Traveling yang cocok untuk ibu hamil

  • 29 Jun 2026 14:57 WIB
  •  Jambi

RRI. CO. ID, Jambi - Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Natasya Prameswari, Sp.OG, membagikan sejumlah kiat agar ibu hamil tetap dapat melakukan perjalanan jarak jauh atau traveling dengan aman. Menurutnya, perjalanan masih diperbolehkan, terutama pada masa kehamilan trimester kedua, selama kondisi ibu dan janin dalam keadaan sehat serta telah mendapatkan izin dari dokter kandungan.

Menurut dr. Natasya, trimester kedua merupakan periode yang relatif lebih aman untuk bepergian dibandingkan trimester pertama maupun trimester ketiga. Meski demikian, setiap ibu hamil memiliki kondisi yang berbeda sehingga pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter kandungan tetap menjadi langkah utama sebelum memutuskan melakukan perjalanan.

"Pada trimester kedua biasanya ibu hamil sudah tidak terlalu berisiko. Namun, perjalanan jauh tetap harus didahului dengan konsultasi kepada dokter kandungan untuk memastikan tidak ada penyulit selama kehamilan," ujar dr. Natasya yang berpraktik di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI).

Ia juga menekankan pentingnya memilih moda transportasi yang memberikan kenyamanan selama perjalanan. Ibu hamil sebaiknya menghindari kendaraan atau kondisi perjalanan yang dapat menyebabkan kelelahan berlebihan, guncangan yang terlalu kuat, atau membuat tubuh berada dalam posisi yang tidak nyaman dalam waktu lama.

Selain itu, dr. Natasya menyarankan ibu hamil menggunakan stoking kompresi untuk membantu mencegah terjadinya Deep Vein Thrombosis (DVT), yaitu kondisi pembekuan darah pada pembuluh darah vena yang dapat meningkat risikonya akibat duduk terlalu lama selama perjalanan.

Tak hanya itu, ibu hamil juga dianjurkan melakukan peregangan ringan setiap dua hingga tiga jam sekali. Peregangan dapat berupa menggerakkan kaki dan tangan atau berjalan santai selama beberapa menit apabila kondisi memungkinkan.

"Jangan berada dalam satu posisi terus-menerus. Setiap dua sampai tiga jam, lakukan peregangan ringan atau berjalan sejenak agar sirkulasi darah tetap lancar," jelasnya.

Dr. Natasya juga mengingatkan agar ibu hamil tidak membawa barang bawaan yang terlalu berat atau melebihi kemampuan fisiknya. Bila diperlukan, mintalah bantuan keluarga atau petugas untuk mengangkat koper maupun barang lainnya demi menghindari tekanan berlebih pada tubuh.

Hal penting lainnya yang tidak boleh dilupakan adalah membawa buku kontrol kehamilan atau rekam medis selama bepergian. Dokumen tersebut akan sangat membantu tenaga kesehatan apabila sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat yang memerlukan pemeriksaan atau penanganan di fasilitas kesehatan setempat.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa risiko perjalanan jauh dapat dipengaruhi oleh lamanya waktu tempuh, baik menggunakan transportasi darat, laut, maupun udara. Kelelahan akibat perjalanan dapat memicu munculnya kontraksi palsu (Braxton Hicks). Meski umumnya tidak berbahaya, kontraksi yang berlangsung terus-menerus perlu diwaspadai karena dapat menjadi tanda adanya gangguan kehamilan.

"Risikonya adalah kelelahan yang dapat memicu kontraksi palsu. Jika kontraksi terjadi terus-menerus, kondisi tersebut harus segera diwaspadai dan diperiksakan ke dokter karena dikhawatirkan dapat disertai pecahnya ketuban atau tanda persalinan yang memerlukan penanganan lebih lanjut," tuturnya.

Dengan persiapan yang matang, kondisi kesehatan yang baik, serta mengikuti anjuran dokter, ibu hamil tetap dapat menikmati perjalanan dengan aman dan nyaman tanpa mengabaikan kesehatan diri maupun janin yang dikandung.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....