Menembus Batas: Sepiring Nasi Penjaga Ketahanan Pangan Bumi Cenderawasih
- 18 Mei 2026 00:26 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura – Bagi sebagian besar masyarakat di kota-kota besar, menanak nasi adalah rutinitas pagi yang sederhana. Namun di pedalaman Tanah Papua, sepiring nasi adalah sebuah kemewahan yang harus diperjuangkan lewat pertaruhan logistik yang luar biasa.
Berada di garda terdepan dalam menjaga stabilitas pangan nasional bukanlah perkara mudah, terlebih jika tantangan tersebut harus dihadapi di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Di Tanah Papua, Perum Bulog membuktikan komitmennya untuk memastikan ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas harga pangan bagi masyarakat hingga ke pelosok bumi Cenderawasih.
Sebagai wilayah dengan tantangan geografis yang ekstrem, Papua membutuhkan penanganan logistik yang tidak biasa seperti daerah lain di Indonesia. Bulog tidak hanya berfungsi sebagai penyerap hasil tani, tetapi juga sebagai jangkar sosial ekonomi yang harus menjaga perut masyarakat tetap terisi.
Distribusi pangan di wilayah Papua sering kali harus berhadapan dengan medan yang sulit dijinakkan. Wilayah pegunungan seperti Puncak Jaya, Pegunungan Bintang, Wamena, Nduga, dan Intan Jaya yang hanya bisa diakses menggunakan transportasi udara maupun sungai di Nduga dan Yahukimo.
Menjaga Nyata Ketahanan Pangan
Dari gudang di Jayapura, 38.775 ton beras disiapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di enam provinsi di Tanah Papua, seperti provinsi Papua, Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Barat, dan Papua Barat Daya.
Tercatat 16.896 ton disebar pada 10 cabang bulog dengan alokasi penerima bantuan pangan di wilayah Tanah Papua mencapai 838.696 penerima dengan jumlah kuantum beras 16.773.920 kg dan minyak goreng 3.354.784 liter pada tahun 2026.
Proses perjalanan panjang pendistribusiannya penuh tantangan, membutuhkan strategi matang yang disiapkan, seperti pemanfaatan gudang filial, pola multimoda hingga menjalin kemitraan penyaluran maupun memperkuat program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Gerakan Pangan Murah (GPM), serta penyaluran Bantuan Pangan Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Pendistribusian bulog kepada masyarakat ini guna memastikan berjalan efektif dan tepat sasaran untuk memperpendek rantai distribusi serta mempercepat penyaluran ke wilayah 3T dengan harga yang terjangkau.
Memang keterbatasan armada transportasi udara juga menjadi tantangan paling berat dalam menyalurkan bantuan pangan. Seperti penyaluran Bulog Nabire ke Intan Jaya bergantung pada jalur udara yang terkendala kapasitas penerbangan harian yang terbatas.
“Memang akses jalannya susah karena memang kondisi kadang dalam perjalanan ke daerah tujuan itu curah hujan di jalan tinggi, akhirnya terhambat akses jalannya. Keterbatasan banyak waktu yang kita butuhkan juga untuk jalur udara karena keterbatasan flight yang harus dimaksimalkan,” kata Kepala Kantor Cabang Bulog Nabire, Abdul Azis dalam keterangannya.
Percepatan distribusi ini merupakan langkah strategis dalam menjaga keterjangkauan pangan di wilayah terpencil. Apalagi komitmen Bulog untuk memastikan semua masyarakat, termasuk yang tinggal di wilayah paling sulit dijangkau, tetap mendapatkan akses pangan yang layak.
“Tantangan biaya logistik, cuaca, medan yang ekstrem di wilayah Papua tidak mengurangi komitmen Bulog dalam menjamin ketersediaan dan pemerataan distribusi pangan beras dan minyakita bagi seluruh masyarakat,” ujar Kepala Perum Bulog Kanwil Papua Ahmad Mustari.
Saat ini juga keterbatasan logistik udara akibat jadwal perawatan armada dan fluktuasi harga BBM juga menjadi tantangan utama di sejumlah kabupaten di Papua Pegunungan. Namun langkah Bulog cabang Wamena memiliki sekitar stok 1.200 ton dengan rencana penambahan stok 1.500 ton dipastikan cukup untuk melayani kebutuhan masyarakat lembah baliem.
