Harapan yang Sempat Redup Menyala di Sekolah Rakyat

  • 24 Jun 2026 16:51 WIB
  •  Jayapura
Video

RRI.CO.ID, Jayapura - “Memang sekolah rakyat kita wujudkan untuk membantu mereka yang paling susah, mereka yang paling kurang berdaya. Jadi pembangunan kita sebagai bangsa, tujuannya adalah untuk membuat seluruh rakyat Indonesia hidupnya layak. Kita harus bekerja keras di semua bidang. Salah satu adalah pendidikan, pendidikan yang bisa membuat rakyat sejahtera. Karena itu pemerintah, pemimpin-pemimpin harus bekerja keras,” Itulah ucap Presiden Prabowo Subianto, terkait Pendidikan di Indonesia.

Program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto dan dijalankan Kementerian Sosial, menjadi inovasi penting memutus rantai kemiskinan. Kehadirannya membawa harapan baru bagi anak-anak keluarga kurang mampu, untuk memperoleh akses pendidikan yang lebih baik.

Berdasarkan data terintegrasi, jumlah Anak Tidak Sekolah atau ATS di Papua Induk mencapai puluhan ribu anak. Mereka tersebar di delapan kabupaten dan satu kota, menjadi tantangan besar dalam pemerataan layanan pendidikan.

Salah satu potret dari kondisi tersebut, terlihat pada seorang anak asal Kabupaten Sarmi yang penuh semangat. Kisahnya bermula dari sebuah perkenalan sederhana, yang kemudian membuka harapan baru untuk meraih masa depan.

“Nama Demianus Saboai. Saya tinggal di Sarmi, Provinsi Papua," ujarnya.

Sebelum matahari terbit, remaja yang akrab disapa Demin sudah bergegas menuju pantai untuk membantu para nelayan. Di sana, ia mengangkat hasil tangkapan, demi memperoleh upah berupa beberapa ekor ikan yang kemudian dijual kembali.

Pekerjaan itu dijalani setiap hari dengan penuh semangat, meski harus menguras tenaga sejak pagi buta. Langkah kecil tersebut dilakukan Demin dengan satu tujuan mulia, yakni membantu keluarga dan melanjutkan pendidikan.

"Saya harus membantu mama di rumah. Pergi ambil ikan dari nelayan, agar memenuhi kebutuhan keluarga," katanya.

Demianus paham betul arti perjuangan hidup. Alih-alih menyerah pada keadaan, ia justru mencari jalan untuk meringankan beban orang tuanya. Harapan baru itu, akhirnya terbuka lebar saat ia pertama kali mendengar keberadaan Sekolah Rakyat dari Kemensos ini.

“Ketika saya dengar ada Sekolah Rakyat, saya ingin masuk ke Sekolah Rakyat itu. Supaya mama tidak berpikir lagi biaya sekolah saya," ucap Demianus.

Kemandirian Demianus, lahir dari keteguhan sebuah keluarga yang hidup dalam kesederhanaan di balik dinding rumah kayu. Sang mama, Alfrida Bagre, menceritakan kembali bagaimana peliknya situasi ekonomi, yang hampir saja memutus tali pendidikan putranya tersebut.

“Di dalam rumah ini ada adik kaka, jadi mereka itu semua ada enam bersaudara, Demianus anak kelima. Untuk melanjutkan ke SMA mama tidak mampu membiayai, sekarang Demianus bisa masuk karena Sekolah Rakyat," ucap Alfrida.

Harapan baru yang dirasakan keluarga Demianus tidak lepas dari peran guru sebagai garda terdepan. Yakni di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 42 Sarmi. Mereka menjadi ujung tombak dalam mendampingi anak-anak dari keluarga kurang mampu, untuk kembali mengenyam pendidikan.

Namun, mengembalikan anak-anak yang lama putus sekolah ke ruang kelas bukanlah pekerjaan yang mudah dijalankan. Para guru harus membangun kembali semangat belajar, sekaligus menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan setiap peserta didik.

Di Kabupaten Sarmi, tenaga pengajar berhadapan dengan realita keberagaman latar belakang anak didik yang sangat beragam. Kondisi tersebut menuntut kesabaran, ketekunan, serta komitmen tinggi dalam mendampingi proses belajar mereka setiap hari.

