Musim Kemarau Menguat, Luas Karhutla di Jambi Capai 222 Hektare
- 31 Jul 2026 17:46 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Provinsi Jambi kian meluas seiring masuknya puncak musim kemarau. Hingga Rabu 29 Juli 2026. total area yang hangus terbakar dilaporkan telah menembus angka 222 hektare.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengungkapkan bahwa sebaran api terdeteksi di beberapa daerah rawan, seperti Kabupaten Muaro Jambi, Batanghari, Tanjung Jabung Barat, hingga Tanjung Jabung Timur.
"Hingga hari ini luas lahan yang terbakar sekitar 222 hektare," kata Bachyuni saat memberikan keterangan, Kamis, 30 Juli 2026.
Menurutnya, kondisi ini dipicu oleh masuknya puncak musim kemarau di Jambi pada akhir Juli. Periode kering ini diprediksi berlangsung hingga akhir September dan berpotensi berlanjut sampai Oktober mendatang.
Titik api tercatat sempat membakar sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Kumpeh dan Rantau Panjang (Muaro Jambi), Kecamatan Betara (Tanjung Jabung Barat), Kecamatan Geragai (Tanjung Jabung Timur), serta beberapa titik di wilayah Batanghari. Dalam sepekan terakhir, insiden serupa juga ditemukan di Kabupaten Tebo dan Merangin. Khusus di Merangin, api berhasil dijinakkan petugas saat ukurannya masih kecil sehingga tidak sampai meluas.
Bachyuni menambahkan, kebakaran di kawasan lahan gambut mayoritas ditemukan di wilayah Rantau Panjang dan Air Merah (Muaro Jambi), serta Tanjung Jabung Timur. Sementara kebakaran di Kecamatan Betara terjadi di area perbukitan tanah mineral.
Meski luasan terbakar terus bertambah, BPBD memastikan seluruh insiden sejauh ini masih bisa ditangani dengan cepat. Keberadaan 81 posko siaga di titik-titik rawan menjadi kunci utama patroli, deteksi dini, sosialisasi, hingga tindakan pemadaman awal.
"Kalau pemadaman melalui jalur darat terkendala karena lokasi jauh atau tidak ada sumber air, maka langsung dikoordinasikan dengan tim udara untuk membantu pemadaman," jelasnya.
Patroli darat disiagakan setiap hari berpatokan pada pergerakan data hotspot (titik panas). Saat ini, akumulasi titik panas di Jambi memang sudah mendekati angka 2.000 titik. Namun, Bachyuni menegaskan hotspot tidak selalu berarti ada kebakaran aktif, sebab pantulan objek panas lain kerap terdeteksi oleh satelit.
"Hari ini misalnya ada sekitar 30 hotspot. Semuanya kami patroli untuk memastikan apakah benar ada api atau hanya pantulan panas," ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi lanjutan, BPBD Jambi tengah menyiapkan skenario Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). BNPB pun sudah menyiagakan satu unit pesawat Cassa di Jambi yang siap dikerahkan untuk patroli udara maupun penyemaian garam jika potensi awan hujan mulai terlihat.
Menghadapi kondisi vegetasi yang kian mengering, Bachyuni mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tidak memicu potensi kebakaran baru.
"Kami minta masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan. Jangan membuka lahan dengan membakar dan jangan membuang puntung rokok sembarangan karena sekarang kondisi sangat kering dan rawan kebakaran," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....