BMKG: Puncak Musim Kemarau 2026 Diprakirakan Terjadi Agustus
- 13 Agt 2026 11:45 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memprakirakan puncak musim kemarau 2026 paling luas terjadi pada Agustus. Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung serentak di seluruh Indonesia, karena setiap wilayah memiliki waktu puncak kemarau berbeda.
Melansir laman infobmkg, berdasarkan pemutakhiran BMKG, sebanyak 369 Zona Musim atau ZOM diprediksi mengalami puncak kemarau pada Agustus. Jumlah tersebut mencakup sekitar 48,84 persen luas daratan Indonesia, sementara wilayah lainnya mengalami puncak kemarau Juli dan September.
Sebanyak 83 ZOM atau 12,26 persen wilayah diprakirakan mencapai puncak kemarau pada Juli 2026. Sementara itu, sebanyak 169 ZOM atau 25,41 persen wilayah diperkirakan mengalami puncak kemarau pada September 2026.
Wilayah yang mengalami puncak kemarau Agustus mencakup sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Sebagian besar Pulau Papua, juga termasuk wilayah yang diprakirakan mengalami puncak musim kemarau pada periode tersebut.
| Baca juga: BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Papua Tiga Hari |
BMKG menegaskan, bahwa puncak musim kemarau ditentukan berdasarkan periode dengan curah hujan paling sedikit dalam suatu wilayah. Karena itu, kondisi udara yang terasa panas, tidak selalu menunjukkan wilayah tersebut sedang mengalami puncak musim kemarau.
Selain itu, BMKG memprakirakan musim kemarau 2026 cenderung lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Kondisi tersebut perlu diantisipasi, karena dapat meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.
Masyarakat diimbau menjaga ketersediaan air, menggunakan air secara bijak, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama kemarau. Pemerintah daerah juga didorong memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak kekeringan dan berbagai risiko yang menyertainya.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim terbaru, sesuai kondisi wilayah masing-masing. Dengan memahami perbedaan waktu puncak kemarau, masyarakat dapat mempersiapkan kebutuhan air dan mengantisipasi dampak kekeringan secara lebih tepat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....