Sebagian Besar Karhutla Dipicu Ulah Manusia, Edukasi Jadi Kunci Pencegahan
- 30 Jul 2026 05:07 WIB
- Jambi
RRI. CO.ID,Jambi- Faktor manusia masih menjadi penyebab utama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi. Manggala Agni Provinsi Jambi mencatat hampir seluruh kejadian karhutla dipicu oleh aktivitas manusia, terutama pembukaan lahan dengan cara membakar.
Koordinator Wilayah Manggala Agni Provinsi Jambi, Rinaldi, mengatakan upaya mengubah perilaku masyarakat menjadi tantangan terbesar dalam pencegahan karhutla. Menurutnya, kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar masih ditemukan di sejumlah wilayah, terutama saat musim kemarau.
| Baca juga: Bantuan Helikopter Untuk Penanganan Karhutla |
"Kembali lagi bahwa hutan dan lahan kita ini memang hampir 99 persen kebakarannya diakibatkan oleh manusia. Upaya penyadartahuan masyarakat dan mengubah kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar itu yang membutuhkan waktu dan proses yang panjang," kata Rinaldi, Rabu 29 Juli 2026.
Ia menilai kebiasaan tersebut telah berlangsung cukup lama sehingga diperlukan pendekatan yang berkelanjutan melalui edukasi dan pendampingan kepada masyarakat.
Karena itu, Manggala Agni bersama BPBD, TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga aparat desa terus mengintensifkan patroli terpadu di kawasan rawan karhutla. Patroli tidak hanya bertujuan mendeteksi dini titik api, tetapi juga memetakan wilayah rawan dan memberikan sosialisasi langsung kepada masyarakat.
"Dengan patroli kita memetakan wilayah yang rawan, kemudian kita lakukan intervensi melalui sosialisasi kepada masyarakat bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Harapannya masyarakat tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar," ujarnya.
Menurut Rinaldi, upaya pencegahan menjadi semakin penting karena Provinsi Jambi saat ini telah memasuki musim kemarau dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September. Kondisi cuaca berupa suhu udara yang tinggi, kelembapan rendah, dan angin kencang membuat api sangat mudah menyebar apabila terjadi pembakaran.
"Sedikit saja terjadi kebakaran dan terlambat ditangani, apinya bisa cepat meluas karena dipengaruhi angin kencang dan kelembapan udara yang rendah," katanya.
Selain faktor cuaca, Manggala Agni juga terus memantau titik panas (hotspot) melalui aplikasi Sipongi milik Kementerian Kehutanan. Setiap hotspot yang terdeteksi akan segera diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan sebelum dilakukan langkah penanganan.
Rinaldi menegaskan keberhasilan pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada petugas di lapangan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Ia mengajak masyarakat untuk menghentikan praktik pembakaran lahan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.
"Kalau kita ingin menekan kejadian karhutla, maka yang paling utama adalah mencegah munculnya api. Itu hanya bisa dilakukan apabila semua pihak memiliki kesadaran yang sama untuk tidak membakar lahan," tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....