Prof Su’aidi Serahkan Dua Buku di Pengukuhan Guru Besar

  • 21 Agt 2026 09:29 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Pengukuhan lima guru besar UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi berlangsung khidmat di Auditorium Chatib Quzwain, 20 Agustus 2026. Kegiatan tersebut dihadiri hampir seluruh anggota senat. Di sela pengukuhan, Prof. Dr. H. Su’aidi menyerahkan dua buku kepada pimpinan UIN STS Jambi, yakni Tranintegrasi Ilmu Pengetahuan: Upaya Menuju Peradaban Baru Melampaui Postmodernisme dan Orientalisme Sebelum Edward Said: Islam, Barat, dan Politik Pengetahuan. Penyerahan buku tersebut menjadi bagian dari momentum penguatan tradisi akademik dan dialog keilmuan di lingkungan UIN STS Jambi.

Prof. Su’aidi menjelaskan, gagasan dalam kedua buku tersebut tidak terlepas dari perjalanan UIN STS Jambi dalam mendirikan Fakultas Kedokteran. Proses pengajuan fakultas berlangsung ketika pandemi Covid-19 masih menjadi persoalan besar. Perguruan tinggi saat itu dituntut menjelaskan distingsi atau ciri khas Fakultas Kedokteran yang akan didirikan. “Pada saat itu, kita dituntut menjelaskan distingsi dan ciri khas Fakultas Kedokteran,” kata Prof. Su’aidi.

Menurut Prof. Su’aidi, kebutuhan dokter di Indonesia menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pengembangan Fakultas Kedokteran. Ketimpangan antara jumlah dokter dan jumlah penduduk masih menjadi persoalan yang membutuhkan waktu panjang untuk diselesaikan. “Kalau hanya mengandalkan jumlah dokter saat itu, sampai 25 tahun pun belum tentu tercapai,” tuturnya. Ia menilai keberadaan Fakultas Kedokteran di perguruan tinggi keagamaan memiliki nilai strategis, sekaligus menjadi ruang untuk mengembangkan karakter akademik yang terintegrasi.

Pembahasan tersebut kemudian berkembang pada posisi ilmu kedokteran, sains, teknologi, dan ilmu lainnya dalam tradisi keilmuan Islam. Prof. Su’aidi menilai sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa ilmu agama dan ilmu yang kini disebut ilmu umum tidak selalu dipisahkan secara kaku. Ia mencontohkan Al-Kindi sebagai salah satu ilmuwan Muslim yang berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan. “Pada zaman keemasan Islam, tidak pernah ada dikotomi ilmu agama dan ilmu umum,” katanya. Gagasan tersebut kemudian menjadi salah satu pijakan pemikirannya mengenai integrasi berbagai disiplin ilmu.

Prof. Su’aidi berharap kedua bukunya dapat menjadi bahan diskusi akademik di lingkungan UIN STS Jambi. Buku Orientalisme Sebelum Edward Said diserahkan kepada Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama, sedangkan buku Tranintegrasi Ilmu Pengetahuan diserahkan kepada Rektor dan Ketua Senat UIN STS Jambi. Menurutnya, gagasan integrasi ilmu perlu terus dikembangkan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. “Tentu saja saya juga sudah membacanya,” tutur Prof. Su’aidi dengan nada ringan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....