Merajut dan Melukis Jadi Terapi, Bukan Sekadar Hobi Biasa
- 29 Apr 2026 10:20 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura - Di sudut kafe kota besar, anak muda kini merajut syal sambil menikmati kopi hangat dengan suasana santai. Aktivitas ini bukan sekadar hobi, melainkan bagian gerakan kesehatan mental yang tumbuh diam-diam di Indonesia saat ini.
Craft therapy dan art therapy, kini bukan lagi istilah asing yang hanya dikenal di klinik psikologi tertentu saja. Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi, menjelaskan aktivitas kreatif membawa manusia ke kondisi yang menenangkan jiwa secara mendalam.
Dunia ilmu pengetahuan telah lama membuktikan, aktivitas tangan berkarya memiliki kekuatan penyembuhan yang signifikan bagi manusia. Penelitian Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa, mencatat art therapy efektif membantu regulasi emosi masyarakat mengalami tekanan psikologis berat.
Manfaat tersebut, tidak hanya dirasakan oleh individu yang menjalani penanganan klinis profesional dalam terapi psikologis secara intensif. Kajian Jurnal Penelitian Inovatif, menemukan terapi seni membantu menyalurkan emosi sulit diungkapkan melalui kata-kata sehari-hari.
Fenomena ini mendorong craft therapy dan art therapy, menjadi tren gaya hidup di tengah kesibukan generasi muda Indonesia. Berbagai aktivitas kreatif seperti merajut, membuat lilin, hingga mengolah tanah liat dipilih sebagai cara melepas penat.
Tantangan tetap ada, karena tidak semua orang memiliki akses mudah terhadap kegiatan terapi kreatif secara mandiri. Penting memastikan manfaat craft therapy menjangkau seluruh lapisan masyarakat, agar ruang pemulihan jiwa tersedia secara merata.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....