat. Ini adalah momen yang sangat berarti bagi saya,” ucapnya.
Namun, perjalanannya tidak berhenti di situ. Melihat minimnya tenaga pengajar di Kampung Wonggi, Hamdani mengambil peran lebih jauh dengan menjadi guru bagi anak-anak di sana sejak tahun 2020.
“Saya mulai membantu mengajar karena saya lihat banyak anak-anak yang tidak sekolah. Mereka lebih banyak bermain di hutan atau ikut orang tua bekerja,” ujar ia.
Dengan seragam dinasnya, ia mengajarkan membaca, menulis, serta mengenalkan sejarah dan nilai kebangsaan kepada anak-anak. Bahkan, ia berinisiatif mengumpulkan dan mendistribusikan lebih dari 100 buku hasil donasi agar anak-anak di Kampung Wonggi dapat memiliki bahan bacaan yang layak.
“Saya ingin mereka bisa membaca dan mencintai ilmu. Pendidikan adalah harapan untuk masa depan yang lebih baik,” katanya.
Upayanya mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Kepala SMP Negeri 1 Wonggi, Hendrik Lattu, yang merasa sangat terbantu.
“Kami hanya berdua mengajar hampir 80 siswa. Kehadiran Bripka Hamdani sangat membantu kami, baik dalam mengajar maupun memberikan motivasi kepada anak-anak,” ujar Hendrik.
Di ujung tanah Papua, seorang polisi bukan hanya penegak hukum. Ia menjadi jembatan kepercayaan, menjadi guru bagi yang haus ilmu, menjadi saudara bagi mereka yang dulu menaruh curiga.
Bripka Hamdani telah membuktikan bahwa pengabdian sejati bukan tentang tempat di mana seseorang ditempatkan, tetapi tentang hati yang memilih untuk tetap bertahan dan memberi makna.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....