Nasionalisme Generasi Muda di Era Mobilitas Global

  • 24 Feb 2026 09:32 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Istilah kembali dan membangun negeri, lama menjadi mantra dalam berbagai program pendidikan negara. Namun di tengah mobilitas global yang kian terbuka, maknanya mulai dipertanyakan.

Ribuan mahasiswa Indonesia berangkat ke luar negeri melalui skema seperti Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) setiap tahunnya. Mereka belajar di pusat-pusat ilmu pengetahuan dunia, dengan jejaring profesional yang melampaui batas negara.

Setelah lulus, realitas tidak sesederhana narasi pulang kampung dan mengabdi. Pasar kerja global menawarkan riset mutakhir, fasilitas lengkap, serta sistem merit yang kompetitif.

Data Organisation for Economic Cooperation and Development, menunjukkan mobilitas pelajar internasional terus meningkat dalam satu dekade terakhir. Pergerakan ini melahirkan generasi profesiona,l dengan orientasi karier yang semakin kosmopolitan.

Ilustrasi mahasiswa yang kuliah di luar negeri. (Foto: Pexels).

Dalam berbagai laporan World Bank, fenomena ini disebut sebagai brain circulation, bukan lagi brain drain. Talenta tidak semata pergi, melainkan bergerak dinamis sambil tetap terhubung dengan tanah airnya.

Di sisi lain, publik Indonesia masih memaknai nasionalisme secara fisik dan simbolik. Kembali berarti hadir, bekerja, dan membangun institusi di dalam negeri.

Pandangan ini tidak lepas dari karakter masyarakat kolektivistik, sebagaimana dipetakan Geert Hofstede dalam studi budayanya. Loyalitas terhadap kelompok dan tanah kelahiran menjadi ukuran moral yang kuat.

Di sinilah generasi muda berada dalam persimpangan. Mereka ingin berkontribusi, tetapi juga ingin berkembang dalam ekosistem profesional terbaik.

Sebagian memilih pulang dan membangun rintisan usaha, laboratorium, atau kebijakan publik. Sebagian lain tetap di luar negeri, namun aktif menjalin kolaborasi riset, investasi, serta transfer teknologi.

Perdebatan tentang nasionalisme tidak lagi hitam putih. Ukuran pengabdian bergeser dari soal lokasi menuju soal dampak.

Pada akhirnya, kembali dan membangun negeri mungkin tidak lagi dimaknai secara geografis semata. Nasionalisme generasi muda tumbuh dalam bentuk baru, lebih fleksibel, namun tetap mencari cara memberi arti bagi Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....