“Dengan jumlah stok tersebut, kami akan terus berupaya untuk menjaga dan mengoptimalkan persediaan stok untuk kebutuhan masyarakat di Provinsi Papua Pegunungan. Bersama kita wujudkan swasembada Pangan sesuai arahan Bapak Presiden,” tutur Dedi Rahman Eko Prasetyo Pemimpin Kantor Cabang Perum Bulog Wamena.

Mengawal Pangan, Mengawal Masa Depan
Kolaborasi lintas sektor juga menjadi peran strategis dalam penyaluran pangan kepada masyarakat diwilayah Papua, terutama menghadapi potensi gangguan keamanan. Penguatan distribusi pangan melalui kerja sama erat dengan pemerintah daerah, maupun TNI-Polri dalam pengamanan dan pengawalan untuk ketahanan pangan nasional.
“Ini sangat penting untuk segera dipenuhi. Masyarakat di wilayah ini menghadapi berbagai persoalan, mulai dari inflasi, kondisi ekonomi, hingga potensi bencana alam. Karena itu, kebutuhan pokok tidak hanya untuk hari besar keagamaan, tetapi juga sebagai langkah antisipasi,” ucap Wakil Gubernur Papua Pegunungan Ones Pahabol.
Kepolisian Daerah Papua Tengah terus menjamin penyaluran bantuan pangan Bulog sebagai prioritas agar tetap tersalur, bahkan ke wilayah rawan konflik guna memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.
Terlebih sejumlah wilayah fokus penyaluran, di antaranya Kabupaten Intan Jaya, Dogiyai, Deiyai, dan Paniai yang memiliki tantangan geografis dan dinamika keamanan cukup kompleks.
“Yang menjadi prioritas adalah daerah-daerah yang rawan konflik. Distribusi ini harus tetap bisa tiba di sana. Kalau ada hambatan, tentu dikomunikasikan antara Bulog dengan pemerintah daerah karena koordinasi lintas instansi menjadi kunci agar distribusi tetap berjalan lancar dan tepat sasaran,” tegas Wakapolda Papua Tengah Kombes Pol Gustav Urbinas.
Ia menambahkan pengawalan distribusi pangan bukan sekedar tugas rutin, melainkan langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga serta menjamin ketersediaan bahan pokok bagi masyarakat.
“Polisi akan mengawal seluruh proses distribusi Bulog, mulai dari gudang hingga ke tangan masyarakat, hingga daerah terpencil agar tidak terjadi penyimpangan, penimbunan, maupun praktik-praktik yang merugikan masyarakat,” tegas dia.
Sepiring Nasi, Senyum Keadilan Pangan
Kehadiran pasokan pangan dari Bulog kini mulai dirasakan lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu. Selain memastikan ketersediaan stok di dapur warga, operasi pasar dan bantuan pangan ini terbukti ampuh meredam lonjakan harga yang kerap terjadi di wilayah terpencil akibat tingginya biaya logistik.
Bagi Antium Uopinabin, seorang petani di Desa Asua, Distrik Kiwirok, menyatakan beras Bulog baru masuk ke Oksibil pada tahun 2025 dan masyarakat kini sangat bergantung pada kelancaran distribusinya.
“Harga beras rata-rata Rp40-60 ribu per kilogram, sehingga kita tunggu masuknya beras. Sekarang bisa dapat beras dan minyak goreng, karena ini sangat membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga,” ucap Antium Uopinabin.
Akibat tingginya biaya pengangkutan, harga kebutuhan pokok di Oksibil jauh lebih mahal dibandingkan wilayah perkotaan di Papua. Masyarakat seringkali harus membeli beras mencapai Rp1 juta untuk 50 kilogram beras medium.
Peran Bulog bukan hanya urusan logistik perut kosong, melainkan sudah menyentuh aspek kualitas hidup generasi masa depan Papua. Program bantuan pangan beras kini diterima keluarga untuk pasokan beras berkualitas secara gratis.
“Beras ini sangat membantu kami. Anak-anak bisa makan nasi setiap hari sebelum pergi ke sekolah," ungkap Mama Sarce Ronsumbre seorang ibu rumah tangga di pinggiran Kota Biak.
Meskipun di usia ke-59 tahun berbagai tantangan menghadang, sebagai benteng pertahanan Bulog tidak hanya mengamankan pasokan pangan untuk wilayah 3T, tetapi juga masa depan kedaulatan pangan, agar tetap tegak berdiri di beranda terdepan Indonesia. Khususnya terhadap aspek kualitas hidup generasi masa depan tanah Papua.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....