Masa Depan Makanan yang Dicetak Mesin atau 3D Printing of Food

  • 19 Mei 2026 13:28 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID,Jambi – Bayangkan kamu sedang duduk santai di restoran dan memesan steak favorit. Namun, yang memasaknya bukan seorang koki, melainkan mesin printer 3D yang mencetak daging lapis demi lapis tepat di depan mata. Terdengar seperti adegan film fiksi ilmiah, tetapi teknologi itu kini benar-benar sedang dikembangkan dan mulai diterapkan di dunia nyata. Inovasi ini dikenal dengan istilah 3D Printing of Food atau pencetakan makanan 3D.

Teknologi pencetakan makanan 3D saat ini menjadi perhatian besar di bidang pangan karena dinilai mampu menghadirkan solusi yang lebih personal, efisien, dan inovatif. Melalui teknologi ini, bentuk, tekstur, hingga kandungan nutrisi makanan dapat diatur dengan sangat presisi.

Penerapannya pun luas, mulai dari makanan padat gizi untuk astronaut, makanan bertekstur lunak bagi lansia, hingga makanan sehat dengan tampilan menarik agar anak-anak lebih semangat makan. Teknologi ini juga dinilai berpotensi membantu penderita disfagia atau gangguan menelan karena tekstur makanan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien.

Secara sederhana, cara kerja 3D food printing mirip seperti printer biasa, hanya saja tinta yang digunakan diganti dengan bahan makanan. Teknologi ini sangat bergantung pada ilmu reologi, yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana suatu bahan mengalir dan berubah bentuk. Tantangan utamanya adalah mengatur viskositas “tinta makanan” agar cukup lembut untuk keluar dari nozzle printer, tetapi tetap kokoh setelah dicetak sehingga tidak meleber. Salah satu metode paling umum adalah single-axis extrusion, yaitu proses mendorong bahan makanan berbentuk pasta melalui satu nozzle untuk membentuk lapisan demi lapisan makanan.

Namun, penggunaan nozzle tunggal memiliki keterbatasan karena prosesnya relatif lambat dan sulit mencetak beberapa jenis bahan secara bersamaan. Karena itu, para peneliti mengembangkan teknologi multi-axis 3D printing yang menggunakan beberapa nozzle independen.

Dengan sistem ini, printer dapat mencetak berbagai bahan makanan dalam waktu yang sama. Misalnya pada pembuatan steak, satu nozzle digunakan untuk mencetak pasta daging tanpa lemak, sementara nozzle lainnya mencetak lemak secara terpisah. Kombinasi tersebut bertujuan meniru pola marbling atau sebaran lemak pada daging premium agar tekstur dan rasa daging lebih menyerupai steak asli.

Dalam proses tersebut, setiap bahan harus memiliki sifat reologi yang tepat, seperti shear-thinning, yaitu kondisi ketika viskositas bahan menurun saat mendapat tekanan sehingga bahan dapat mengalir lancar melalui nozzle tanpa menyumbat. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pengaturan distribusi lemak intramuskular pada daging hasil cetak dapat memengaruhi kelembapan, tingkat kekerasan, hingga sensasi mengunyah setelah dimasak. Dengan kata lain, tingkat keempukan steak dapat “dirancang” bahkan sebelum proses memasak dimulai.

Teknologi multi-axis 3D food printing juga terus berkembang dengan integrasi sistem pemanasan seperti laser dan microwave untuk membantu proses pemasakan secara lebih cepat dan presisi. Inovasi ini membuka peluang besar bagi masa depan industri pangan, terutama dalam menciptakan makanan yang lebih personal, efisien, dan berkelanjutan. Meski demikian, muncul pertanyaan menarik: apakah masyarakat benar-benar siap menikmati steak hasil cetakan printer 3D? Bagi sebagian orang mungkin terdengar aneh, tetapi bukan tidak mungkin di masa depan makanan hasil printer justru menjadi hal yang biasa di meja makan kita.

Penulis: Azzahra Oktafiami

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Pangan, Fakultas Teknik dan Teknologi, IPB University

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....