Perlunya Membentengi Gen Z dan Alpha dari Politik yang Tidak Sehat
- 06 Okt 2026 11:50 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi - Politisi ideal bagi Generasi Z dan Generasi Alpha adalah sosok pemimpin yang mengedepankan rekam jejak nyata (track record), integritas tinggi tanpa korupsi, serta kemampuan literasi digital yang substansial, bukan sekadar gimik visual di media sosial. Kedua generasi digital native ini memiliki ekspektasi politik yang bergeser dari generasi sebelumnya. Mereka menuntut transparansi, hasil kerja nyata, serta kepekaan sosial yang tinggi dari para pemangku kebijakan.
Kombinasi riset preferensi politik anak muda dan tantangan era digital memetakan kriteria politisi ideal yang diharapkan oleh Gen Z (lahir 1995–2009) dan Gen Alpha (lahir 2010–2024):
Berintegritas Tinggi dan Bersih dari Korupsi
Integritas tetap menjadi fondasi utama yang paling dicari. Gen Z dan Alpha sangat kritis terhadap isu keadilan. Mereka menginginkan politisi yang jujur, transparan dalam mengambil keputusan, serta bebas dari rekam jejak korupsi atau praktik kolusi. Bagi mereka, popularitas atau penampilan fisik tidak lagi menjadi jaminan kepemimpinan yang bijaksana.
Mengutamakan Substansi dan Rekam Jejak Dibanding Gimik
Di era "Politik 15 Detik" di mana algoritma TikTok dan Instagram mendominasi, anak muda mulai menyadari bahaya simulacrum atau persona buatan politisi. Politisi ideal bagi mereka adalah sosok yang memiliki peta jalan (roadmap) serta solusi nyata untuk masa depan, bukan sekadar konten estetik atau aksi kocak yang lewat di For You Page (FYP).
Komunikatif secara Otentik dan Terbuka pada Kritik
Gen Z dan Alpha tumbuh di dunia yang terkoneksi secara instan. Mereka menyukai gaya komunikasi dua arah yang horizontal. Politisi ideal harus memiliki kemampuan mendengar yang baik dan berempati terhadap keresahan lingkungan. Mereka menyukai pemimpin yang responsif di media sosial, terbuka terhadap kritik, serta siap berdiskusi secara sehat dengan warga digital.
Berfokus pada Isu Masa Depan dan Inklusivitas
Kedua generasi ini sangat menaruh perhatian pada isu-isu sistemik dan global yang berdampak langsung pada masa depan mereka. Politisi yang dinilai ideal wajib membawa program kerja konkret terkait:
Kesehatan mental (mental health)
Kesetaraan gender dan hak asasi manusia
Kelestarian lingkungan dan perubahan iklim
Keadilan akses pendidikan dan lapangan kerja baru
Adaptif terhadap Teknologi dan Mendorong Literasi Digital
Sebagai generasi yang melek teknologi sejak lahir, mereka membutuhkan pemimpin yang paham cara kerja ekosistem digital. Politisi ideal diharapkan mampu merumuskan kebijakan berbasis data (data-driven policy) dan tidak gagap teknologi, sekaligus aktif mengedukasi publik agar kritis terhadap algoritma dan disinformasi.
Gen Z dan Gen Alpha memiliki kerentanan yang sangat tinggi untuk tercemari oleh fenomena politisi busuk, terutama karena paparan manipulasi digital yang masif di ruang siber. Sebagai generasi yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dunia maya, mereka menjadi target utama dari taktik politik manipulatif yang memanfaatkan algoritma dan bias psikologis.
Meskipun dikenal kritis, lanskap digital saat ini membuat kedua generasi ini rentan terpapar racun politik melalui beberapa jalur berikut:
Manipulasi Algoritma dan "Micro-Targeting"
Politisi korup atau tidak berintegritas kini menggunakan konsultan politik digital canggih. Mereka memanfaatkan data pribadi untuk melakukan micro-targeting, yaitu mengirimkan narasi politik yang telah dipersonalisasi sesuai ketakutan, hobi, atau kecemasan spesifik anak muda. Akibatnya, Gen Z dan Alpha bisa terjebak dalam echo chamber (ruang gema), di mana mereka hanya mendengar satu sudut pandang yang bias dan terdistorsi.
Normalisasi Korupsi Lewat Konten Hiburan (Infotainment Politik)
Bahaya terbesar saat ini adalah estetisasi politik busuk. Politisi yang bermasalah sering kali mengaburkan rekam jejak buruk mereka dengan memproduksi konten-konten yang ramah anak muda: joget viral, video memasak, menunjukkan sisi humanis yang jenaka, hingga tren aesthetic. Ketika konten ini viral, Gen Z dan Alpha (terutama Alpha yang masih di usia sekolah) berpotensi mengalami desensitisasi moral—mereka mulai menormalisasi perilaku buruk sang politisi hanya karena sosoknya dianggap "seru" atau "lucu" di media sosial.
Jebakan Deepfake dan Informasi Palsu (Disinformasi)
Gen Alpha tumbuh di era di mana Artificial Intelligence (AI) generatif sangat mudah diakses. Politisi busuk dapat memanfaatkan teknologi ini untuk meluncurkan kampanye hitam berbasis deepfake (video atau audio tiruan yang sangat mirip aslinya) untuk menjatuhkan lawan atau membangun citra diri yang palsu. Tanpa kemampuan verifikasi yang kuat, anak muda bisa dengan mudah memercayai kebohongan yang terlihat sangat nyata tersebut.
