MBG Jambi: Dari Piring menuju Penguatan Ekonomi Desa

  • 17 Jun 2026 13:44 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID,jambi-Program Makan Bergizi Gratis atau MBG telah berkembang menjadi salah satu program sosial-ekonomi terbesar di Indonesia. Hingga awal Maret 2026, program ini dilaporkan telah menjangkau lebih dari 61 juta penerima manfaat. Pada tahun yang sama, Badan Gizi Nasional mengelola anggaran sekitar Rp268 triliun, dengan sebagian besar diarahkan untuk pembelian bahan pangan dan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG.

Skala tersebut memperlihatkan kesungguhan negara dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Namun, besarnya anggaran, banyaknya dapur, dan luasnya cakupan penerima tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa tujuan program telah tercapai. Keberhasilan MBG pada akhirnya tidak ditentukan di ruang rapat pemerintah pusat, tetapi di dapur-dapur pelayanan, sekolah, posyandu, rumah tangga, pasar desa, dan lahan pertanian di daerah. Karena itu, kondisi nasional cukup menjadi kerangka besar, sedangkan kualitas pelaksanaannya harus dibaca dari kenyataan di lapangan.

Provinsi Jambi merupakan salah satu ruang penting untuk menguji apakah MBG benar-benar dapat bergerak dari sekadar program pembagian makanan menjadi program peningkatan gizi sekaligus penguatan ekonomi rakyat.

MBG dalam Konteks Jambi. Per 2 Mei 2026, MBG di Provinsi Jambi telah menjangkau sekitar 446.087 penerima manfaat. Pelaksanaannya melibatkan sekitar 205 SPPG, 545 pemasok, dan 9.635 tenaga kerja. Perputaran dana program diperkirakan mencapai Rp7,2 miliar per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp4,1 miliar digunakan untuk membeli beras, daging ayam, telur, buah, sayuran, dan bahan pangan lainnya. Angka tersebut memperlihatkan bahwa MBG bukan lagi program kecil. Ia telah menjadi ekosistem ekonomi baru yang membentuk permintaan pangan dalam jumlah besar dan terus-menerus.

Pada sisi lain, Jambi masih menghadapi persoalan gizi yang memerlukan perhatian serius. Prevalensi stunting di provinsi ini dilaporkan meningkat dari 13,5 persen pada 2023 menjadi 17,1 persen pada 2024. Meskipun MBG tidak boleh diposisikan sebagai satu-satunya instrumen penurunan stunting, program ini tetap dapat menjadi bagian penting dari intervensi gizi, terutama jika diintegrasikan dengan pelayanan kepada ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta pendidikan pola makan sehat.

Untuk melihat kualitas program secara utuh, MBG Jambi perlu diuji menggunakan tujuh parameter, yaitu input, proses atau outcome, output, result, impact, benefit, dan sustainability.

Input: Besar Dana Harus Seimbang dengan Kesiapan Sistem. Input MBG tidak hanya berbentuk uang. Program ini membutuhkan bangunan dapur, peralatan memasak, air bersih, listrik, gas, kendaraan distribusi, ahli gizi, penjamah makanan, tenaga administrasi, pengawas, pemasok, sistem informasi, serta jaringan pelayanan kesehatan. Dilihat dari jumlah SPPG, tenaga kerja, pemasok, dan perputaran dana, input program di Jambi tergolong kuat. Persoalannya bukan lagi sekadar apakah anggaran tersedia, melainkan apakah seluruh sumber daya tersebut memenuhi standar yang dibutuhkan.

Sebuah dapur tidak dapat dianggap siap hanya karena bangunannya telah berdiri. Kesiapannya harus ditentukan oleh mutu air, sanitasi, ventilasi, penyimpanan bahan mentah, pemisahan bahan matang dan mentah, kompetensi pekerja, pengendalian suhu, kendaraan pengangkut, serta kemampuan mengirimkan makanan dalam batas waktu aman.

