SPPG Depapre Siap Bertanggung Jawab Terhadap Korban Keracunan MBG

  • 05 Agt 2026 13:06 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Kuasa Hukum Yayasan Kasih Iman Samuel Papua, yang menaungi SPPG Jayapura Waiya, Depapre, Yansen Marudut, memastikan pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan terkait penyebab dugaan keracunan makanan yang dialami ratusan warga usai mengonsumsi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, pada Selasa, 4 Agustus 2026.

Yansen Marudut menyampaikan belasungkawa atas musibah tersebut dan menyebut peristiwa itu menjadi evaluasi bagi yayasan sebagai mitra penyelenggara program.

"Kami turut berduka cita dan turut sedih atas musibah ini. Ini menjadi pelajaran bagi kami selaku yayasan terhadap musibah yang terjadi," kata Yansen kepada awak media di Jayapura, Rabu (05/08/2026).

Yansen Marudut, Kuasa Hukum Yayasan Kasih Iman Samuel Papua, yang menaungi SPPG Jayapura Waiya, Depapre, (Foto: Istimewa)

Ia menjelaskan, pada hari kejadian, dapur SPPG Depapre mendistribusikan sekitar 2.200 porsi makanan ke sejumlah sekolah, PAUD, Posyandu, dan lokasi penerima manfaat lainnya di Distrik Depapre.

Menurutnya, hingga kini belum dapat dipastikan apakah makanan yang disajikan menjadi penyebab keracunan karena hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan masih belum keluar.

"Kami masih menunggu hasil uji laboratorium dari pihak kesehatan dan Puskesmas, apakah makanan yang kami sajikan terindikasi menyebabkan keracunan atau tidak. Kami belum bisa menyimpulkan penyebab musibah ini," ujarnya.

Ditambahkan Yansen Marudut, dari laporan sementara, sebagian pasien yang dirawat di sejumlah rumah sakit mulai menunjukkan perkembangan. Di RSUP Kementerian Kesehatan, satu dari delapan pasien telah diperbolehkan pulang, sementara tujuh lainnya masih menjalani perawatan. Sejumlah pasien di RSUD Yowari juga masih dalam penanganan medis.

Di sisi lain, kepolisian masih melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan sejumlah pekerja dapur untuk mengungkap penyebab kejadian tersebut.

"Kami belum bisa memastikan apakah ini akibat kesalahan dalam pengolahan makanan, proses distribusi, atau ada faktor lain. Semua masih didalami oleh penyidik," tegasnya.

Terkait menu yang disajikan pada hari kejadian, Yansen menyebut makanan terdiri atas nasi, telur, tempe, sayur jagung dan pakcoy, serta buah semangka. Ia menegaskan seluruh menu disusun berdasarkan standar Badan Gizi Nasional (BGN) dengan pendampingan ahli gizi, termasuk perbedaan menu untuk balita, PAUD, hingga pelajar.

Ia juga membenarkan bahwa operasional dapur SPPG Depapre untuk sementara dihentikan guna mendukung proses penyelidikan.

"Untuk sementara pelayanan dihentikan sampai penyebab kejadian ini benar-benar jelas. Setelah itu baru akan ditentukan langkah selanjutnya oleh BGN," ujarnya.

Yansen Marudut memastikan, Yayasan Kasih Imanuel Papua bertanggung jawab terhadap para korban dan siap menanggung seluruh biaya pengobatan bagi masyarakat yang diduga mengalami keracunan.

"Kami akan membiayai seluruh pengobatan korban yang diduga keracunan dan menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada kepolisian serta menunggu hasil investigasi BGN maupun hasil uji laboratorium," ucapnya.

Ia menambahkan, sesuai prosedur operasional BGN, dapur SPPG setiap hari menyimpan dua sampel makanan sebagai bagian dari standar keamanan pangan. Sampel tersebut kini menjadi salah satu bahan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab pasti insiden yang telah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa di Distrik Depapre.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....