Baju Bekas Naik Kelas, Gen Z Lawan Fast Fashion lewat Thrifting

  • 30 Apr 2026 18:22 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Di Blok M, setiap akhir pekan, anak muda berdesakan memilih baju bekas dengan teliti di antara rak. Mereka bukan berhemat terpaksa, tetapi menyatakan gaya hidup bertanggung jawab terhadap bumi itu keren dan membanggakan kini.

Pasar global pakaian bekas menurut Statista, diproyeksikan mencapai 218 miliar dolar Amerika Serikat pada 2026 meningkat pesat. Penelitian Anwar dan Jholanda 2025, menyebut thrifting didorong kesadaran berkelanjutan dan akses media sosial luas.

Generasi Milenial dan Gen Z membeli pakaian bekas 250 persen lebih cepat, dibanding generasi sebelumnya. Di Yogyakarta, Solo, Surabaya, dan Jakarta toko thrift bermunculan dari lapak sederhana hingga kios vintage menarik perhatian publik.

Peneliti Universitas Panca Bhakti dan Universitas Gadjah Mada, meneliti 345 responden muda. Hasilnya dipublikasikan melalui The Conversation April 2025. Studi menunjukkan kesadaran lingkungan meningkat, namun harga dan estetika vintage tetap menjadi alasan utama memilih baju bekas.

Pemerintah mengawasi ketat impor ilegal pakaian bekas, yang dianggap mengancam industri tekstil dalam negeri yang sedang bertahan. Namun thrifting tetap mengubah cara pandang anak muda, dari konsumsi menjadi ekspresi identitas yang lebih bermakna.

Setiap baju bekas yang berpindah tangan, membantu mengurangi limbah tekstil yang menjadi krisis lingkungan global saat ini. Jika gerakan ini terus tumbuh, anak muda Indonesia akan membentuk budaya berpakaian yang lebih bijak dan berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....