Idul Fitri Saatnya Menjadikan Pribadi yang Lebih Baik

  • 30 Mar 2025 19:32 WIB
  •  Jambi

KBRN, Jambi : Alhamdulillah kita sudah berada di akhir Ramadhan dan akan menyambut 1 Syawal 1446 Hijriah. Pemerintah sudah mengumumkan bahwa idul fitri atau 1 Syawal jatuh pada 31 Maret 2025 yaitu besok Senin. Idul fitri adalah kembali berbuka setelah kita berpuasa satu bulan lamanya atau kembali ke keadaan yang bersih yang suci. Hal tersebut disampaikan Ustadz H. Muhammad Zaki, M. Ag dalam dialog Ramadhan di Pro. 1 RRI Jambi edisi Ahad (30/3/2025) yang merupakan hari terakhir di bulan Ramadhan 1446 Hijriah.

"Mudik adalah tradisi idul fitri yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Selain itu ada juga tradisi ketupat, dan kata lebaran yang bermakna rampung. Dalam bahasa Jawa 'lebaran' berasal dari kata lebar yang bermakna selesai. artinya sudah selesai melaksanakan ibadah puasa selama bulan Ramadhan," ujar Ustadz Zaki.

Kata lebaran juga memiliki makna lain, yaitu:

1. Lebaran bermakna, bahwa di hari raya kita perlu berlapang dada. Sifat lapang dada untuk memberikan maaf ataupun meminta maaf utamanya kepada sesama muslim.

2. Lebaran bermakna luberan, artinya meluber atau melimpah. Artinya melewati batas yang ditentukan. Luber dalam segala hal, seperti luber maafnya, luber rezekinya.

3. Lebaran juga bermakna laburan, dalam bahasa Jawa laburan artinya mengecat. Yang merupakan kebiasaan di Indonesia mengecat sering dilakukan untuk menyambut hari raya, mengecat rumah agar terlihat baru dan indah.

4. Lebaran bermakna leburan, dalam bahasa Jawa bermakna menyatukan. Diharapkan selepas bulan Ramadhan kita mampu meleburkan diri kepada sifat-sifat Alloh, misalnya menjadi pribadi yang sabar, pribadi muslim yang lebih baik.

5. Lebaran juga plesetan dari kata liburan, karena menjadi jadual atau tanggal merah yang merupakan hari libur nasional.

Idul fitri bukan hanya tentang berakhirnya ibadah puasa selama satu bulan Ramadhan, tapi juga tentang pembersihan diri. Bulan Ramadhan mengajarkan bagaimana kita belajar mengendalikan hawa nafsu, kesabaran dan kepedulian kepada sesama. Ketika Ramadhan berakhir, manusia kembali kepada fitrahnya, tak ubahnya bayi yang baru lahir. Namun, kesucian tidak akan tercapai tanpa pengakuan atas kesalahan dan keikhlasan untuk saling memaafkan. Dalam tradisi Islam, meminta maaf dan memberikan maaf memiliki yang tinggi.

Tradisi ketupat menjadi pengingat bahwa lebaran bukan hanya tentang kemenangan, melainkan juga tentang bersihnya hati kita dari rasa dendam dan kesalahan. Dalam bahasa Jawa, kupat merupakan akronim dari ngaku lepat, yang artinya mengakui kesalahan. Filosofi ini sejalan dengan tradisi sungkeman saat lebaran, dimana orang yang lebih muda akan sungkeman atau merendahkan diri dihadapan orang tua atau orang yang lebih tua, saudara dan kerabat untuk meminta maaf atas segala kesalahan.

Dalam filosofi Jawa, lebaran bukan hanya perayaan, tapi juga sebuah perjalanan spiritual kembali ke titik nol. Setelah sebulan penuh berpuasa, diharapkan kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sabar, lebih pemaaf dan lebih rendah hati. Tak ubahnya ketupat yang harus dibuka sebelum disantap, manusia juga harus membuka hatinya untuk menerima kebaikan dan melanjutkan hidup dengan hati yang bersih.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....