Hal itu disampaikan tenaga pendidik Juan Fandy Tuhumury, saat menceritakan tantangan yang dihadapi para guru. Menurutnya, setiap anak memiliki pengalaman berbeda sehingga memerlukan pendekatan khusus selama mengikuti pembelajaran di sekolah.

“Untuk tantangan ngajar di Sekolah Rakyat, terkhususnya di Sarmi itu karena penerimaan siswanya itu beragam. Ada yang siswa yang mungkin awalnya tidak bersekolah. Kemudian bersekolah, masuk ke Sekolah Rakyat itu kami benar-benar, kami guru itu benar-benar ditempah," katanya

Kondisi tersebut memaksa para guru untuk tidak langsung mengejar materi kurikulum formal. Mereka harus memutar otak dan memulai perjuangan dari fondasi paling dasar. Hal ini lantaran ketertinggalan akademis yang ditemukan di lapangan, ternyata jauh lebih menantang.

"Untuk mengajar, pertama itu kami melakukan literasi numerasi. Awalnya itu ada beberapa siswa yang mungkin masih lambat dalam membaca, kemudian menghitung. Jadi kami untuk satu semester kemarin itu kami produkif untuk di literasi numerasinya. Di Kabupaten Sarmi ini, ternyata memang masih ada siswa yang bahkan sampai SMA ini belum bisa membaca. Bahkan berhitungnya masih sangat kurang. Jadi semester satu itu kami fokus sekali untuk literasi numerasinya,” ujar Juan.

Melihat besarnya tantangan pendidikan di lapangan, Pemerintah Kabupaten Sarmi bergerak cepat memanfaatkan fasilitas yang ada. Hal ini disampaikan oleh Bupati Sarmi Dominggus Catue

“Peran pemerintah daerah dalam hal ini, yang pertama menyediakan sarana. Sarana yang sekarang digunakan SR ini awalnya kantor BKPSDM kantor diklat. Tetapi setelah ada program ini, ya kami coba untuk menerima program Nasional ini secara baik. Karena memang itu menjadi kebutuhan kami di Kabupaten Sarmi. Kita menyediakan tempat dan proses belajar-mengajar dari tahun lalu sudah berjalan," katanya.

Langkah awal pemanfaatan gedung milik daerah tersebut, menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam mendukung pelaksanaan program ini. Upaya tersebut menunjukkan komitmen nyata, agar layanan pendidikan dapat segera menjangkau anak-anak yang membutuhkan di daerah.

Namun, pemerintah setempat juga telah menyiapkan rencana pembangunan yang lebih kokoh untuk jangka panjang program. Langkah itu dilakukan, guna memastikan keberlanjutan Sekolah Rakyat serta meningkatkan kualitas sarana pendidikan secara berkelanjutan.

"Selanjutnya, dukungan pemerintah itu kami menyediakan lahan, untuk bagaimana sekolah itu dibangun secara permanen. Karena ini pada prinsipnya pinjam pakai. Mungkin sejauh itu dukungan kami terhadap program pemerintah, khususnya program Sekolah Rakyat di Kabupaten Sarmi," ujar Bupati.

Penyediaan ruang fisik barulah langkah awal. Agar roda pendidikan dapat berputar tanpa hambatan, perhatian pemerintah daerah juga mulai menyentuh aspek operasional. Selain itu, dilakukan pula pendampingan langsung bagi para siswa.

"Dari pemerintah daerah, kami menyediakan lahan. Secara teknis, ada dukungan tenaga yang kami tambahkan juga untuk mendukung proses belajar mengajar. Selain itu juga anak-anak di asrama," ucap Bupati.

Kendati dukungan fasilitas dan bantuan operasional terus diupayakan oleh daerah, kendala mendasar di sektor sumber daya manusia masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Oleh karena itu, sebuah sinergi yang lebih luas kini sangat diharapkan demi masa depan anak-anak Papua.

"Tenaga guru yang terbatas di sekolah rakyat, kami berharap ini akan menjadi perhatian kita bersama antara pemerintah daerah, tapi juga pihak kementrian dan juga pemerintah pusat,” Terang Bupati.