Eksploitasi Isu Kesehatan Mental dan Masa Depan
Politisi busuk sering kali bertindak sebagai "penyelamat palsu" (false prophet) dengan mengeksploitasi kecemasan terbesar Gen Z dan Alpha, seperti perubahan iklim, lapangan kerja, dan kesehatan mental. Mereka memberikan janji-janji manis yang populis tanpa adanya rencana aksi yang realistis. Ketika janji tersebut dikemas dengan bahasa kekinian (relatable), anak muda rentan terbuai oleh harapan palsu.
Kelelahan Politik (Political Fatigue) dan Apatisme
Ketika Gen Z dan Alpha menyadari bahwa mereka telah dibohongi oleh politisi yang awalnya mereka idolai di media sosial, dampaknya bisa sangat merusak. Hal ini dapat memicu political fatigue (kelelahan politik) yang mendalam. Alih-alih tetap kritis, mereka bisa berubah menjadi apatis, sinis terhadap demokrasi, dan memilih untuk tidak peduli lagi pada masa depan politik negara.
Benteng Pertahanan yang Dibutuhkan
Agar potensi besar kedua generasi ini tidak tercemari, diperlukan penguatan sistemik yang berfokus pada dua hal:
Edukasi Literasi Media Kritis: Bukan sekadar bisa menggunakan teknologi, tetapi kemampuan membedakan mana konten yang murni informatif dan mana yang merupakan propaganda/gimik politik.
Transparansi Rekam Jejak Digital: Komunitas sipil dan media independen harus terus menyediakan platform yang mudah diakses anak muda untuk mengecek rekam jejak, kasus hukum, dan janji politik masa lalu dari para politisi secara objektif.
Membentengi Gen Z dan generasi Alpha dari fenomena "politisi busuk" sangatlah perlu dan mendesak. Fenomena ini merujuk pada aktor politik yang menggunakan manipulasi, korupsi, penyebaran hoaks, atau politik identitas demi kepentingan pribadi atau golongan, tanpa memedulikan kesejahteraan rakyat.
Gen Z dan generasi Alpha tumbuh di era digital di mana informasi—baik yang valid maupun manipulatif—masuk tanpa henti. Tanpa benteng yang kuat, mereka rentan menjadi target manipulasi opini atau justru menjadi apatis (golput) karena muak melihat realitas politik yang kotor.
Berikut adalah alasan utama dan strategi taktis untuk membentengi kedua generasi ini:
Mengapa Mereka Perlu Dibentengi?
Target Utama Manipulasi Digital: Politisi busuk sering memanfaatkan algoritma media sosial (seperti TikTok, Instagram, dan X) untuk menyebarkan propaganda, pencitraan palsu, atau polarisasi. Gen Z dan Alpha adalah konsumen terbesar media ini.
Mencegah Sikap Apatis (Skeptisisme Radikal): Jika terus-menerus disuguhi keburukan politik, mereka bisa menganggap semua politisi itu sama ratanya. Sikap masa bodoh ini berbahaya bagi masa depan demokrasi.
Pondasi Pemilih Masa Depan: Gen Z kini sudah menjadi pemilih pemula yang masif, dan Alpha akan segera menyusul dalam satu dekade ke depan. Masa depan arah kebijakan negara berada di tangan suara mereka.
Strategi Membentengi Gen Z dan Alpha
Untuk melindungi mereka, pendekatan yang digunakan tidak boleh bersifat mendikte, melainkan membangun daya kritis.
Penguatan Literasi Digital dan Media
Berpikir Kritis: Ajarkan mereka untuk selalu mempertanyakan informasi: "Siapa yang membuat konten ini? Apa tujuannya? Apakah ada datanya?"
Mengenali Logical Fallacy (Kesesatan Berpikir): Latih mereka agar bisa mendeteksi taktik politisi busuk, seperti menyerang pribadi lawan (ad hominem) atau mengalihkan isu utama (red herring).
Verifikasi Fakta: Kenalkan mereka pada platform cek fakta independen untuk menyaring berita bohong atau janji manis yang tidak realistis.
Pendidikan Politik yang Sehat (Bukan Praktis)
Memahami Fungsi Sistem: Edukasi mereka bahwa politik pada hakikatnya adalah alat untuk mengatur kebijakan publik (sekolah, fasilitas kesehatan, lingkungan), bukan sekadar perebutan kekuasaan.
Fokus pada Rekam Jejak (Track Record): Ajarkan mereka cara menilai politisi bukan dari tren atau joget video viralnya, melainkan dari kerja nyata, latar belakang, dan konsistensi sikapnya.
Ruang Diskusi yang Terbuka di Rumah dan Sekolah
Hindari Indoktrinasi: Jangan mendikte mereka harus memilih siapa. Berikan mereka ruang untuk berargumen dan melihat sebuah isu dari berbagai perspektif secara objektif.
Hubungkan dengan Isu Kedekatan Generasi: Tarik topik politik ke isu yang mereka pedulikan, seperti perubahan iklim, kesehatan mental, lapangan kerja digital, atau biaya pendidikan.
Membentengi mereka bukan berarti menjauhkan mereka dari dunia politik (apolitik), melainkan mempersenjatai mereka dengan kecerdasan emosional dan intelektual agar mampu memilih pemimpin yang berintegritas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....