​Kisah 'Besei Kambe', Dayung Hantu Melawan Arah

  • 19 Jul 2023 19:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Rusdiana menghela napas, ketika melihat pertemuan arus di Sungai Kahayan yang membelah Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Sebab, pagi itu timnya akan bertanding dalam turnamen lomba Jukung Tradisional pada Festival Palangkaraya 2023.

Istilah jukung merujuk pada sampan kecil. Sampan tersebut tak bermesin, dan memerlukan dayung.

Lomba Sampan Jukung

Sambil menggenggam tangan dan memejamkan mata, Rusdiana memohon diberikan kekuatan untuk dapat mendayung dengan jarak 500 meter. Wasit pun meniup pluit, jukung yang tumpangi Rusdiana bersama lima temannya meluncur kencang membelah pekatnya Sungai Kahayan.

Mereka membentuk formasi menyilang, agar dayung dapat maksimal bekerja ketika digunakan. Dari kejauhan, ratusan warga berkumpul di bawah Jembatan Kahayan yang memiliki panjang sekitar 640 meter.

Mereka ikut bersorak sorai menyemangati tim Rusdiana yang mampu melewati garis finis sebagai pemenang. Bak seorang atlet, Rusdiana menyelesaikan balapan secara profesional.

Padahal, usia ibu rumah tangga ini sudah memasuki kepala empat. Ia mengaku akrab dengan transportasi air tradisional Dayak alias jukung karena digunakan sehari-hari untuk memancing.

Karena, Sebagian besar kehidupan masyarakat asli Kalimantan Tengah memang tak lepas dari wilayah perairan atau sungai. "Ibu rumah tangga aja, paling kalau berangkat mancing pake jukung," kata Rusdiana, Rabu (3/5/2023).

Rusdianah merupakan wakil dari Kecamatan Rakumpit yang lolos sebagai juara. Dirinya juga membagikan resep khusus dalam mengikuti perlomaan Jukung.

Menurutnya, tenaga dan kekompakan saat mendayung adalah kunci utama kemenangan tim. "Kuncinya tenaga aja dan harus kompak ketika mendayung," ucap Rusdiana.

Lomba Jukung Tradisional digelar sebagai upaya untuk menggalakan olah raga dayung sampan. Serta, menumbuhkan kecintaan masayarkat setempat terhadap Jukung yang sehari-harinya digunakan sebagai sampan untuk memancing di sungai.

Lomba ini memuat pesan pelestarian alam sungai dengan menjaga dan memellihara. Karena sungai adalah sumber hajat hidup orang banyak.

Sesuai dengan kondisi geografi Kalimantan Tengah yang dikenal dengan sebutan Seribu Sungai. Tak hanya Jukung, penyelenggara juga menggelar lomba Besei Kambe di daerah berjuluk Pulau Seribu Sungai ini.

Besei Kambe merupakan olahraga tradisonal khas Kalimantan Tengah, yang jika diartikan secara harfiah merupakan perahu hantu. Namun pada praktiknya, Besei Kambe merupakan perlombaan unik yang menyatukan dua tim dalam satu perahu.

Masing-masing regu harus bersaing adu kekuatan untuk mendayung ke arah berlawanan dengan posisi saling membelakangi atau memunggungi. Amat, salah satu peserta lomba Besei Kambe menuturkan jika olahraga tersebut membutuhkan stamina yang kuat.

Sebab pemenangnya ditentukan dari tim yang terlebih dahulu melewati garis penentuan dewan juri. "Capeknya bikin napas ngos-ngosan, mudah-mudahan stamina badan kami maksimal lah," ujar Amat.

Setelah bertanding dengan peserta lainnya, Amat berhasil membawa Kecamatan Pahandut menjadi menjadi juara satu. Amat bersama timnya mengaku terharu dengan hasil akhir.

Lomba Dayung Hantu

Besei Kambe (Dayung Hantu) adalah cara dayung mereka yang berlawanan. Sehingga perahu terlihat mundur maju seolah-olah bingung maju kearah mana yang dituju.

Selain perahu terlihat oleng ke kanan dan ke kiri kekuatan arus sungai dan kuatnya hempasan dayung yang dikayuh menimbulkan gelombang. Gelombang itu tak beraturan di sekeliling perahu.

Bahkan saking kuatnya hempasan riak-riak air, menyebabkan perahu bisa karam. Namun, setelah hitungan detik kondisi itu mulai berubah.

Karena, salah satu tim menunjukkan kekuatannya dalam mendayung sedangkan lawanya terlihat kelelahan. Lalu, memperlambat gerak mengayuh dayungnya.

Bahkan, kemungkinan dayung pengayuh yang digunakan patah akibat dipaksa mendayung. Tim yang menang selanjutnya makin menggila memimpin arah perahu ke hulu.

Hal itu menandakan tim itu akan menang. Suasana ini dimeriahkan dengan gemuruh sorak-sorai dari kerumanan orang yang berjejal untuk menonton lomba ini.

Konon, menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalteng, istilah Besei Kambe berawal dari cerita legenda yang bernilai mistik. Diceritakan warga di sebuah kampung tengah menggelar ritual adat yang dihadiri banyak warga.

Tidak hanya dari kampung tersebut, melainkan juga dari kampung terdekat. Saat itu warga berdatangan menggunakan transportasi air yang oleh orang Dayak disebut Jukung.

Singkat cerita, di tengah sungai di dekat kampung yang menggelar ritual terdengar ada keributan. Setelah dicari sumber keributan itu, ternyata bukan berasal dari warga namun berasal dari makhluk halus yang ada di sungai.

“Ceritanya saat itu warga melihat ada makhluk halus sedang mendayung perahu dengan suara-suara yang gaduh. Karena makhluk halus ini mendayung saling berlawanan arah, menyebabkan perahu terbelah saking kuatnya mendayung,” kata Yerson Kabid Pemasaran Pariwisata pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalteng.

Alkisah dari cerita ini akhirnya turun-temurun setiap regenerasi. Bermula dari cerita itulah, melahirkan permainan rakyat yang dinamaka Besei Kambe.

Acara lomba tersebut setelah sempat terhenti selama dua tahun terakhir akibat pandemi Covid-19. Hal itu diungkapkan, Murni Pelita selaku ketua panita mengatakan Festival Palangka 2023.

Perlombaan tersebut digelar untuk melestarikan budaya khas Kalimantan Tengah. Lalu, menyaring peserta menjadi wakil Kota Palangka Raya dalam Festival Budaya Insen Mulang 2023 mendatang.

"Pemenangnya akan mewakili kota Palangka Raya. Pada Festival Budaya Isen Mulang 2023 mendatang," kata Murni.

Murni menerangkan, ada sekitar 100 peserta yang ikut dalam perlombaan Jukung Tradisonal dan Besei Kambe. Mereka terbagi menjadi dua kategori wanita dan pria.

Keseluruhan peserta merupakan wakil kecamatan. Yakni, kecamatan yang ada di Kota Palangka Raya. (Risa Kosasih-RRI Palangkaraya)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....