Tips Mengajarkan Anak Puasa tanpa Tekanan

  • 11 Mar 2026 11:41 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi – Mengajarkan anak berpuasa sejak dini menjadi bagian penting dalam pendidikan agama di keluarga. Namun, tidak semua anak langsung mampu menjalankan puasa penuh hingga waktu berbuka. Dalam situasi seperti ini, orang tua diingatkan untuk tetap mengedepankan pendekatan yang penuh kasih sayang dan tidak memaksakan anak.

Hal tersebut disampaikan oleh Ustadz Muhammad Ilham, S.Ud., M.Ag dalam Podcast RRi Jambi. Ia menegaskan bahwa prinsip dasar dalam ajaran Islam adalah memudahkan, bukan memberatkan.

“Dalam Islam, prinsip utama ibadah itu tidak memberatkan apalagi membahayakan. Dalam hadis disebutkan innad-dina yusrun, sesungguhnya agama itu mempermudah,” jelasnya.

Menurutnya, ketika anak belum mampu berpuasa penuh hingga maghrib, orang tua sebaiknya tidak memaksakan. Justru, proses belajar itulah yang perlu dihargai. Puasa pada anak dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan mereka.

“Panduan Islam dalam mengajarkan puasa kepada anak adalah dengan kasih sayang dan bertahap,” ujar Ustadz Ilham.

Ia mencontohkan, apabila seorang anak hanya mampu berpuasa beberapa jam saja, orang tua tetap perlu memberikan apresiasi. Hal ini penting untuk membangun semangat anak dalam menjalankan ibadah.

“Jika anak sudah berusaha tapi belum sampai maghrib, itu tetap kita apresiasi. Jangan dipermalukan,” katanya.

Selain itu, ia juga mengingatkan agar orang tua tidak membandingkan anak dengan anak lain. Sikap tersebut justru dapat menurunkan rasa percaya diri anak dan membuat mereka kehilangan motivasi.

“Jangan dibanding-bandingkan dengan anak tetangga. Itu bisa membuat mental anak drop. Justru saat anak sedang berjuang, di situlah kita masuk memberi motivasi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ustadz Ilham menekankan bahwa tujuan utama puasa bukan hanya soal lamanya menahan lapar dan haus, tetapi juga proses pembentukan kesabaran dan kedekatan kepada Allah.

“Sesungguhnya puasa ini adalah jalan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Islam sangat menghargai proses. Yang kita bangun adalah semangatnya, bukan sekadar durasinya,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya konsistensi dalam mendidik anak. Dalam istilah agama, konsistensi ini dikenal dengan istilah istiqomah.

Al-istiqomatu khairun min alfi karamah. Istiqomah itu lebih baik daripada seribu karamah,” ungkapnya.

Karena itu, dalam mendidik anak berpuasa, orang tua diharapkan tidak hanya berfokus pada kuantitas ibadah, tetapi juga kualitas dan semangat anak dalam belajar menjalankan perintah agama.

Dengan pendekatan yang penuh dukungan dan apresiasi, anak akan lebih termotivasi untuk terus belajar berpuasa hingga akhirnya mampu menjalankannya secara penuh ketika telah siap.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....