Dari sisi pemerintah pusat, perpanjangan tangan Kementerian Sosial di wilayah timur Indonesia menegaskan komitmennya untuk mengawal penuh jalannya program ini di tingkat daerah. Kepala Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial atau BBPPKS Regional Enam Papua, John Herman Mampioper, menjelaskan peran strategis lembaga yang dipimpinnya.

“Nah kami di Balai Besar Regional 6 Maluku Papua di Jayapura tugas kami adalah memfasilitasi pemerintah daerah khusus di Maluku, Maluku Utara dan Tanah Papua dalam rangka mendukung program strategis nasional melalui implementasi sekolah rakyat di daerah."

Dari mandat besar tersebut, gerak nyata di lapangan mulai membuahkan hasil. Kendati demikian, pemetaan program di seluruh pelosok bumi cenderawasih ini masih terus diupayakan secara bertahap agar bisa menyentuh seluruh wilayah administrasi yang ada.

"Dan ini terbukti khususnya di Tanah Papua Dari enam provinsi ini, hanya kurang lebih tiga provinsi yang sudah melaksanakan atau mendukung implementasi sekolah rakyat melalui program rintisan sekolah rakyat yang sudah berjalan," ujar John.

Salah satu wilayah rintisan yang memperlihatkan capaian menggembirakan adalah Kabupaten Sarmi. Di sana, perkembangan anak-anak didik terpantau sangat baik, walau di sisi lain mereka harus beradaptasi dengan tantangan sosial berupa jarak dan lingkungan baru yang jauh dari keluarga.

"Di Sarmi, kami mendapat laporan bahwa siswa mengalami perkembangan yang positif terutama dari aspek pembelajaran dan juga semangat belajar dan antusias mereka cukup tinggi dan kita berharap dukungan penuh dari orang tua terutama pada saat mereka harus berpisah dengan orang tua tinggal dia selama dan ini menjadi tantangan tersendiri sehingga kita harap orang tua bisa memberikan dukungan," ujar *ohn.

Evaluasi dan pemantauan berkala pun terus berjalan demi kelancaran proses belajar-mengajar ke depan. Memasuki fase berikutnya, perhatian tidak hanya tertuju pada nilai-nilai akademis saja, melainkan juga pada kesejahteraan fisik para siswa agar mereka siap menjadi teladan bagi angkatan selanjutnya.

"Sehingga di semester 2 ini mereka dapat dipacu lagi untuk bisa meningkatkan kemampuan akademik, tapi juga tidak terlepas dari kondisi kesehatan dan lain-lain, kondisi fisik siswa, untuk bisa mampu menyelesaikan pendidikan di semester 2 ini dengan baik. Nantinya mereka bisa menjadi contoh bagi calon siswa baru, terutama di rekrutan untuk angkatan baru,” ujarJohn.

Saudara, Kementerian Sosial bersama Pemerintah Provinsi Papua tahun ini merealisasikan pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat di Biak Numfor, Sarmi, Kota Jayapura, dan Kabupaten Jayapura. Proses tender ditargetkan rampung pertengahan Juni dan pengerjaan fisik dimulai juli mendatang. Infrastruktur baru ini diproyeksikan mendongkrak kapasitas tampung dari 100 siswa menjadi ribuan anak di berbagai pelosok Papua.

Keberlanjutan program tersebut mendatangkan rasa syukur mendalam bagi anak-anak di Sarmi. Demianus pun menyampaikan apresiasi tertingginya atas kehadiran sekolah Rakyat ini. “Saya juga berterima kasih kepada Bapak Presiden karena telah membuat program Sekolah Rakyat, karena sekolah ini memberikan kesempatan buat saya dan teman-teman yang lain untuk mendapat masa depan yang lebih baik,” Ucap Demiaus.

Dari pesisir pantai Sarmi, lewat peluh keringat menyortir ikan hasil tangkapan nelayan, hingga keteguhan hati seorang anak kelima di balik dinding rumah kayu, kisah Demianus adalah bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah akhir dari segalanya.

Program Sekolah Rakyat yang digagas oleh Presiden Prabowo melalui Kementerian Sosial, bukan sekadar menghadirkan bangunan fisik tempat belajar. Lebih dari itu, program ini hadir sebagai jembatan kokoh yang merajut kembali mimpi-mimpi anak Papua yang sempat patah di tengah jalan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....