Perempuan Masa Kini harus Mampu Menjadi Pemimpin Diri Sendiri
- 21 Apr 2026 11:35 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID,Jambi - Aktivis perempuan asal Jambi, Wenni Ira Reverawati, menegaskan pentingnya perempuan masa kini menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri di tengah derasnya perkembangan digital dan dinamika sosial.
Menurut Wenni yang juga sebagai pengajar di salah satu Perguruan Tinggi di kota Jambi ini menerangkan, kepemimpinan perempuan tidak dimaknai sebagai kompetisi dengan laki-laki, melainkan kemampuan mengambil keputusan terbaik bagi diri sendiri, keluarga, hingga bidang pekerjaan.
“Perempuan hari ini harus adaptif di ruang publik dan memiliki berbagai keahlian. Ketika dia mampu memimpin dirinya sendiri, maka langkah dan perjuangannya akan lebih mudah,” ujarnya dalam dialog interaktif di RRI, Selasa, 21 April 2026.
Ia juga menyoroti semangat Kartini belum sepenuhnya tercapai. Hingga kini, masih banyak perempuan yang belum memiliki akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesempatan ekonomi.
“Kita masih bergelut dengan perempuan yang putus sekolah dan tidak memiliki akses pendidikan. Selain itu, ada persoalan kesehatan, kesempatan ekonomi, dan keberdayaan yang harus diperjuangkan bersama,” kata Wenni.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran perempuan yang memiliki privilese untuk turut mengangkat kelompok rentan, terutama perempuan di wilayah pedesaan, pinggiran kota, hingga komunitas adat.
“Perempuan rentan masih banyak, baik di daerah miskin, pedesaan, maupun komunitas adat. Isu inklusi dan perubahan iklim, terutama bagi perempuan di wilayah kepulauan, juga perlu kita suarakan,” jelasnya.
Di sisi lain, Wenni mengapresiasi munculnya berbagai komunitas perempuan di Jambi yang bergerak di berbagai isu, mulai dari penguatan kapasitas perempuan, penanganan kekerasan seksual, hingga krisis iklim. Ia menilai kolaborasi dan penguatan jaringan menjadi kunci untuk memperluas dampak gerakan.
Dalam konteks digital, Wenni mengingatkan bahwa kemajuan teknologi juga membawa tantangan baru, salah satunya meningkatnya kasus kekerasan digital terhadap perempuan. Ia menyebut fenomena ini sebagai transformasi dari kekerasan di dunia nyata.
“Kekerasan digital adalah pisau bermata dua. Banyak perempuan tidak sadar bahwa mereka menjadi korban, bahkan yang berpendidikan tinggi sekalipun bisa terjebak dalam penipuan seperti love scam atau pelecehan melalui pesan digital,” ungkapnya.
Ia mendorong peningkatan kesadaran serta dukungan dari negara dan lembaga layanan untuk menangani kasus-kasus tersebut. Wenni juga mengajak perempuan untuk berani bersuara dan tidak takut melaporkan kekerasan yang dialami.
“Sekarang sudah banyak lembaga layanan. Jangan takut untuk bersuara, selama itu untuk melawan ketidakadilan,” tegasnya.
Terkait kesetaraan gender, Wenni menilai kondisi di Indonesia telah mengalami kemajuan, terutama di wilayah perkotaan dan generasi muda. Namun, tantangan masih ada, terutama dalam menghadapi budaya patriarki dan perbedaan konteks sosial-budaya di berbagai daerah.
“Kesetaraan bukan berarti sama, tetapi bagaimana perempuan mendapatkan akses, manfaat, partisipasi, dan kontrol. Kita juga harus melihat kearifan lokal agar pendekatannya relevan,” katanya.
Sebagai penutup, Wenni menggambarkan sosok Kartini masa kini sebagai perempuan yang mandiri dan berani bersuara, sekaligus mampu membantu perempuan lain yang kurang beruntung.
“Kartini masa kini adalah perempuan yang berani bersuara dan menggunakan privilese yang dimilikinya untuk menolong perempuan lain di sekitarnya,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....