KKI Warsi Desak Kanal di Gambut Ditertibkan, Cegah Karhutla Berulang
- 12 Agt 2026 05:42 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID,Jambi- Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan gambut kembali terjadi di Jambi. KKI Warsi menilai persoalan pengeringan gambut melalui kanal menjadi salah satu hal yang harus segera ditangani untuk mencegah kebakaran berulang setiap musim kemarau.
Senior Advisor KKI Warsi, Rudi Syaf, mengatakan hasil analisis citra satelit terhadap kawasan terbakar di Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi menunjukkan adanya banyak kanal dengan pola yang tidak beraturan.
Menurutnya, kondisi tersebut mengindikasikan adanya proses pengeringan kawasan gambut. Ketika gambut kehilangan air dan menjadi kering, potensi kebakaran akan meningkat, terutama saat memasuki puncak musim kemarau.
"Kalau gambut yang biasanya basah karena kanal dibuat akhirnya menjadi kering, itu berbahaya. Undang-undang mensyaratkan muka air di kanal paling rendah 40 sentimeter," ujar Rudi, Selasa 11 Agustus 2026.
Rudi mengatakan menjaga muka air gambut menjadi langkah penting dalam pencegahan Karhutla. Gambut yang tetap basah dinilai lebih sulit terbakar dibandingkan gambut yang telah mengering. Karena itu, ia mendorong pemerintah melakukan penertiban terhadap kanal-kanal yang berada di kawasan gambut, terutama di kawasan hutan produksi terbatas.
"Menurut kami, kalau di hutan produksi terbatas masih ada kanal, harus dipastikan apakah kanal itu legal atau ilegal. Kalau ilegal, harus ditutup. Kalau kanal dibutuhkan untuk kegiatan masyarakat, harus dilakukan blocking agar muka air tidak turun," katanya.
Menurut Rudi, keberadaan sekat kanal menjadi salah satu upaya mempertahankan tinggi muka air gambut pada musim kemarau. Ia menilai persoalan tata kelola air di kawasan gambut tidak boleh hanya ditangani ketika kebakaran telah terjadi. Sebab, ketika api sudah membesar, proses pemadaman akan jauh lebih sulit dan membutuhkan sumber daya besar.
"Pencegahan jauh lebih penting. Kalau bicara gambut, kalau sudah terbakar itu sulit dipadamkan. Jadi memastikan muka air gambut tetap tinggi harus menjadi prioritas," ujarnya. Rudi mengingatkan persoalan tersebut sebenarnya bukan hal baru. Ia menyebut pentingnya menjaga muka air gambut telah disuarakan sejak kebakaran besar pada 2019.
"Supaya muka air itu dijaga. Karena setiap kemarau kita terbukti tidak mampu menjaga muka air, akhirnya gambut terbakar," katanya. Ia berharap penertiban kanal dan pengelolaan tata air dilakukan sebelum puncak kemarau berlalu sehingga risiko Karhutla pada tahun-tahun berikutnya dapat ditekan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....