Kain Tenun Terfo Orang Sobey di Sarmi

  • 04 Agt 2024 06:25 WIB
  •  Jayapura

KBRN, Jayapura: Kabupaten Sarmi yang dikenal dengan sebutan Kota Ombak memiliki keunikan, yaitu seni tenun tradisional yang disebut tenun terfo. Seni ini berkembang dalam kehidupan orang Sobey yang diwariskan turun-temurun, dan masih dipertahankan hingga saat ini.

Tenun Terfo dahulu berbentuk persegi panjang mirip selempang, yang digunakan untuk menutup aurat bagi laki-laki maupun perempuan. Mengutip warisanbudaya.kemdikbud.go.id, terfo adalah anyaman dari bahan baku pucuk daun nipah atau daun nibung dalam bahasa orang Sobey.

Pucuk daun nibung yang sudah dipilih, kemudian direbus selama dua jam hingga layu. Cara ini dilakukan untuk mengambil serat yang kemudian akan digunakan sebagai benang.

Serat daun nibung yang telah menjadi benang ini, lalu diwarnai menggunakan berbagai pewarna alami. Warna merah dari akar pohon mare, warna hitam dari pohon menoerta, dan warna biru dari buah pohon menwafo.

Semua proses pewarnaan dilakukan dengan cara merendam gulungan benang serat nibung ke dalam pewarna-pewarna alami tersebut. Selanjutnya dikeringkan dengan cara dijemur.

Dahulu, ketika membuat tenun terfo, perempuan Sobey menggunakan peralatan yang sangat sederhana dari pelepah pohon nibung atau sagu. Saat ini, perempuan Sobey menggunakan kayu besi yang kokoh sebagai rangkanya dengan sistem kerja yang lebih efisien.

Dalam budaya orang Sobey, tenun terfo dibagi menjadi tiga jenis. Pembagian ini berdasarkan tingkatannya.

Jenis pertama, terfo yang dipasang sebagai hiasan dan lambang pada rumah adat karwari atau rumah adat matahari. Kedua yaitu terfo yang digunakan kepala suku (Satetum) serta anaknya, dan jenis ketiga terfo untuk untuk masyarakat umum.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....