Dampak Kabut Asap Terhadap ISPA Masyarakat di Himmbau Pakai Masker
- 22 Sep 2026 10:33 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi - Fenomena kabut asap lintas wilayah kembali menyelimuti Kota Jambi dan sekitarnya akibat musim kemarau panjang serta maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai titik kawasan. Meskipun Kota Jambi tidak memiliki area hutan yang terbakar, pergerakan angin membawa asap pekat yang fluktuatif hingga membuat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) melonjak tajam ke kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya. Menanggapi ancaman krisis lingkungan ini, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kota Jambi mengimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang mulai menunjukkan tren kenaikan signifikan di berbagai kabupaten dan kota se-Provinsi Jambi.
Dewan Pengawas HAKLI Kota Jambi, Asin Munawar, menjelaskan secara mendetail bahaya utama dari kabut asap ini terletak pada keberadaan partikel debu mikroskopis berukuran 2,5 mikron (PM 2.5). Karena ukurannya yang sedemikian kecil, partikel beracun tersebut tidak hanya berhenti di saluran pernapasan atas, tetapi mampu menembus jauh ke dalam jaringan paru-paru hingga terserap ke dalam sistem peredaran darah. "Apabila daya tahan tubuh masyarakat sedang menurun atau ng-edrop, paparan partikel pekat ini akan dengan sangat mudah memicu peradangan, demam, hingga infeksi akut. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, grafik kasus ISPA memang tercatat terus mengalami peningkatan drastis dari minggu ke minggu seiring memburuknya kualitas udara," tegas Asin, Senin, 21 September 2026.
Senada dengan hal tersebut, Bendahara HAKLI Kota Jambi, Maria, menekankan bahwa langkah proteksi diri tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Penggunaan masker kain biasa dinilai kurang efektif menahan paparan PM 2.5 karena pori-porinya yang relatif besar, sehingga masyarakat sangat disarankan beralih menggunakan masker medis atau tipe standar tinggi seperti KN95 dan N95. Maria juga menyoroti kebiasaan keliru masyarakat dalam mengaplikasikan masker di lapangan. "Penggunaan masker yang benar wajib menutupi area hidung hingga ke bawah dagu secara rapat, bukan sekadar dikaitkan di dagu atau hanya menutup mulut. Selain itu, durasi pemakaian ideal masker medis pada kondisi udara tercemar rapat seperti ini adalah maksimal empat jam untuk menjaga efektivitas filtrasinya," tutur Maria.
Sebagai upaya menekan jumlah korban paparan polusi, HAKLI Kota Jambi menyatakan dukungan penuh terhadap langkah cepat pemerintah daerah yang memberlakukan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi anak-anak sekolah. Langkah isolasi mandiri di rumah ini dianggap sangat tepat guna melindungi kelompok-kelompok paling rentan, seperti anak-anak usia dini (PAUD/TK dan SD), lansia, ibu hamil, serta warga yang memiliki riwayat penyakit bawaan seperti asma. Pembatasan aktivitas di luar ruangan, penutupan pintu serta jendela rumah saat kondisi asap memuncak, hingga penghentian kegiatan olahraga luar gedung menjadi kunci penting untuk meminimalisir risiko gangguan pernapasan yang lebih berat.
Di akhir imbauannya, HAKLI mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak memperparah kondisi udara dengan melakukan tindakan pembakaran sampah mandiri di area pemukiman. Masyarakat diminta memperbanyak konsumsi air putih, menjaga stamina lewat nutrisi gizi seimbang, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala batuk, sesak, atau demam tinggi. Pihak pengelola Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah di Kota Jambi pun diminta meningkatkan pengawasan ekstra ketat di area pembuangan guna mencegah timbulnya potensi kebakaran lahan sampah, yang jika terbakar dapat menghasilkan asap campuran zat kimia berbahaya yang jauh lebih beracun bagi pernapasan warga.
Penulis : indana zulfa
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....