Anak Bungsu Jadi Generasi Sandwich karena Dianggap Belum Memiliki Tanggungan?
- 13 Agt 2026 10:39 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura - Di tengah meningkatnya kebutuhan merawat orang tua, anak bungsu kerap menjadi generasi sandwich karena dianggap belum memiliki tanggungan. Padahal, anggapan tersebut dapat membuat anak bungsu memikul beban ganda tanpa mempertimbangkan kondisi, pekerjaan, serta rencana hidupnya.
Fenomena generasi sandwich terjadi, ketika orang dewasa membantu orang tua yang menua sekaligus memenuhi kebutuhan keluarganya. Penelitian Ingersoll-Dayton, Neal, dan Hammer dalam Family Relations, menjelaskan kompleksitas manfaat serta beban pertukaran dukungan antargenerasi tersebut.
Pada keluarga dengan beberapa anak, tanggung jawab merawat orang tua tidak terbagi secara merata di antara saudara kandung. Studi Leinonen dalam Ageing & Society, menemukan bahwa pembagian tanggung jawab perawatan orang tua pada anak tidak seimbang.
Situasi tersebut, membuat anak bungsu dianggap lebih siap ketika saudara lainnya sudah menikah, memiliki anak, atau tinggal berjauhan. Anggapan bahwa anak bungsu belum mempunyai tanggungan, membuat keluarga menyerahkan tanggung jawab perawatan lebih sering kepadanya.
Namun, penelitian internasional belum membuktikan bahwa anak bungsu secara umum sering menjadi generasi sandwich dibandingkan saudara lainnya. Studi tentang urutan kelahiran menunjukkan, posisi anak dalam keluarga berkaitan dengan pola pengasuhan dan pembagian perhatian orang tua.
Melansir Penelitian Keller dan Zach dalam Journal of Cross-Cultural Psychology, terdapat pengaruh urutan kelahiran terhadap perilaku orang tua. Temuan tersebut menunjukkan posisi kelahiran membentuk dinamika keluarga, tetapi tidak otomatis menentukan tanggung jawab seseorang ketika orang tua menua.
Anak bungsu mungkin belum memiliki anak, tetapi dapat mempunyai pekerjaan, pasangan, kebutuhan pribadi, serta rencana kehidupan yang harus diperhitungkan. Karena itu, status belum memiliki tanggungan keluarga, tidak seharusnya menjadi alasan tunggal untuk menetapkan seseorang sebagai pengasuh utama.
Pembagian tanggung jawab sebaiknya mempertimbangkan jarak tempat tinggal, kemampuan finansial, waktu tersedia, kondisi kesehatan, dan kesediaan setiap saudara. Komunikasi terbuka penting dilakukan, agar kebutuhan orang tua dapat dibicarakan bersama tanpa membebankan seluruh kewajiban kepada anak tertentu.
Pada akhirnya, menjadi anak bungsu tidak berarti otomatis menjadi anggota keluarga yang bertanggung jawab penuh pada keluarga. Perawatan orang tua idealnya menjadi kesepakatan bersama berdasarkan kemampuan nyata, sehingga kasih sayang berjalan tanpa mengorbankan kehidupan pribadi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....