Rahasia Ilmiah Dibalik Kebahagiaan: ternyata Bisa Diciptakan
- 30 Mei 2026 05:07 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura - Kebahagiaan sering dianggap sebagai hasil takdir atau peristiwa besar, padahal dapat dibentuk melalui kebiasaan sehari-hari sederhana. Riset neurosains dan psikologi, menunjukkan bahwa kebahagiaan merupakan kondisi biologis yang dapat diciptakan secara sengaja.
Melansir Hang Tuah, kebahagiaan berkaitan erat dengan kehidupan bermakna yang lahir dari pengenalan potensi diri. Individu yang memahami kelebihan dan keunikannya cenderung memiliki keterikatan kuat terhadap tujuan hidup lebih besar.
Para ilmuwan menjelaskan, bahwa kebahagiaan manusia dipengaruhi empat senyawa kimia utama yang dikenal dengan singkatan DOSE. Senyawa tersebut terdiri atas dopamin, oksitosin, serotonin, dan endorfin yang berperan penting dalam kesejahteraan emosional.
1. Dopamin (Hormon Penghargaan)
Dopamin terpicu, ketika seseorang menerima apresiasi atau berhasil mencapai target yang telah ditetapkan sebelumnya dalam hidup. Menyelesaikan tugas sederhana, merawat diri, atau mencoret daftar pekerjaan, dapat meningkatkan produksi hormon tersebut.
2. Oksitosin (Hormon Cinta dan Ikatan)
Oksitosin dilepaskan, ketika seseorang menjalin hubungan sosial yang hangat dan penuh rasa saling percaya. Berpelukan, bermain dengan hewan peliharaan, atau membantu sesama, dapat memicu peningkatan hormon ini secara alami.
3. Serotonin (Penstabil Suasana Hati)
Serotonin berperan menjaga kestabilan suasana hati, sekaligus membantu mengurangi risiko munculnya gejala depresi serius. Kadar serotonin dapat ditingkatkan melalui berjemur pagi, meditasi, dan membiasakan diri menuliskan rasa syukur.
4 Endorfin (Pereda Nyeri Alami)
Endorfin memberikan sensasi nyaman dan euforia ringan, yang membantu tubuh menghadapi tekanan sehari-hari dengan baik. Olahraga kardio, menonton film komedi, atau tertawa bersama teman, menjadi pemicu utama hormon tersebut.
Temuan ini didukung Harvard Study of Adult Development, yang berlangsung lebih dari 80 tahun lamanya. Penelitian tersebut menyimpulkan, bahwa kesehatan fisik dan hubungan sosial lebih menentukan kebahagiaan dibandingkan kekayaan.
Berkat kemampuan neuroplastisitas, otak mampu membentuk jalur saraf baru melalui kebiasaan positif yang berulang. Karena itu, kebahagiaan bukan sesuatu yang ditunggu, melainkan diciptakan secara sadar setiap hari oleh manusia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....