People Pleaser: Ketulusan Hati yang Disalahgunakan
- 11 Mei 2026 19:09 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura - Melansir Psikologi Universitas Esa Unggul, people pleaser merupakan sikap selalu membantu orang lain tanpa memprioritaskan kebutuhan pribadi. Sikap tersebut sering dimanfaatkan, karena seseorang merasa sungkan menolak permintaan dan terlalu patuh terhadap orang lain.
Melansir Psychology Today, membantu orang lain secara tulus merupakan tindakan mulia yang layak mendapatkan apresiasi positif. Namun, batasan terlalu longgar, membuat sebagian orang merasa bebas mengambil keuntungan demi kepentingan pribadi mereka sendiri.
Kurangnya ketegasan berkomunikasi, sering dianggap sebagai tanda seseorang bersedia menerima beban tambahan tanpa keberatan berarti. Keinginan menyenangkan semua orang tanpa batas, justru membuka peluang individu oportunis memanfaatkan energi serta ketulusan seseorang.
Sebagian orang memiliki kecenderungan mencari keuntungan instan, dengan mengandalkan belas kasihan serta perhatian orang lain secara terus-menerus. Kebiasaan tersebut berkembang menjadi perilaku toksik, karena mereka merasa bantuan tersedia tanpa perlu berusaha keras terlebih dahulu.
Empati tinggi tanpa kecerdasan emosional kuat, dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang secara perlahan. Menolak permintaan seseorang, bukan berarti menjadi pribadi jahat ataupun kehilangan nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari secara keseluruhan.
Menetapkan batasan pribadi secara jelas, menjadi langkah penting melindungi diri dari berbagai bentuk manipulasi emosional merugikan. Keberanian berkata tidak dengan sopan, membantu menyaring orang yang benar-benar menghargai ketulusan serta perhatian diberikan secara tulus.
Kebaikan yang sehat, adalah membantu sesama tanpa mengorbankan kesehatan fisik maupun kebahagiaan batin dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat perlu belajar lebih bijak berbagi, agar ketulusan hati tidak berubah menjadi beban menyakitkan berkepanjangan nantinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....