Sejarah Singkat Kartini
- 18 Apr 2026 19:49 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura- Kartini lahir di tengah tradisi feodal Jawa yang kuat. Sebagai anak bupati, ia mendapat keistimewaan bisa sekolah di ELS, sekolah Belanda untuk anak Eropa.
Tapi keistimewaan itu berhenti saat ia berusia 12 tahun. Ia harus menjalani pingitan, tidak boleh keluar rumah sampai dinikahkan.
| Baca juga: Mengapa Pipit Sering Disebut Burung Gereja? |
Melansir dari berbagai sumber, dari balik tembok pingitan, Kartini tidak diam. Ia membaca banyak buku, koran, dan majalah Eropa. Ia juga bersahabat pena dengan orang-orang Belanda seperti Rosa Abendanon.
Dari sanalah pemikirannya terbuka: mengapa perempuan pribumi tidak boleh sekolah tinggi? Mengapa nasib perempuan hanya ditentukan oleh pernikahan?
Tahun 1903, ia mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan di kompleks pendopo Kabupaten Jepara. Tanpa papan nama, tanpa gedung megah. Tujuannya sederhana: perempuan harus cerdas, bisa membaca, menulis, dan berpikir merdeka.
Kartini wafat muda, 17 September 1904, di usia 25 tahun, empat hari setelah melahirkan anak pertamanya. Ia tidak sempat melihat semua cita-citanya terwujud, tapi surat-suratnya dikumpulkan oleh J.H. Abendanon. Kemudian dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Licht - Habis Gelap Terbitlah Terang.
Atas jasanya, Presiden Soekarno menetapkan 21 April sebagai Hari Kartini. Yakni melalui Keputusan Presiden No. 108 Tahun 1964. Kartini juga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....