Edukasi dan Peran Keluarga dalam Mengatasi Stunting

  • 22 Apr 2026 10:07 WIB
  •  Jambi

RRI.co.id, Jambi - Permasalahan stunting masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Kondisi ini mencerminkan adanya gangguan pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi dalam jangka panjang, terutama pada periode penting 1.000 hari pertama kehidupan.

Mengacu pada laporan World Health Organization, stunting menjadi salah satu indikator utama dalam menilai kualitas gizi dan kesejahteraan anak. Sementara itu di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi stunting masih menjadi perhatian, meskipun menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Akademisi dan praktisi pendidikan kesehatan dari Poltekkes Kemenkes Jambi jurusan Promosi Kesehatan, Ary Irfan, S.Pd., M.Kes, menegaskan bahwa stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak.

“Stunting berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami hambatan perkembangan kognitif, kesulitan belajar, hingga penurunan produktivitas saat dewasa,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa penyebab stunting bersifat multidimensi, meliputi kurangnya asupan gizi, pola asuh yang belum optimal, hingga kondisi lingkungan yang kurang sehat. Oleh karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan.

Pemenuhan gizi sejak masa kehamilan menjadi langkah awal yang sangat penting. Ibu hamil perlu memastikan asupan nutrisi yang cukup, termasuk protein, zat besi, dan asam folat. Setelah kelahiran, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan dan dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI yang bergizi seimbang menjadi kunci dalam mendukung pertumbuhan optimal anak.

Selain faktor gizi, aspek sanitasi dan kebersihan lingkungan juga berperan besar. Anak yang sering mengalami infeksi, seperti diare atau infeksi saluran pernapasan, cenderung mengalami gangguan penyerapan nutrisi yang dapat berujung pada stunting.

Pemerintah terus mengintensifkan berbagai program percepatan penurunan stunting melalui edukasi gizi, peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak, serta intervensi berbasis masyarakat. Namun demikian, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat.

Ary Irfan menekankan bahwa edukasi kesehatan harus diperkuat hingga ke tingkat keluarga.

“Peran orang tua sangat menentukan. Kesadaran untuk rutin memantau tumbuh kembang anak serta memastikan asupan gizi yang cukup merupakan langkah sederhana namun berdampak besar,” jelasnya.

Sebagai praktisi pendidikan kesehatan, ia juga mengajak mahasiswa, tenaga kesehatan, dan insan media untuk turut berperan aktif dalam menyebarkan informasi yang benar dan mudah dipahami. Menurutnya, media memiliki kekuatan besar dalam membangun kesadaran publik terhadap pentingnya pencegahan stunting.

Artikel ini turut disusun dengan kontribusi mahasiswa, yaitu Latifa Fahira, yang berperan dalam penguatan informasi dan penyusunan materi edukasi kesehatan.

Stunting bukan hanya persoalan kesehatan individu, tetapi juga menyangkut masa depan bangsa. Dengan sinergi antara pemerintah, akademisi, tenaga kesehatan, media, dan masyarakat, upaya pencegahan stunting diharapkan dapat berjalan lebih efektif demi mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....