Ivan: Pencegahan Menjadi Prioritas Dampak Kekeringan

  • 03 Agt 2026 09:54 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Pemerintah Kabupaten Kerinci terus meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kekeringan memasuki puncak musim kemarau 2026. Meski hingga kini belum ditetapkan status darurat kekeringan, berbagai indikator menunjukkan tren yang perlu diantisipasi agar dampaknya tidak meluas terhadap masyarakat, sektor pertanian, hingga lingkungan.

Berdasarkan Dashboard Monitoring Kekeringan Kabupaten Kerinci yang diperbarui pada 31 Juli 2026 pukul 08.30 WIB, status kekeringan Kabupaten Kerinci masih berada pada level Waspada. Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat langkah mitigasi sejak dini.

Data menunjukkan Indeks Kekeringan (SPI-3 bulan) berada di angka -0,82 atau kategori sedang. Curah hujan selama tujuh hari terakhir hanya mencapai 4,6 milimeter, jauh di bawah kondisi normal sebesar 28,4 milimeter.

Sementara itu, hari tanpa hujan telah berlangsung selama 12 hari berturut-turut, dua kali lipat lebih lama dibanding kondisi normal enam hari. Kelembapan udara rata-rata juga turun menjadi 58 persen, lebih rendah dari angka normal sebesar 72 persen.

Dalam 24 jam terakhir, terpantau enam titik panas (hotspot). Meski jumlah tersebut menurun dibanding tujuh hari sebelumnya yang mencapai 23 titik, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap menjadi perhatian serius.

Dampak kekeringan mulai dirasakan masyarakat. Hingga akhir Juli, tercatat 18 desa terdampak, meningkat empat desa dibanding pekan sebelumnya. Sebanyak 3.654 jiwa mulai terdampak dengan kebutuhan air bersih mencapai 145.000 liter per hari. Selain itu, sekitar 285 hektare lahan pertanian mengalami gangguan akibat berkurangnya pasokan air, sementara 1.236 ekor ternak turut terdampak.

Pemantauan terhadap sumber air utama juga memperlihatkan tren penurunan debit. Sungai Batang Meraang di Kerinci Hilir mengalami penurunan sekitar 18 persen, Sungai Air Hangat turun 22 persen, Sungai Siulak turun 16 persen, dan Mata Air Kaco di Gunung Kerinci berkurang 11 persen. Hanya Mata Air Telun Berasap yang relatif stabil.

Peta risiko menunjukkan terdapat 21 desa berada pada kategori risiko tinggi yang tersebar di Kecamatan Keliling Danau, Danau Kerinci dan Air Hangat. Sebanyak 32 desa berada pada risiko sedang, sementara 61 desa lainnya masih tergolong risiko rendah namun tetap membutuhkan pemantauan berkala.

Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jambi, Ivan Wirata, mengingatkan bahwa upaya pencegahan harus menjadi prioritas sebelum dampak kekeringan semakin meluas.

"Kita tidak boleh menunggu sampai terjadi krisis air. Mitigasi harus dilakukan sejak sekarang. Pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan harus memastikan sumber-sumber air tetap terjaga, jaringan irigasi berfungsi optimal, dan kebutuhan air bersih masyarakat dapat terpenuhi," ujar Ivan Wirata, Senin (3/8/2026).

Menurut Ivan, sektor pertanian sebagai tulang punggung perekonomian Kerinci harus mendapat perhatian khusus karena kemarau berkepanjangan berpotensi menurunkan produktivitas petani apabila tidak diantisipasi dengan baik.

"Kerinci adalah daerah pertanian yang menjadi salah satu lumbung pangan di Provinsi Jambi. Karena itu, perlindungan terhadap sumber air, embung, saluran irigasi, serta kesiapan distribusi air harus menjadi fokus utama. Jangan sampai petani mengalami kerugian akibat keterlambatan langkah antisipasi," tegasnya.

Ivan juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif menjaga lingkungan dengan menghemat penggunaan air dan tidak membuka lahan menggunakan api selama musim kemarau.

"Sinergi pemerintah, DPRD, TNI-Polri, BPBD, BMKG, pemerintah desa, hingga masyarakat sangat penting. Pencegahan jauh lebih murah dan efektif dibandingkan penanganan ketika bencana sudah terjadi. Kesadaran masyarakat menjadi kunci agar Kerinci dapat melewati puncak kemarau tahun ini dengan aman," tambahnya.

Sementara itu, BMKG memperkirakan puncak musim kemarau 2026 akan berlangsung pada Agustus hingga September. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Kerinci terus memperkuat berbagai langkah mitigasi, mulai dari pemantauan debit sungai dan mata air, optimalisasi embung dan jaringan irigasi, distribusi air bersih ke wilayah rawan, patroli pencegahan karhutla bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) dan TNKS, penguatan sistem peringatan dini berbasis BMKG dan BPBD, hingga sosialisasi penghematan air kepada masyarakat.

Dengan kesiapsiagaan yang dibangun sejak dini, Kabupaten Kerinci diharapkan mampu menjaga ketahanan air, melindungi sektor pertanian, serta meminimalkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan selama puncak musim kemarau 2026. Sinergi seluruh elemen masyarakat menjadi kunci agar daerah berhawa sejuk ini tetap tangguh menghadapi tantangan perubahan iklim.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....