Syndrome Mbappe yang Bikin Lemari Trofi Real Madrid Kosong Melompong

  • 17 Apr 2026 10:00 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Selama bertahun-tahun, penggemar Real Madrid kerap melontarkan candaan 'mewah': "Kalau juara Liga Champions lagi, trofi ke-16 dan 17 mau ditaruh di mana ? Lemari di Santiago Bernabeu sudah penuh!" Namun, sejak kedatangan megabintang Kylian Mbappe, kekhawatiran itu seolah menguap begitu saja. Manajemen Los Blancos kini tak perlu repot memikirkan biaya renovasi ruang trofi.

Di atas kertas, kedatangan Mbappe diprediksi akan membuat Real Madrid makin tak tersentuh. Namun, realita di lapangan justru menyajikan plot twist yang menyesakkan bagi publik Bernabeu.

Tragedi Beruntun di Perempat Final

Kutukan baru seolah menghantui skuad asuhan Carlo Ancelotti. Baru-baru ini, langkah El Real di ajang Liga Champions harus terhenti secara dramatis di tangan Bayern Munchen. Sempat memberi harapan dengan menyamakan agregat 4-4, Madrid justru kehilangan kontrol permainan.

Petaka datang saat Eduardo Camavinga menerima kartu merah usai melanggar Harry Kane. Bermain dengan 10 orang membuat lini pertahanan Madrid semrawut, hingga akhirnya dihukum dua gol tambahan oleh Bayern Munchen. Skor berakhir kekalahan tragis 4-3 untuk sang Raja Eropa.

Tersingkirnya Madrid di perempat final ini mengulang mimpi buruk musim lalu saat mereka didepak oleh Arsenal. Ini adalah rekor yang sangat aneh bagi klub sekelas Real Madrid. Pasalnya, sejak musim 2010/2011 hingga 2023/2024 (sebelum era Mbappe), jika Madrid berhasil menembus perempat final, mereka nyaris dipastikan akan melaju minimal hingga ke babak semifinal.

Hal yang paling membingungkan dari kemerosotan Real Madrid ini adalah performa individu Kylian Mbappe yang sebenarnya luar biasa impresif. Secara statistik, ia sama sekali tidak gagal.

Di musim debutnya, pemain asal Prancis ini sukses mencetak 43 gol di semua kompetisi. Ia bahkan memborong gelar individu bergengsi, mulai dari Pichichi (Top Skor La Liga) hingga Sepatu Emas Eropa. Musim ini pun, Mbappe masih memimpin daftar top skor sementara Liga Champions.

Namun, rekor fantastis itu gagal dikonversi menjadi kesuksesan tim. Musim lalu, Madrid kalah saing dari Barcelona di La Liga dan Copa del Rey. Musim ini situasinya makin parah: disingkirkan tim gurem Albacete di Copa del Rey, takluk dari Barca di Piala Super Spanyol, dan kini tertinggal jauh 9 poin dari musuh bebuyutannya itu di klasemen La Liga. Ancaman nirgelar alias zero titles kini membayangi El Real.

Mendiagnosis 'Sindrom Mbappe'

Mengapa mesin gol sekelas Mbappe justru membuat sistem permainan Real Madrid tersendat? Pengamat taktik menyoroti beberapa faktor utama yang disebut sebagai 'Sindrom Mbappe':

  1. Tabrakan Peran dengan Vinicius Jr: Mbappe sejatinya paling mematikan saat beroperasi di sayap kiri. Sayangnya, area tersebut adalah teritori tak tergantikan milik Vinicius Jr. Akibatnya, pergerakan kedua bintang ini kerap tumpang tindih, menutup ruang satu sama lain, dan merusak arus serangan.
  2. Kehilangan Sang Konduktor: Kepergian Toni Kroos meninggalkan lubang raksasa di lini tengah. Pemain seperti Aurelien Tchouameni dan Eduardo Camavinga terbukti belum memiliki visi permainan yang cukup matang untuk menjadi orkestrator pengatur ritme menggantikan peran Kroos.
  3. Mesin Tunggal yang Enggan Turun: Strategi Real Madrid saat ini terkesan terlalu bergantung pada Mbappe, mirip dengan taktik mendistribusikan bola ke Cristiano Ronaldo di masa lalu. Bedanya, Mbappe minim kontribusi dalam bertahan. Berbeda dengan Karim Benzema yang rajin turun menjemput bola dan membuka ruang bagi rekannya, Mbappe cenderung pasif menunggu di depan. Hal ini memaksa pemain lain bekerja dua kali lipat untuk menutup lubang pertahanan yang ditinggalkannya.
    Kehadiran Kylian Mbappe di Real Madrid bak pedang bermata dua. Ia menggaransi puluhan gol setiap musimnya, namun harus dibayar mahal dengan hilangnya keseimbangan sistem tim secara keseluruhan. Jika Carlo Ancelotti tidak segera menemukan formula taktik yang tepat untuk menyembuhkan 'Sindrom' ini, lemari trofi di Santiago Bernabeu tampaknya akan tetap sepi dan longgar untuk waktu yang lama.
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....