Budaya Malu, Tanggung Jawab, dan Polemik Beasiswa Negara
- 24 Feb 2026 09:58 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura - Satu unggahan singkat di media sosial, berubah menjadi percakapan nasional yang panjang. Cuitan istri penerima beasiswa tentang kebanggaan anak berkewarganegaraan Inggris, memicu gelombang reaksi.
Nama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) segera terseret dalam pusaran perdebatan warganet. Kalimat cukup aku saja yang WNI anak-anakku nggak usah, dianggap menyinggung rasa kebangsaan sebagian publik.
Bagi banyak orang Indonesia, persoalan ini tidak berhenti pada pilihan kewarganegaraan. Ia menyentuh lapisan nilai yang lebih dalam, yakni konsep malu dalam budaya timur.
Dalam studi klasiknya, Ruth Benedict, membedakan shame culture dan guilt culture dalam masyarakat dunia. Pada budaya malu, sanksi sosial lahir dari penilaian komunitas, bukan sekadar suara hati pribadi.
Kajian tersebut kemudian diperkaya penelitian lintas budaya oleh Geert Hofstede, mengenai masyarakat kolektivistik. Indonesia ditempatkan pada spektrum dengan orientasi kelompok yang kuat dan loyalitas sosial tinggi.
Dalam masyarakat seperti ini, identitas individu jarang berdiri sendiri. Nama baik keluarga, institusi, bahkan negara ikut melekat pada setiap pernyataan publik.

Beasiswa negara dipahami sebagai amanah kolektif, bukan kontrak administratif belaka. Karena itu, sikap penerima maupun keluarganya dibaca sebagai representasi simbolik bangsa.
Penelitian sosiologi dalam Asian Journal of Social Psychology, menunjukkan rasa malu sosial berfungsi menjaga harmoni kelompok. Mekanisme ini bekerja melalui tekanan komunitas, agar norma bersama tetap dihormati.
Media sosial mempercepat kerja mekanisme tersebut secara dramatis. Studi pada New Media & Society, mencatat ruang digital memperkuat ekspresi emosi kolektif dan memperluas efek penghakiman.
Dalam kasus ini, komentar berderet bukan sekadar kritik personal. Ia menjadi bentuk kontrol sosial digital, atas apa yang dianggap menyimpang dari etika pengabdian.
Namun sejumlah peneliti komunikasi mengingatkan risiko trial by social media. Stigma dapat terbentuk sebelum klarifikasi lengkap disampaikan kepada publik.
Di tengah derasnya arus komentar, perbincangan tentang tanggung jawab moral kembali mengemuka. Apakah penerima beasiswa memikul beban etis yang melampaui dirinya sendiri.
Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana konsep malu, masih hidup dalam masyarakat modern Indonesia. Ia bertransformasi, dari teguran di ruang komunitas menjadi sorotan terang di layar gawai.
Pada akhirnya, polemik tersebut menjadi cermin relasi antara individu dan bangsa. Di era digital, rasa malu dan tanggung jawab berjalan berdampingan dalam pengawasan publik yang tak pernah tidur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....