Menjaga Eksistensi Bahasa Melayu Jambi di tengah Arus Modernisasi

  • 10 Sep 2026 14:35 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan keberagaman masyarakat modern, keberadaan bahasa daerah kerap menghadapi ancaman serius. Menjawab tantangan tersebut, Balai Bahasa Provinsi Jambi bersama para pendidik berupaya menjaga eksistensi Bahasa Melayu Jambi agar tidak tergerus zaman dan tetap dicintai generasi muda. Dalam podcast RRI Jambi, Penanggung Jawab Revitalisasi Bahasa Daerah Balai Bahasa Provinsi Jambi, Fitria, S.S., M.A., memaparkan bahwa program revitalisasi ini difokuskan pada upaya pewarisan bahasa kepada siswa jenjang SD dan SMP. "Berdasarkan pemetaan, dari 718 bahasa daerah di Indonesia, ada 11 bahasa yang sudah punah. Oleh karena itu, revitalisasi ini penting agar bahasa daerah di Jambi tidak hilang. Intinya adalah pewarisan kepada anak-anak agar mereka tidak menganggap bahasa daerah itu kuno atau ketinggalan zaman," tutur Fitria.

Eksistensi Bahasa Melayu Jambi saat ini menghadapi berbagai tantangan kompleks, mulai dari maraknya gawai, dominasi bahasa gaul, hingga kegandrungan anak-anak terhadap budaya luar seperti K-Pop dan konten internet. Selain itu, kondisi Jambi sebagai daerah multikultural dengan maraknya perkawinan campur serta minimnya pembiasaan berbahasa daerah di lingkungan rumah turut memicu pergeseran bahasa. Tantangan ini kian nyata saat bahasa pendatang mendominasi kehidupan sehari-hari, sebagaimana dicontohkan pada sebuah sekolah di Sungai Penuh di mana dari 30 siswa, hanya lima anak yang masih lancar menuturkan bahasa lokal karena selebihnya lebih terbiasa menggunakan bahasa pendatang.

Menghadapi tantangan tersebut, Balai Bahasa Provinsi Jambi menggandeng tim guru untuk menyusun modul pembelajaran khusus berisi tujuh materi utama, seperti dongeng, puisi, pidato, tembang tradisi, penulisan cerpen, hingga pengenalan kembali Aksara Melayu. Guru SD Negeri 96 Kota Jambi sekaligus penyusun modul, Desra Mahir Saputra, S.Pd., menyampaikan bahwa pendekatan seni dan literasi terbukti efektif menarik minat siswa. "Anak-anak zaman sekarang kerap terpengaruh tren luar dan media sosial. Namun lewat lagu daerah, dongeng, dan praktik seni, anak-anak justru menjadi lebih antusias dan mudah mempelajari bahasa ibu mereka," kata Desra.

Sebagai langkah konkret di lapangan, sejumlah sekolah di Kota Jambi mulai mengintegrasikan bahasa Melayu ke dalam kegiatan harian siswa. Contohnya adalah penerapan program Jumat Melayu (Jumel) di SMPN 11 Jambi serta pembiasaan di SDN 96 Kota Jambi, di mana para siswa dan guru diwajibkan mengenakan busana Melayu serta berkomunikasi menggunakan bahasa daerah setiap hari Jumat. Selain itu, kegiatan kompetisi seperti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) hingga perkemahan penulisan cerpen bahasa Melayu diselenggarakan guna memberikan ruang apresiasi dan menggembleng kreativitas para siswa hingga ke tingkat nasional.

Kendati demikian, perlindungan bahasa daerah tidak bisa bertumpu pada lembaga pendidikan semata, melainkan membutuhkan sinergi kuat dari lingkungan keluarga dan pemerintah daerah. Fitria mendorong Pemda untuk menerbitkan regulasi resmi, seperti Peraturan Walikota atau Perda, yang mewajibkan muatan lokal (Mulok) bahasa daerah di sekolah serta penetapan hari khusus berbahasa daerah di perkantoran instansi. "Cintailah budaya kita sendiri. Menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari bukan berarti mengabaikan bahasa Indonesia, melainkan menjaga identitas dan jati diri kita sebagai orang Jambi agar tidak hilang ditelan zaman," tutur Fitria memungkas.

penulis : linda safitri mahes

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....