Karhutla di Tebo, Medan Ekstrem Sumay Persulit Tim Pemadam Gabungan

  • 31 Agt 2026 22:04 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di wilayah Kabupaten Tebo, khususnya di kawasan Kecamatan Sumay. Peringatan ini disampaikan langsung oleh Bupati Tebo, Agus Rubiyanto, saat memaparkan kondisi daerahnya dalam Rapat Koordinasi Karhutla di Rumah Dinas Gubernur Jambi, Senin, 31 Agustus 2026.

Sebagai kabupaten terluas kedua di Jambi yang separuh wilayahnya masih berupa hutan, Tebo memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi. Terutama di Kecamatan Sumay, kawasan dengan tutupan hutan terluas yang berbatasan langsung dengan Provinsi Riau dan masuk dalam zona perbukitan Bukit 30. Kondisi geografis yang didominasi perbukitan dan jurang terjal ini menjadi ujian berat bagi tim pemadam gabungan saat beroperasi di lapangan.

Jarak tempuh dari pusat kota Tebo menuju titik api memakan waktu hingga tiga jam. Situasi ini diperparah dengan minimnya akses jalan yang bisa dilalui oleh armada pemadam kebakaran milik BPBD. Jangankan mobil tangki air, sepeda motor biasa pun kerap kewalahan menembus medan ekstrem tersebut.

"Petugas sempat melakukan pemadaman manual hingga menyambung selang air sebanyak 6 rol, jangkauannya tetap tidak mencapai titik api," ungkap Bupati Agus Rubiyanto kepada Gubernur Jambi.

Medan yang serba sulit membuat penanganan awal di darat selalu berpacu melawan waktu. Apabila jangkauan api sudah sulit dikendalikan, satu-satunya solusi efektif yang bisa diandalkan tim satgas adalah meminta bantuan pemadaman dari udara.

"Kami minta bantu waterbombing, api baru bisa dipadamkan. Kondisi ini membuat penanganan awal kerap terkendala waktu," keluhnya.

Usut punya usut, maraknya titik api di kawasan Bukit 30 tersebut disinyalir kuat akibat ulah pendatang dari luar daerah, seperti Riau dan Sumatera Utara. Mereka merambah hutan untuk membuka lahan perkebunan baru dengan cara instan, yakni membakar lahan. Sayangnya, aktivitas perambahan ini kerap luput dari pantauan karena para pelaku masuk melalui jalur-jalur terpencil di batas antarprovinsi, bukan melewati pusat pemerintahan kabupaten.

Guna mencegah kebakaran susulan membesar, tim gabungan dari unsur TNI, Polri, BPBD, dan pemerintah daerah kini memperketat pengawasan dengan mendirikan posko siaga di sejumlah titik rawan.

"Petugas ditempatkan secara standby agar dapat bergerak cepat begitu titik api baru terdeteksi," tegas Agus.

Di sisi lain, meski secara kuantitas satelit hanya mendeteksi dua hingga tiga titik api di Tebo, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di wilayah tersebut justru tercatat cukup buruk. Berdasarkan hasil pemantauan BPBD dan Dinas Lingkungan Hidup setempat, memburuknya kualitas udara ini dipengaruhi oleh pergerakan arah angin dari selatan ke utara, yang membawa asap karhutla dari daerah tetangga dan mengepung langit Kabupaten Tebo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....