Warga Tebo Hijaukan Bukit Tigapuluh, 30 Ribu Bibit Pohon Ditanam

  • 27 Jun 2026 07:28 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi : Upaya mengembalikan kelestarian kawasan Bentang Alam Bukit Tigapuluh (Bukit 30) terus bergulir. Lewat program restorasi berbasis masyarakat yang dimotori WWF Indonesia bersama berbagai pihak, sebanyak 30.523 bibit pohon dari 28 jenis tanaman kini telah tertanam di tanah Kabupaten Tebo hingga pertengahan tahun 2026. Aksi hijau ini digerakkan oleh 112 petani lokal yang tergabung dalam tujuh kelompok tani.

Catatan positif ini dipaparkan langsung dalam acara diseminasi hasil liputan dan pemutaran film yang digelar WWF Indonesia bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jambi di Kantor Bappeda Litbang Kabupaten Tebo, Jumat, 26 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi hangat bagi para petani, pemerintah daerah, BKSDA Jambi, KPHP, LSM, hingga para jurnalis.

Project Executant Bukit Tigapuluh Landscape WWF Indonesia, Nazli Herimsyah, mengungkapkan bahwa program penghijauan ini sengaja dirancang dengan konsep dari petani untuk petani (farmer to farmer). Pendekatan ini menempatkan masyarakat setempat sebagai aktor utama, mulai dari perencanaan hingga mengawasi hasil tanaman.

“Tujuan utamanya ada tiga, yakni pemulihan lahan, memberikan nilai ekonomi kepada masyarakat, dan mengurangi konflik antara manusia dengan satwa liar,” ujar Nazli.

Uniknya, sebanyak 25 jenis bibit yang ditanam justru disediakan sendiri oleh warga, sementara sisanya dibantu lewat program. Tidak sekadar menanam, WWF juga mendampingi warga membangun rumah pembibitan, melatih pembuatan pupuk kompos, menyiapkan langkah mitigasi konflik dengan satwa, hingga memanfaatkan aplikasi digital untuk memantau pertumbuhan pohon.

Nazli membeberkan, saat ini tutupan hutan di Bentang Alam Bukit Tigapuluh hanya tersisa sekitar 40 persen dari total luas wilayah yang mencapai 350 ribu hektare lebih. Padahal, hutan ini merupakan rumah penting bagi kelangsungan hidup gajah Sumatera, harimau Sumatera, dan berbagai satwa dilindungi lainnya.

“Kita harus mencari titik temu antara kebutuhan ekonomi masyarakat dan kebutuhan konservasi. Karena hampir separuh wilayah bentang alam ini berada di kawasan yang dimanfaatkan masyarakat,” tambahnya.

Langkah kolaboratif ini mendapat apresiasi dari Kepala BKSDA Jambi, Himawan Sasongko. Menurutnya, menyelamatkan Bukit Tigapuluh tidak bisa dilakukan sendirian karena kawasan tersebut merupakan lanskap luas dengan beragam kepentingan di dalamnya. Melintasi beberapa kabupaten, hutan ini menjadi salah satu benteng pertahanan terakhir bagi populasi gajah Sumatera di Jambi yang diperkirakan tersisa 96 hingga 129 ekor.

“Kita harus membangun tata kelola bersama. Masyarakat harus ditempatkan sebagai subjek, bukan objek. Mereka adalah pihak yang paling depan menjaga kawasan dan berhadapan langsung dengan berbagai persoalan di lapangan,” tegas Himawan.

Himawan tidak menampik bahwa tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menyelaraskan arus pembangunan dan roda ekonomi warga tanpa mengorbankan ruang hidup satwa liar. Oleh karena itu, ia mendorong kerja kolektif yang solid antara pemerintah, LSM, pelaku usaha, pengelola kawasan, dan masyarakat sekitar.

“Kita ingin masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi, tetapi habitat gajah tetap terjaga. Kalau masyarakat mau menyediakan ruang hidup bagi satwa, harus ada manfaat yang juga bisa mereka rasakan,” jelasnya, seraya mengusulkan peluang baru berupa pengembangan ekowisata berbasis komunitas.

Di sisi lain, perwakilan AJI Jambi yang turun langsung ke lokasi restorasi, Suang Sitanggang, membagikan potret nyata di lapangan. Menurut amatan para jurnalis, keterlibatan aktif warga menjadi pembeda besar antara program ini dengan proyek penghijauan biasa yang sering kali mangkrak.

“Dari hasil pengamatan di lapangan, masyarakat tidak hanya menanam. Mereka ikut mulai dari penyediaan bibit, penanaman hingga perawatan. Karena dilibatkan sejak awal, rasa memiliki terhadap tanaman juga lebih kuat,” kata Suang.

Bagi sebagian petani, pohon-pohon yang mereka rawat saat ini dinilai sebagai investasi jangka panjang demi menopang ekonomi keluarga di masa depan. Meski sempat diterpa kendala seperti serangan hama, banjir, dan tantangan teknis budidaya, tingkat keberhasilan tumbuh tanaman tergolong cukup tinggi.

“Yang menarik adalah munculnya rasa tanggung jawab dan penghargaan dari masyarakat karena mereka merasa menjadi bagian dari program, bukan sekadar penerima bantuan,” tutur Suang.

Melalui ruang diseminasi dan pemutaran film ini, para pihak tidak hanya melihat rekam jejak penghijauan yang sudah berjalan enam bulan terakhir, namun juga merumuskan strategi menghadapi tantangan ke depan. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, pegiat lingkungan, dan media kini menjadi kunci utama agar Bentang Alam Bukit Tigapuluh tetap bisa memberi penghidupan bagi manusia sekaligus perlindungan bagi satwa liar di dalamnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....