Luka Diam Remaja Indonesia: Bullying dan Krisis Mental

  • 30 Apr 2026 18:02 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Sepanjang tahun 2025, hampir setiap bulan muncul nama remaja korban perundungan di sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman. Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia, mencatat 573 kasus kekerasan sekolah sepanjang 2024 meningkat tajam dari 285 kasus sebelumnya.

Sebut saja kasus MH, siswa SMPN 19 Tangerang Selatan, yang meninggal akibat kekerasan fisik berulang dari teman. Di Surabaya siswi SMP berinisial CP, mengalami perundungan massal oleh remaja dari beberapa sekolah hingga awal Januari 2026.

Perundungan tidak berhenti di sekolah tetapi mengejar korban hingga ruang pribadi, melalui layar ponsel setiap malam tanpa henti. Laporan SAFEnet triwulan pertama 2024, mencatat perundungan siber melonjak lebih dari 100 persen menjadi 480 kasus secara signifikan.

Tubuh mungkin tidak memar, tetapi luka batin korban perundungan jauh lebih dalam dan berlangsung lama dari yang dibayangkan. Penelitian Tumanggor Ginting dan Pardede 2025, membuktikan bullying berkaitan langsung dengan kecemasan, depresi, serta isolasi sosial berkepanjangan.

Survei Indonesian National Adolescent Mental Health Survey 2022, menyebut satu dari tiga remaja mengalami masalah kesehatan mental serius. Namun hanya 2,6 persen yang mengakses layanan konseling, sehingga banyak luka batin remaja tetap tidak tertangani dengan baik.

Sekolah bukan satu-satunya yang harus berbenah, karena keluarga, komunitas, dan negara memiliki tanggung jawab melindungi remaja Indonesia. Selama konselor langka, laporan dianggap aib, dan bullying diremehkan, generasi muda akan terus menanggung luka dalam diam.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....