Waspada Mental Anak Labil Dampak Buruk Kecanduan Gawai

  • 29 Mei 2026 15:14 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Penggunaan gawai (gadget) pada anak-anak kini sudah menjadi pemandangan lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di balik kemudahan akses hiburan dan informasi yang ditawarkan, paparan layar digital yang berlebihan dan tidak terkontrol menyimpan bom waktu yang siap merusak kesehatan mental anak.

Psikolog Jambi, Ridwan, S.Psi., M.Psi., mengungkapkan bahwa kasus gangguan emosi dan perilaku pada anak yang dipicu oleh kecanduan gawai mengalami tren peningkatan. Menurutnya, anak-anak yang menghabiskan waktu terlalu lama di depan layar gawai cenderung mengalami hambatan dalam perkembangan otak dan kematangan emosionalnya.

Ridwan menjelaskan, dunia digital menyajikan stimulasi instan yang memicu lonjakan hormon dopamin secara cepat pada otak anak. Hal ini membuat anak menjadi tidak terbiasa dengan proses, sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak sabaran, sulit fokus, dan memiliki kontrol emosi yang sangat rapuh.

"Dampak paling nyata yang sering dikeluhkan orang tua adalah anak menjadi sangat agresif, gampang mengamuk atau tantrum yang hebat ketika gawainya diambil. Mental mereka belum siap menghadapi realitas karena terlalu sering dimanjakan oleh kepuasan instan yang ada di dalam aplikasi atau game," ujar Ridwan, Jumat, 29 Mei 2026.

Ancaman Antisosial Hingga Depresi Dini

Lebih lanjut, Ridwan memaparkan bahwa interaksi yang terlalu intens dengan dunia maya dapat mengikis kemampuan anak dalam menjalin hubungan sosial di dunia nyata. Ada beberapa ancaman gangguan mental konkret yang mengintai anak akibat paparan gawai tanpa batas, antara lain:

Kecemasan Sosial dan Efek Pengasingan: Anak menjadi canggung, takut, atau malas berinteraksi dengan teman sebaya karena terbiasa menyendiri bersama gawainya, yang memicu sifat antisosial.

Gangguan Pemusatan Perhatian (ADHD): Kecepatan visual pada video atau game digital membuat anak kesulitan untuk fokus saat menerima instruksi lambat di dunia nyata, seperti saat belajar di kelas.

Depresi dan Paparan Siber: Bagi anak yang sudah mulai mengakses media sosial, mereka rentan mengalami tekanan mental akibat perundungan siber (cyberbullying) atau rasa minder karena membandingkan dirinya dengan apa yang dilihat di internet.

Oleh karena itu, Ridwan menegaskan bahwa peran aktif dan ketegasan orang tua adalah kunci utama dalam menyelamatkan mental generasi muda dari dampak buruk teknologi.

"Orang tua jangan menyerah dan menjadikan gawai sebagai 'pengasuh elektronik' agar anak diam. Batasi waktu layar (screen time) maksimal satu hingga dua jam sehari sesuai usia anak, dan imbangi dengan aktivitas fisik di luar ruangan. Pembatasan ini bukan bentuk kekejaman, melainkan wujud perlindungan bagi masa depan mental anak kita," pungkas Ridwan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....