Ancaman Mental Naik, Dosen Poltekkes Kemenkes Jambi Serukan Pencegahan

  • 24 Apr 2026 21:52 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi : Di tengah riuhnya dinamika kehidupan modern, kesehatan mental kini bukan lagi isu pinggiran yang bisa dipandang sebelah mata. Derasnya arus digitalisasi, himpitan tekanan ekonomi, dan perubahan sosial yang serba cepat membuat banyak orang makin rentan mengalami gangguan psikologis.

Fenomena ini rupanya mulai terasa di Jambi. Meski kesadaran masyarakat perlahan tumbuh, tantangan yang ada di lapangan masih sangat kompleks.digi

"Kesehatan mental bukan sekadar tidak adanya gangguan, melainkan sebuah kondisi kesejahteraan yang utuh. Individu yang sehat mental mampu mengelola stres kehidupan, bekerja secara produktif, serta berkontribusi dalam lingkungannya," ujar Ary Irfan, Dosen Promosi Kesehatan di Poltekkes Kemenkes Jambi, hari ini, Jumat (24 April 2026).

Dalam beberapa tahun terakhir, tren gangguan mental di Jambi menunjukkan grafik yang cukup mengkhawatirkan. Kelompok usia produktif, terutama remaja dan dewasa muda, menempati posisi paling rentan. Mereka kerap terjepit oleh tingginya tekanan akademik, tuntutan dunia kerja, hingga ekspektasi sosial yang rasanya tak pernah habis.

Kondisi ini makin diperparah oleh sejumlah faktor khas daerah, seperti ketimpangan akses layanan kesehatan mental dan rendahnya literasi masyarakat. Mirisnya lagi, stigma sosial masih mengakar kuat. Banyak orang yang masih menganggap masalah mental sebagai aib atau kelemahan pribadi, sehingga mereka lebih memilih bungkam ketimbang mencari pertolongan medis.

Bom Waktu di Era Digital dan Ekonomi Sulit

Menurut Ary, kesehatan mental dipengaruhi oleh jaring laba-laba faktor yang saling berkaitan. Kemampuan mengelola emosi memang penting, tetapi faktor eksternal—seperti lingkungan keluarga, kondisi finansial, dan gempuran media sosial—juga memegang kendali besar.

Di era digital saat ini, paparan informasi yang tanpa filter sering kali menjadi "bom waktu" psikologis.

"Perbandingan sosial yang tidak sehat, cyberbullying, serta tuntutan untuk selalu tampil ‘sempurna’ di media sosial menjadi pemicu meningkatnya kecemasan dan depresi, khususnya di kalangan generasi muda," tambah Ary menjelaskan.

Di samping itu, ketidakpastian ekonomi tak bisa diabaikan. Kondisi dompet yang tidak stabil rentan memicu stres berkepanjangan yang perlahan menggerogoti mental jika dibiarkan tanpa penanganan.

Strategi Pencegahan Harus Diutamakan

Sebagai pakar promosi kesehatan, Ary menekankan bahwa solusi masalah ini tak bisa melulu mengandalkan obat atau ruang terapi. Intervensi harus digeser ke arah promotif dan preventif.

Berikut adalah beberapa langkah krusial yang ia nilai efektif untuk menekan angka gangguan mental:

Edukasi Sejak Dini: Memasukkan literasi kesehatan mental di sekolah dan perguruan tinggi.

Kampanye Anti-Stigma: Melakukan sosialisasi publik berbasis komunitas untuk menghapus stigma negatif.

Ruang Digital Positif: Mengoptimalkan media sosial sebagai sarana edukasi, bukan sekadar pamer eksistensi.

Penguatan Keluarga: Mengembalikan peran keluarga sebagai support system (sistem dukungan) pertama dan utama.

Akses Layanan Terintegrasi: Memperkuat dan mempermudah layanan psikologis di fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas).

Pendekatan menyeluruh ini diharapkan mampu mencetak masyarakat Jambi yang lebih peka dan saling merangkul. Menjaga kewarasan sejatinya bukan hanya tugas dokter atau psikolog, tetapi tanggung jawab semua pihak.

Langkah sesederhana menjaga pola hidup sehat, berani bercerita, dan tak ragu mencari bantuan profesional adalah kunci awal. Dengan sinergi yang baik antara pemerintah, akademisi, dan warga, Jambi diharapkan tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga diisi oleh masyarakat yang tangguh secara psikologis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....