Healing Culture, Pelarian atau Kebutuhan Nyata Gen Z?
- 29 Apr 2026 09:43 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura - Kata 'healing' kini bukan sekadar istilah asing di telinga anak muda. Fenomena ini telah menjelma menjadi gaya hidup yang mengakar kuat di kalangan Generasi Z Indonesia.
Riset Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner (JPIM) Vol. 2, 2025, mengungkap fakta yang cukup mengejutkan soal generasi ini. Konten self-healing di Instagram telah berkembang menjadi semacam 'terapi mikro' yang memberi rasa tenang bagi pengguna muda.
Tekanan akademik, persaingan kerja, dan paparan media sosial yang tak henti menjadi pemicu utama stres pada Gen Z. Studi Annie E. Casey Foundation (2024), mencatat 65 persen Gen Z pernah mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental.
Fenomena ini lantas melahirkan ragam aktivitas baru yang diberi label 'healing' oleh para pelakunya sendiri. Mulai dari solo traveling ke alam terbuka, mengikuti kelas meditasi, menulis jurnal harian, hingga mendengarkan musik di kafe.
Namun, para peneliti mengingatkan tidak semua praktik yang disebut healing benar-benar menyentuh akar persoalan psikologis seseorang. Penelitian Saepudin dan Firdaus dalam Jurnal Psikologi Sosial Indonesia Vol. 9 (2024), menegaskan tentang pemaknaan 'healing'. Yakni di kalangan Gen Z, 'healing' sering kali lebih bersifat kultural daripada klinis.
Meski demikian, para psikolog menilai gerakan ini tetap membawa dampak positif jika diarahkan dan didampingi informasi yang valid. Kolaborasi antara kreator konten dan profesional kesehatan mental, menjadi kunci agar budaya healing benar-benar memberi manfaat nyata.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....