Jambi memiliki karakter wilayah yang tidak seragam. Distribusi makanan di Kota Jambi tentu berbeda dengan distribusi ke permukiman yang tersebar di Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat, Kerinci, Merangin, atau Sarolangun. Karena itu, kapasitas dapur tidak boleh hanya dihitung berdasarkan jumlah porsi. Jarak, waktu tempuh, kondisi jalan, cuaca, dan ketahanan jenis makanan harus ikut diperhitungkan. Dengan demikian, evaluasi input harus bergeser dari pertanyaan “berapa banyak dapur telah tersedia” menjadi “berapa banyak dapur yang benar-benar aman dan layak melayani penerima”.

Proses: Titik Paling Rawan Berada di Antara Dapur dan Piring. Dalam istilah evaluasi program, proses atau outcome operasional mencakup seluruh aktivitas yang mengubah input menjadi pelayanan. Pada MBG, proses tersebut dimulai dari pemilihan pemasok, pembelian bahan, penerimaan barang, penyimpanan, penyusunan menu, pencucian, pengolahan, pengemasan, pengangkutan, pembagian, sampai makanan dikonsumsi. Setiap mata rantai mengandung risiko. Bahan baku yang baik dapat menjadi tidak aman apabila disimpan secara keliru. Masakan yang semula aman dapat terkontaminasi ketika dikemas. Makanan yang telah memenuhi standar dapat rusak apabila terlalu lama berada dalam kendaraan distribusi.

Peristiwa di Sengeti, Kabupaten Muaro Jambi, pada Januari 2026 memberikan pelajaran penting. Hasil pemeriksaan menemukan kontaminasi bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli pada makanan yang dikonsumsi sejumlah siswa. Evaluasi pemerintah daerah menemukan ketidakkonsistenan penerapan standar operasional, persoalan kebersihan pengolahan, serta jeda waktu memasak dan distribusi yang terlalu panjang. Kejadian tersebut tidak boleh digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh MBG di Jambi gagal. Namun, ia harus dibaca sebagai peringatan bahwa keberhasilan program sangat ditentukan oleh kedisiplinan proses. Pengawasan tidak cukup dilakukan setelah muncul korban. Setiap SPPG membutuhkan pengawasan harian, pencatatan waktu memasak, suhu makanan, waktu keberangkatan, waktu tiba, sampel makanan, kondisi kendaraan, serta laporan keluhan dari sekolah.

Output: Jumlah Porsi Bukan Satu-satunya Ukuran. Output MBG adalah hasil langsung yang dapat dilihat, seperti jumlah SPPG, porsi makanan yang dibagikan, sekolah yang dijangkau, penerima manfaat, tenaga kerja, dan pemasok yang terlibat. Dilihat dari angka-angka tersebut, perkembangan MBG Jambi tergolong cepat. Namun, jumlah porsi yang dibagikan hanya menunjukkan bahwa makanan telah sampai. Angka itu belum menjawab apakah makanan tersebut aman, bergizi, tepat waktu, disukai, dan benar-benar dikonsumsi. Karena itu, output MBG Jambi harus dilengkapi dengan indikator kualitas, antara lain: berapa % makanan datang tepat waktu; berapa banyak makanan yang tersisa; apakah kandungan energi dan protein sesuai kebutuhan kelompok umur; apakah menu cukup bervariasi; apakah makanan diterima dengan baik oleh anak; serta berapa banyak SPPG yang memenuhi standar higiene dan sanitasi.

Program ini juga harus membedakan kebutuhan peserta didik, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Tidak tepat apabila seluruh kelompok menerima pola menu dan ukuran porsi yang sama. Result: Apakah Pelayanan Mengubah Kehidupan Penerima?. Result merupakan hasil nyata yang muncul setelah output diberikan.

Dalam konteks MBG, result bukan sekadar nasi kotak yang telah dibagikan, melainkan perubahan yang mulai dirasakan oleh anak, keluarga, pekerja, petani, dan pelaku usaha. Beberapa result ekonomi di Jambi mulai terlihat. Program telah menciptakan ribuan pekerjaan dan membentuk pasar yang lebih pasti bagi beras, ayam, telur, sayur, dan buah. Dana yang berputar setiap hari memberi peluang kepada petani, peternak, pedagang, pengangkut, dan usaha pengolahan pangan.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....