Mahasiswa AS Ubah Jurusan Kuliah, Dampak AI

  • 19 Apr 2026 04:54 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Kekhawatiran terhadap perkembangan Artificial Intelligence (AI), mendorong mahasiswa di Amerika Serikat mempertimbangkan ulang pilihan jurusan kuliah mereka. Laporan Lumina Foundation bersama Gallup, sekitar 47 persen mahasiswa mempertimbangkan mengganti jurusan akibat dampak AI terhadap dunia kerja.

Fenomena ini mencerminkan kekhawatiran bahwa AI dapat menggantikan sejumlah pekerjaan di masa depan. Oleh karena itu, mahasiswa berupaya memilih bidang studi yang dinilai lebih aman dari risiko otomatisasi.

Menariknya, kecenderungan untuk mengubah jurusan lebih banyak terjadi pada mahasiswa laki-laki dibanding perempuan. Selain itu, sebagian mahasiswa bahkan telah benar-benar berpindah jurusan sebagai respons terhadap perkembangan teknologi tersebut.

CEO BlackRock, Larry Fink, menilai lulusan tahun 2026 akan menghadapi tantangan besar dalam memasuki pasar kerja. Ia menyebut percepatan adopsi AI, mengubah lanskap ketenagakerjaan secara signifikan.

Menurutnya, meskipun AI berpotensi mengganggu sejumlah sektor pekerjaan, teknologi ini juga membuka peluang baru. Peluang yang dimaksud, adalah yang belum sepenuhnya diisi oleh tenaga kerja yang memiliki keterampilan relevan.

Melansir laman Gallup, survei tersebut dilakukan pada Oktober 2025 terhadap ribuan mahasiswa di Amerika Serikat. Survei tersebut menunjukkan, bahwa AI telah memengaruhi cara mahasiswa menentukan arah pendidikan dan karier mereka.

Kondisi ini menjadi sinyal bagi institusi pendidikan. Yakni untuk menyesuaikan kurikulum, agar lebih relevan dengan kebutuhan industri di era transformasi digital.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....