FOMO Jadi Boomerang, Jebakan Investasi Anak Muda
- 02 Jun 2026 22:55 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi - Tren investasi di kalangan generasi muda—khususnya Gen Z dan Milenial—terus menunjukkan lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di balik antusiasme yang tinggi tersebut, para investor muda ini dihadapkan pada tantangan literasi finansial yang cukup pelik hingga risiko terjebak dalam skema investasi bodong.
Melihat fenomena ini, akademisi sekaligus pengamat ekonomi, Ahmad Soleh, mengungkapkan bahwa modal nekat dan ikut-ikutan (Fear of Missing Out/FOMO) masih menjadi musuh terbesar anak muda saat mulai terjun ke dunia pasar modal maupun instrumen investasi lainnya.
Tiga Tantangan Utama Investor Muda
Menurut Ahmad Soleh, ada tiga faktor krusial yang kerap membuat investasi anak muda justru berakhir dengan kerugian, antara lain:
Rendahnya Literasi Finansial: "Banyak anak muda yang langsung menaruh uang mereka di instrumen berisiko tinggi seperti kripto atau saham gorengan, tanpa paham fundamentalnya," ujar Ahmad Soleh saat diwawancarai pada Selasa, 2 Juni 2026.
Sindrom Instan (Get-Rich-Quick): Generasi muda cenderung menginginkan imbal hasil (return) yang besar dalam waktu singkat, sehingga melupakan prinsip dasar investasi.
Paparan Influencer Saham (Pompom): Terlalu mudah percaya pada rekomendasi figur publik di media sosial tanpa melakukan riset mandiri (Do Your Own Research).
"Investasi itu bukan tempat berspekulasi atau judi legal. Banyak yang terjebak karena melihat sisi pamer kekayaan (flexing) di media sosial, lalu ikut-ikutan beli tanpa tahu profil risiko diri sendiri," kata Ahmad Soleh menambahkan.
Solusi Jangka Panjang: Edukasi Sejak Bangku Kuliah
Ahmad Soleh menilai, regulasi dari otoritas terkait saja tidak cukup untuk melindungi investor muda. Perlu ada intervensi edukasi yang lebih masif, salah satunya melalui integrasi kurikulum literasi keuangan di tingkat pendidikan tinggi.
Pihak kampus diharapkan dapat bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memperbanyak Galeri Investasi yang aktif memberikan bimbingan, bukan sekadar tempat pendaftaran akun.
“Pemerintah dan lembaga akademis harus bersinergi. Jangan biarkan anak muda kita belajar investasi dari konten-konten media sosial yang belum tentu valid. Mereka harus diajarkan cara membaca laporan keuangan dasar dan manajemen risiko sejak dini,” tegasnya.
Sebagai penutup, Ahmad Soleh berpesan kepada para anak muda yang ingin memulai investasi agar menggunakan "uang dingin" atau dana yang memang tidak dialokasikan untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Langkah ini penting agar psikologi investor tetap stabil saat pasar mengalami fluktuasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....